Uretritis ; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Uretritis

Uretritis merupakan peradangan yang terjadi akibat infeksi pada uretra. Penyebab utama penyakit ini adalah infeksi menular seksual, baik itu gonore ataupun non-gonore. Penanganan mengacu pada penyebabnya yaitu bakteri, sehingga obat-obatan yang diberikan  ialah antibiotik.

 

Mengenal Uretritis

Uretritis merupakan peradangan yang terjadi akibat infeksi pada uretra. Berdasarkan penyebabnya, uretritis terbagi menjadi uretritis gonore dan uretritis non-gonore.

Kejadian penyakit ini di dunia dapat mencapai 62 juta kasus baru untuk uretritis gonore serta 89 juta kasus baru untuk uretritis non-gonore setiap tahunnya. Selain itu, wanita dengan penyakit ini, perkembangan nya dapat menjadi Pelvic Inflammatory Disease  (PID) pada 10-40% kasus. Kondisi PID ini pada wanita dapat menyebabkan infertilitas atau meningkatkan risiko kejadian kehamilan ektopik.

Penyebab

Penyebab utamanya adalah infeksi menular seksual, baik itu gonore ataupun non-gonore. Beberapa bakteri yang biasanya menjadi penyebabnya adalah Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum, Mycoplasma hominis, Mycoplasma genitalum, atau Trichomonas vaginalis. Selain itu, pada 2-20% pasien dengan kateter dapat terjadi uretritis post-traumatik.

Gejala

Pasien dengan uretritis non-gonore biasanya tidak mengalami gejala (25%), sedangkan dengan infeksi Chlamydia trachomatis sebanyak 75% pun tidak mengalami gejala. Pada ko yang mengalami gejala, hal yang biasa ditemui ialah sebagai berikut:

  • Duh uretra: dapat berwarna kekuningan, hijau, coklat, atau bercampur darah bergantung dari penyebab uretritis.
  • Disuria (pada laki-laki)
  • Gatal;
  • Orchalgia (nyeri pada skrotum)
  • Nyeri memberat selama menstruasi
  • Gejala sistemik seperti demam, menggigil, berkeringat, dan mual.
Diagnosis

Penegakkan diagnosis dilakukan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang.

Pada pasien laki-laki beberapa hal harus diperiksa, yaitu meliputi inspeksi sekret yang ada pada celana dalam (apakah ada duh uretra atau tidak), pemeriksaan penis (lesi kulit seperti pada infeksi menular seksual, serta ada atau tidaknya eksudat), uretra (memeriksa meatus uretra, ada atau tidaknya bengkak, massa, abses), testis (ada atau tidaknya massa atau inflamasi, palpasi korda untuk mencari ada/tidak nya pembengkakan atau suhu yang lebih panas), kelenjar limfa inguinal, prostat, serta pemeriksaan rektum.

Pada pasien wanita, pemeriksaan dilakukan dengan posisi litotomi. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan kulit (untuk mencari lesi kulit yang berhubungan dengan infeksi menular seksual), uretra (duh uretra), serta pemeriksaan pelvis.

Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk penegakan diagnosis  meliputi:

  1. Pewarnaan gram (dari duh uretra)
  2. Kultur dari endouretra atau endoserviks (untuk N.gonorrhea dan C. trachomatis)
  3. Urinalisis (untuk mengeksklusi bahwa gejala yang dialami bukan karena infeksi saluran kemih (seperti sistitis atau pielonefritis)
  4. Preparat KOH (bila dicurigai infeksi jamur)
  5. Pemeriksaan serologi (termasuk juga tes untuk infeksi menular seksual seperti sifilis)
  6. Swab nasofaring dan/atau rektal (untuk skrining gonore pada pasien laki-laki).
Komplikasi

Pada wanita, penyakit ini dapat menyebabkan terjadinya Pelvic Inflammatory Disease. Pada wanita hamil yang mengalami uretritis yang disebabkan oleh Chlamydia, bayinya dapat mengalami konjungtivitis, iritis, otitis media, atau pneumonia (akibat penyebaran bakteri lewat jalan lahir). Oleh karena itu, pada wanita hamil yang diketahui terinfeksi Chlamydia dianjurkan untuk operasi caesar serta dilakukan pengananan khusus bagi bayi yang baru dilahirkan. Pada kasus yang jarang, penyakit ini juga dapat berkembang menjadi uveitis anterior, arthritis, disseminated gonococcal infection yang meliputi arthritis, meningitis, dan endokarditis.

Pada laki-laki, kejadian komplikasi lebih rendah (1-2%), terutama menyebabkan striktur uretra atau stenosis akibat terbentuknya jaringan ikat pasca inflamasi. Komplikasi lain yang dapat terjadi meliputi prostatitis, epididimitis akut, abses, proktitis, infertilitas, serta abnormalitas semen.

Penanganan

Penanganan uretritis mengacu pada penyebabnya yaitu bakteri, sehingga obat-obatan yang diberikan  ialah antibiotik. Antibiotik yang digunakan harus mencakup bakteri gonore ataupun non-gonore. Antibitoik yang dapat diberikan pada pasien dengan penyakit ini ialah seperti azitromisin, seftriakson, sefiksim, siprofloksasin, ofloksasin, doksisiklin, atau moksifloksasin.

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), tatalaksana yang direkomendasikan pada uretritis non-gonorrhea ialah azitromisisn 1g oral single dose atau doksisiklin 100 mg per oral 2x sehari selama 7 hari. Selain itu, regimen lain yang dapat digunakan ialah sebagai berikut:

  • Eritromisin 500 mg, 4x sehari selama 7 hari
  • Levofloksasin 200 mg, per oral, 1x sehari selama 7 hari
  • Ofloksasin, 200 mg per oral, 2xsehari selama 7 hari.

Pada uretritis gonore tanpa komplikasi, tatalaksana obat-obatan yang direkomendasikan ialah ceftriaxon 250 mg IM single dose dan azitromisin 1 gram per oral. Apabila tidak ada ceftriaxon, alternatif pengobatan lain ialah cefixime 400 mg single dose. Oleh karena tingginya angka resistensi, WHO tidak merekomendasikan golongan kuinolon untuk terapi gonorea. Terapi gonorea pun harus disesuaikan dengan pola resistensi lokal.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Konsultasi kesehatan kini bisa langsung lewat gadget Anda. Download aplikasi Go Dok di sini.

PJ/MA

Referensi