Transient Ischemic Attack (TIA) ; Gejala-Penanganan

Transient Ischemic Attack 

 

 

Transient Ischemic Attack (TIA) merupakan sebuah kondisi dimana aliran darah ke otak terputus untuk waktu yang singkat dan umumnya disebut ministroke. TIA biasanya terjadi karena gumpalan darah tersangkut di arteri yang memasok darah ke otak.

 

Mengenal Transient Ischemic Attack (TIA)

Transient Ischemic Attack (TIA) merupakan sebuah kondisi dimana aliran darah ke otak terputus untuk waktu yang singkat dan umumnya disebut ministroke. Berbagai kejadian atau kondisi dapat menyebabkan otak kekurangan oksigen. Gejala TIA serupa dengan stroke, tetapi tidak bertahan dalam waktu yang lama.

Diperkirakan hingga 500.000 orang di Amerika Serikat mengalami TIA setiap tahun. Karena gejalanya menghilang dengan cepat, kebanyakan pasien tidak mencari bantuan medis. Namun, antara 10-15% pasien TIA mengalami stroke dalam 3 bulan mendatang. Inilah sebabnya mengapa mengenali tanda-tanda TIA dan mencari pertolongan medis adalah hal yang penting.

Perawatan yang cepat sangat penting untuk meminimalkan komplikasi dari TIA. Tujuan pengobatan TIA adalah untuk mencegah kejadian lebih lanjut.

Penyebab

Transient Ischemic Attack (TIA) biasanya terjadi karena gumpalan darah tersangkut di arteri yang memasok darah ke otak. Tanpa aliran darah yang lancar, otak akan kekurangan oksigen dan tidak bisa berfungsi seperti biasanya.

Gumpalan terbentuk ketika seseorang memiliki penumpukan zat berlemak dan lemak inilah yang disebut sebagai plak. Plak dapat terbentuk di mana saja di tubuh dan ikut aliran darah sampai tersangkut di suatu tempat. Jika plak tersebut tersangkut pada arteri yang masuk ke otak, maka seseorang akan mengalami TIA. Seseorang juga bisa menderita TIA jika begitu banyak plak menumpuk di arteri sehingga menyumbat aliran darah ke otak.

Faktor Risiko

Faktor risiko Transient Ischemic Attack (TIA) dapat dibagi menjadi faktor yang bisa diubah maupun tidak dapat diubah.

Faktor risiko yang tidak dapat diubah:

1. Riwayat keluarga
Risiko seseorang mengalami TIA mungkin lebih besar jika salah satu anggota keluarganya memiliki TIA atau stroke.

2. Usia
Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 55 tahun.

3. Jenis Kelamin
Pria memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami TIA dan stroke, tetapi lebih dari separuh kematian akibat stroke terjadi pada wanita.

4. Serangan TIA sebelumnya
Jika seseorang sudah pernah mengalami satu atau lebih TIA, maka orang tersebut 10 kali lipat lebih mungkin mengalami stroke.

5. Penyakit sel sabit
Pada penderita penyakit anemia sel sabit, stroke adalah komplikasi yang sering terjadi.

6. Ras
Orang kulit hitam berisiko lebih besar mengalami kematian akibat stroke, sebagian karena tingginya prevalensi tekanan darah tinggi dan diabetes di kalangan orang kulit hitam.

Faktor risiko yang dapat diubah dapat meliputi kondisi kesehatan dan gaya hidup:

1. Kondisi kesehatan

  • Tekanan darah tinggi
  • Kolesterol tinggi
  • Penyakit kardiovaskular (Termasuk cacat jantung, infeksi jantung, gagal jantung, atau irama jantung yang tidak normal)
  • Penyakit arteri karotis
  • Penyakit arteri perifer (PAD)
  • Diabetes
  • Kadar homocysteine yang tinggi
  • Obesitas.

