Ulkus Peptikum; Penyebab, Gejala, dan Penanganan

Ulkus Peptikum

Ulkus peptikum atau luka pada lambung merupakan penyakit yang menyerang fungsi pencernaan akibat perubahan keseimbangan pH atau kadar asam lambung yang meningkat. Seseorang yang menderita penyakit ini biasanya mengeluhkan rasa nyeri pada uluhati hingga muntah dan feses berwarna merah kehitaman.

Mengenal ulkus peptikum   

Ulkus peptikum adalah penyakit saluran cerna dimana terjadi kerusakan dari keutuhan dinding organ lambung, usus halus, dan juga saluran kerongkongan yang berfungsi sebagai penyalur makanan dan pengolahan bahan makanan. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan keseimbangan pH atau tingkat keasaman lambung yang meningkat serta menurunnya mekanisme perlindungan dari kadar asam yang tinggi tersebut.

Pada sebagian besar kasus, keluhan  dan gejala yang dirasakan pasien sudah berada pada tahap lanjut dan menyebabkan komplikasi sehingga memerlukan penanganan yang cukup lama hingga memasuki proses penyembuhan. Ada beberapa penyebab munculnya penyakit ini, tetapi 90% penyakit ini disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori di lambung. Semakin maju suatu negara maka angka munculnya kejadian penyakit ini semakin menurun.

Bila ditinjau dari jenis kelamin, kaum pria lebih banyak menderita penyakit ini bila dibandingkan dengan wanita. Sedangkan bila ditinjau dari usia, kasus ulkus peptikum (perlukaan di lambung) banyak terjadi pada kisaran usia 55-65 tahun; untuk perlukaan di usus halus di dominasi pada usia 25-75 tahun.

Penyebab dan Faktor Risiko

Ulkus peptikum merupakan penyakit yang diakibatkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori pada lambung yang melemahkan perlindungan organ lambung, usus halus, dan kerongkongan terhadap zat asam. Pada negara berkembang, kasus penyakit ini tergolong tinggi karena disebabkan oleh fakotr sanitasi yang masih jauh tertinggal dibandingkan negara maju. Selain itu, di negara berkembang angka kejadian penggunaan antibiotik yang tidak tepat juga turut mendukung peningkatan timbulnya penyakit ini.

Dewasa ini, penggunaan obat-obat sangat bebas dan tidak dapat terbendung lagi. Padahal penggunaan obat tertentu, seperti obat anti inflamasi nonsteroid (NSAIDs) berupa aspirin, ibuprofen, naproxen, indometasin, salsalat bisa menjadi faktor seseorang terkena ulkus peptikum. Selain itu, penggunaan obat untuk peradangan sendi juga dapat dengan mudah menyebabkan ulkus peptikum.

Gejala

Gejala dari ulkus peptikum sangat beragam, terkadang dapat terjadi tanpa gejala yang khas dan terkadang tumpang tindih dengan gejala penyakit yang lainnya. Berikut ini adalah contoh gejala yang di tunjukan oleh penderita ulkus peptikum, yaitu nyeri dan terasa panas pada bagian uluhati, cepat merasa kenyang, mual, dan muntah.

Pada pasien yang mengalami kerusakan pada lambung, akan terjadi rasa sakit yang muncul pada perut atas sebelah kiri dan biasanya rasa nyeri tersebut dirasakan setelah mengkonsumsi makanan.

Berbeda  halnya jika yang terjadi adalah kerusakan di usus halus, rasa sakit akan muncul saat pasien merasa lapar, rasa sakit ini dapat membangunkan pasien pada tengah malam, dan akan hilang setelah mengkonsumsi makan atau  minum obat antasida. Penyakit ini cenderung berbahaya dengan komplikasi berupa muntah darah merah kehitaman dan dapat pula buang air besar yang berwarna merah kehitaman.

Diagnosis

Pada wawancara medis (anamnesis) umumnya pasien mengelukan nyeri pada bagian ulu hati, terasa panas dan pedih di uluhati, cepat merasa kenyang, mual dan muntah, serta berat badan menurun. sakit pada perut atas sebelah kiri biasanya dirasakan setelah mengkonsumsi makan, atau rasa sakit muncul saat lapar –hal ini dapat membangunkan penderita pada tengah malam, dan hilang setelah mengkonsumsi makanan.

Pada pemeriksaan fisik umumnya hasil pemeriksaan normal namun bisa juga ditemukan nyeri tekan di bagian ulu hati dan timbul rasa mual saat di lakukan penekanan tersebut.

Diagnosis ditentukan berdasarkan pemeriksaan teropong lambung (endoskopi) serta pemeriksaan jaringan yang di lihat dibawah mikroskop nantinya. Terdapat pula pemeriksaan khusus dan spesifik untuk mengetahui adanya infeksi Helicobacter pylori, yaitu dengan pemeriksaan urea breath test. Tes ini berfungsi untuk mengetahui adanya zat urea dari dalam lambung yang merupakan zat sisa dari meatbolisme bakteri Helicobacter pylori.

Penanganan

Pengobatan ulkus peptikum akibat infeksi Helicobacter pylori bertujuan untuk menghilangkan bakteri tersebut. Umumnya digunakan pengobatan dengan pemberian antibiotika golongan klaritomisin, amoksisilin, metronidazole, dan tertrasiklin yang di kombinasikan dengan obat golongan PPI (Proton Pump Inhibitor) -yang bertanggung jawab dalam keasaman lambung berupa omeprazole, lanzoprazole, pantoprazole, rabeprazole, ezomeprazole, dll. Bila kombinasi tersebut masih gagal dalam mengatasi keluhan maka dapat ditambahkan golongan bismuth.

Selain obat-obatan, perlu juga pemberian pola makan yang sesuai, yaitu tidak terlalu asam dan banyak mengandung gas, menghindari kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan  penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid secara tidak bijaksana.

Komplikasi

Karena infeksi ini berjalan sangat lambat dan pertahanan tubuh masih baik, maka umumnya penderita tidak terlalu menghiraukan adanya keluhan. Tetapi jika terus dibiarkan kerusakan di dalam lambung, usus halus, dan kerongkongan akan terus berjalan.

Apabila pada suatu saat dimana sudah banyak lokasi yang terkana infeksi, maka kerusakan di bagian dalam sudah tidak dapat di toleransi lagi dan dapat menyebabkan perdarahan, anemia gangguan fungsi jantung serta kanker.

Prognosis
  • Ulkus peptikum cenderung akan mengalami kekambuhan jika tidak ditangani.
  • Jika ditangani dengan baik, infeksi pylori bisa sembuh dan ulkus biasanya tidak muncul kembali.

 

Baca juga:

 

Jangan ragu untuk selalu gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk berkonsultasi dengan dokter online yang siap siaga 7×24 jam. Segera download aplikasi kesehatan Go Dok di sini.

 

HW/PJ/TP

Referensi