Varises Esofagus ; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Varises esofagus

Varises esofagus adalah pelebaran pembuluh darah vena terutama di bagian bawah esofagus. Pelebaran terjadi karena hambatan aliran darah menuju ke hati oleh hipertensi portal. Penyebabnya bisa dikarenakan sirosis hati, trombosis, infeksi parasit dan Sindrom Budd-Chiari

Mengenal varises esofagus

Varises esofagus adalah pelebaran pembuluh darah vena terutama di bagian bawah esofagus. Pelebaran terjadi karena hambatan aliran darah menuju ke hati oleh hipertensi portal.

Hipertensi portal adalah peningkatan tekanan aliran darah portal lebih dari 10 mmHg. Hipertensi portal sering disebabkan oleh jaringan parut pada hati sebagai komplikasi penyakit seperti sirosis hati. Bila varises esofagus pecah maka ini menjadi suatu keadaan berpotensi mengancam jiwa.

Epidemiologi

Varises esofagus paling sering pada bagian ujung esofagus. Kondisi ini muncul pada 30%-70% penderita sirosis hati. Laju perkembangan varises esofagus tiap tahun pada penderita sirosis berkisar 5%-8% tetapi hanya 1%-2% varises besar dan berisiko pecah. Sebanyak 4%-30% penderita dengan varises kecil akan berkembang menjadi varises besar tiap tahun dan meningkatkan risiko perdarahan.

Sekitar 70% varises yang telah pecah bisa berulang pecah dan satu pertiga dari ulangan ini lebih berbahaya. Risiko kematian sekitar 10%-20% pada 6 minggu pertama setelah varises pecah. Semakin berat sirosis hati risiko perdarahan ulang varises semakin besar pula.

Penyebab

Beberapa penyebab varises esofagus adalah sebagai berikut:

1. Sirosis hati

Salah satu komplikasi sirosis hati adalah varises esofagus. Sirosis hati adalah penyakit pembentukan jaringan parut di hati. Penyebabnya bisa berupa hepatitis B, hepatitis C, konsumsi alkohol dalam jumlah banyak, atau tersumbatnya saluran empedu.

2. Trombosis (Bekuan Darah)

Bekuan darah pada vena portal menyebabkan aliran darah ke hati diperlambat. Ini memaksa darah masuk ke vena yang lebih kecil di dekatnya seperti pada vena esofagus sehingga mengembung seperti balon berisi darah. Varises esofagus berdinding tipis bisa pecah dan menyebabkan perdarahan.

3. Infeksi parasit

Infeksi parasit skistosomiasis ditemukan di Afrika, Amerika Selatan, Karibia, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Parasit ini menembus kulit menuju sistem vena ke vena portal. Setelah itu parasit berkembangbiak dan menyebabkan kerusakan hati, paru-paru, usus, dan kandung kemih.

4. Sindrom Budd-Chiari

Ini adalah penyebab jarang dari varises. Sindrom Budd-Chiari menimbulkan penggumpalan darah yang bisa menyumbat aliran darah yang keluar dari hati.

Gejala

Gejala varises esofagus bisa dikatakan tidak ada disamping penyakit dasar yang diderita seperti penyakit hati kronis.

Gejala penyakit hati kronis seperti: kelemahan, mual muntah, penurunan berat badan, rasa tidak nyaman pada perut, kulit berwarna kuning, buang air kemih berwarna gelap, pembengkakan perut, gatal-gatal, mudah memar, gangguan pada otak, disfungsi seksual.

Gejala varises esofagus timbul setelah terjadi perdarahan. Perdarahan biasanya berat dan bisa mengancam jiwa jika tanpa perawatan segera. Gejalanya dapat berupa:

  • Muntah darah
  • Buang air besar berwarna hitam
  • Pusing ketika berdiri setelah berbaring.

Diagnosis

Varises esofagus yang belum pecah biasanya tidak ada gejala selain penyakit yang mendasarinya. Oleh karena itu, seseorang dengan sirosis hati sebaiknya dilakukan juga pemeriksaan esofagogastroduodenoskopi (EGD) sebagai standar baku emas menentukan ada tidaknya varises esofagus.

Akan tetapi, dari segi biaya esofagogastroduodenoskopi (EGD) masih belum ekonomis sehingga pada keadaan tertentu dapat menggunakan hal lain seperti jumlah trombosit, ukuran limpa, dan diameter vena porta

Apabila esofagogastroduodenoskopi (EGD) tidak tersedia atau tidak dapat dilakukan maka dapat dilakukan ultrasonografi Doppler, pemeriksaan radiografi dengan menelan barium, angiografi vena porta, dan manometri.

Seseorang yang diduga telah terjadi perdarahan varises esofagus perlu dilakukan pemeriksaan esofagogastroduodenoskopi (EGD) sesegera mungkin setelah masuk rumah sakit bersamaan dengan upaya menstabilkan kondisinya.

Penanganan

Berikut adalah pilihan terapi untuk varises esofagus maupun perdarahan varises esofagus:

1. Obat-obatan

Golongan obat-obatan yang dapat dipakai seperti:

  • Vasokonstriktor (vasopresin, somatostatin, non-cardioselective beta-blocker)
  • Venodilator (nitrat)
  • Kombinasi vasokonstriktor dan venodilator.

2. Endoskopi

  • Endoscopic variceal ligation (EVL) atau Sclerotherapy
  • Transjugular Intrahepatic Portosystemic Shunt(TIPS).

Obat-obatan tersebut menurunkan tekanan portal dengan menurunkan aliran darah portal. Efeknya terhadap pengurangan jumlah perdarahan sehingga memudahkan jika akan dilakukan endoskopi selanjutnya. Penggunaan balon untuk menghentikan perdarahan semakin berkurang akibat risiko perdarahan ulang. Ini hanya dipakai untuk membantu menstabilkan penderita sebelum dilakukan esofagogastroduodenoskopi dan/atau transjugular intrahepatic portosystemic shunt (TIPS) selanjutnya.

Terapi endoskopi pada perdarahan varises terutama untuk menghentikan perdarahan. Hasilnya juga dapat digunakan untuk memprediksi risiko perdarahan ulang. Endoskopi dapat dilakukan pada pasien varises esofagus sebelum perdarahan pertama terjadi, saat perdarahan berlangsung, dan setelah perdarahan pertama terjadi.

Transjugular Intrahepatic Portosystemic Shunt (TIPS) adalah cara menurunkan tekanan aliran porta dengan memotong aliran melalui hati. Ini dilakukan sebagai langkah terakhir pada perdarahan yang gagal dengan obat-obatan maupun terapi endoskopi. Dengan banyaknya pilihan terapi maka seseorang dengan varises esofagus sebaiknya  melakukan konsultasi dengan dokter untuk menentukan pilihan penanganan terbaik untuk mencapai hasil yang optimal.

Semoga bermanfaat!

 

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.

 

WK/JJ/MA

Referensi