2. Gaya hidup

  • Merokok
  • Kurang olahraga
  • Diet tinggi lemak dan garam
  • Minum minuman keras
  • Penggunaan obat-obatan terlarang.
  • Penggunaan pil KB.
Gejala

Orang dengan Transient Ischemic Attack (TIA) mengalami berbagai gejala, tergantung pada bagian otak mana yang diserang.

Tanda dan gejala TIA dapat disingkat menjadi FAST (Face, Arms, Speech, Time):

1. Face (wajah)
Wajah tampak lemah di satu sisi karena beberapa otot wajah menjadi lumpuh. Mata atau mulut terkulai, dan mungkin tidak dapat tersenyum dengan benar.

2. Arms (lengan)
Lengan lemah atau mati rasa sehingga membuat seseorang sulit mengangkat kedua lengannya.

3. Speech (bicara)
Bicaranya terdengar cadel dan tidak jelas

4. Time (waktu)
Jika satu dari gejala-gejala tersebut di atas terjadi, sudah waktunya untuk menghubungi layanan darurat.

Tanda dan gejala lain dari TIA:

  • Pusing
  • Sulit berbicara
  • Sulit memahami apa yang dibicarakan orang lain
  • Sulit menelan
  • Nyeri kepala berat
  • Lumpuh, mati rasa, atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh
  • Pada kasus yang parah dapat terjadi kehilangan kesadaran.
Diagnosis

Untuk membantu menentukan penyebab TIA Anda dan menilai risiko stroke, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut:

  • Pemeriksaan fisik dan tes. Dokter Anda mungkin memeriksa faktor-faktor risiko stroke, termasuk tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, diabetes, dan kadar asam amino homocysteine yang tinggi.
  • Ultrasonografi karotis. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari penyempitan atau pembekuan di arteri karotid.
  • Computerized Tomography (CT) Scan kepala
  • Computerized tomography angiography (CTA) scanning.
  • Magnetic resonance imaging (MRI).
  • Magnetic resonance angiography (MRA).
  • Echocardiography
  • Arteriografi.
Penanganan

Penanganan akan tergantung pada penyebab Transient Ischemic Attack (TIA). Dokter akan meresepkan obat yang menurunkan risiko penggumpalan darah, atau merekomendasikan operasi atau angioplasti.

1. Obat TIA

Jenis obat yang diresepkan akan tergantung pada apa yang menyebabkan TIA, seberapa parahnya itu, dan bagian otak mana yang terpengaruh.

  • Obat anti-trombosit: obat ini bekerja untuk mencegah trombosit dalam darah untuk menempel dan membentuk gumpalan sehingga dapat menghalangi aliran darah. Obat anti-trombosit termasuk aspirin, clopidrogel
  • Antikoagulan (warfarin)
  • Obat anti hipertensi
  • Obat anti kolesterol.

2. Operasi

Operasi yang disebut Carotid endarterectomy bertujuan untuk membuang bagian dari lapisan arteri karotis yang rusak, serta sumbatan apa pun yang terakumulasi dalam arteri.

Selain melakukan pengobatan, pasien TIA juga wajib melakukan perubahan gaya hidup. Perubahan gaya hidup mungkin diperlukan untuk mengurangi risiko serangan atau stroke di masa depan. Obat-obatan dan intervensi medis lainnya tidak akan cukup.

Perubahan gaya hidup ini termasuk:

  • Berolahraga
  • Menurunkan berat badan
  • Konsumsi lebih banyak buah dan sayuran
  • Mengurangi asupan makanan yang digoreng atau bergula
  • Cukup tidur
  • Mengendalikan stres
  • Mengendalikan kondisi medis yang mendasari, termasuk diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi.
Komplikasi

Berdasarkan penelitian, sebanyak 24-29% pasien yang pernah mengalami TIA akan mengalami stroke dalam 5 tahun setelah serangan TIA. Selain itu, pasien dengan TIA atau stroke memiliki peningkatan risiko penyakit arteri koroner.

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.

AQ/PJ/MA

Referensi