Tes Skrining Untuk Kehamilan Berisiko Tinggi. Benarkah?

Tes skrining

Tes skrining merupakan serangkaian tes yang umum dilakukan oleh ibu hamil selama mengandung si calon buah hati. Tujuannya adalah untuk memastikan kesehatan janin dan ibu hamil, serta mendeteksi adanya penyakit atau kondisi kesehatan lain yang mungkin memerlukan penanganan sejak dini.

 

Go DokTes skrining merupakan serangkaian tes yang umum dilakukan oleh ibu hamil selama mengandung si calon buah hati. Tujuannya adalah untuk memastikan kesehatan janin dan ibu hamil, serta mendeteksi adanya penyakit atau kondisi kesehatan lain yang mungkin memerlukan penanganan sejak dini. Tes skrining yang umum dan wajib dilakukan oleh ibu hamil termasuk tes HIV, Hepatitis, Anemia, dan Diabetes. Namun, bagi Anda yang memiliki kehamilan berisiko tinggi, tentu ada tes skrining tersendiri yang wajib Anda lakukan. Apa sajakah tes tersebut?

Mari simak penjelasan lengkap tes skrining untuk kehamilan berikut ini!

Memahami kehamilan berisiko tinggi

Anda dikatakan memiliki kehamilan yang berisiko tinggi, jika :

  • Berusia di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun
  • Pernah melahirkan bayi prematur atau bayi dengan cacat kelahiran
  • Memiliki kelainan genetis yang menurun di keluarga
  • Menderita diabetes, tekanan darah tinggi, atau gangguan autoimun, seperti penyakit Lupus
  • Pernah mengalami keguguran
  • Pernah menderita diabetes gestasional atau pre-eklampsia di kehamilan sebelumnya.

Nah, jika Anda merasa memiliki ciri-ciri di atas, maka Anda dianjurkan menjalani serangkaian Tes genetik Prenatal yang direkomendasikan oleh dokter. Tes-tes tersebut diperlukan agar dokter bisa mengamati tanda-tanda adanya kelainan genetis maupun risiko cacat lahir pada si jabang bayi.

Berikut adalah Tes Genetik Prenatal yang dimaksud :

1. Tes Carrier

Tes carrier dilakukan oleh dokter untuk menguji gen dari Anda dan pasangan yang mungkin bisa menyebabkan suatu jenis penyakit genetis, seperti sickle cell disease, cystic fibrosis, dan lain-lain. Jika salah satu dari Anda, atau keduanya memiliki penyakit ini, maka bisa saja penyakit ini diturunkan kepada si calon buah hati. Nah, jika terdeteksi sejak awal, ada kemungkinan dokter bisa menanggulanginya sebelum terlambat.

2. Skrining Terintegrasi

Tes skrining ini merupakan suatu rangkaian skrining yang terdiri dari dua tahap. Tahap yang pertama dilakukan saat usia kandungan Anda memasuki minggu ke 11 – 14, di mana dokter akan melakukan tes ultrasound untuk mengamati bagian leher janin Anda, serta tes darah.

Kemudian, dokter akan menggabungkan kedua hasil tes ini. Pada tahap kedua, dokter akan kembali mengambil sampel darah Anda saat usia kandungan memasuki minggu ke 16 – 18. Hasil dari pengamatan dua tahap ini akan menjadi tolak ukur dokter akan risiko bayi Anda terkena Down Syndrome dan spina bifida (suatu kelainan pada otak dan saraf tulang belakang).

3. Skrining Sekuensial

Tes skrining ini cukup mirip dengan skrining terintegrasi yang dijelaskan sebelumnya. Hanya saja, pada tes ini dokter akan segera melakukan review terhadap hasil tes pada tahap pertama (saat usia kehamilan 11 – 14 minggu). Biasanya, hal ini dilakukan jika dokter sudah bisa mendeteksi adanya masalah melalui hasil tes darah dan ultrasound, sehingga merasa tak perlu untuk tes tahap kedua.

4. Skrining tripledan quadruple

Sesuai namanya, tes skrining triple dan kuadrupel merupakan tes yang memiliki 3 – 4 lapis atau 3-4 tahap . Dokter akan melakukan tes darah untuk mengecek kadar hormon dan protein di dalam darah yang berasal dari janin atau plasenta Anda pada skrining ini. Jumlah tertentu dari pengukuran kadar hormon dan protein dalam darah bisa berarti janin Anda memiliki risiko terkena cacat lahir ataupun kelainan genetis yang cukup tinggi. Tes ini biasanya dilakukan pada trimester kedua, tepatnya pada minggu ke 15 -20.

5. Pengukuran panjang leher rahim

Tes ini penting untuk kehamilan berisiko tinggi, guna mendeteksi kelahiran prematur. Pada praktiknya, dokter kandungan akan mengukur panjang dari leher rahim Anda untuk memastikan risiko terjadinya kelahiran prematur, sehingga Anda bisa bersiap untuk segala kemungkinan.

6. Tes laboratorium

Tes ini dilakukan dengan mengambil sampe cairan vagina Anda guna mengecek adanya fetal fibronectin, yaitu sebuah zat yang berperan sebagai perekat di antara kantung janin dan dinding rahim. Keberadaan zat ini bisa menjadi salah satu tanda kelahiran prematur.

7. Tes profil biofisikal

Tes skrining terakhir yang bisa dilakukan calon ibu dengan kehamilan berisiko tinggi adalah tes profil biofisikal, yang menggabungkan pengamatan detak jantung janin dan pengamatan kondisi janin melalui scanning ultrasound. Dengan cara ini, dokter bisa langsung mengetahui jika ada kelainan pada janin Anda.

Nah, itu dia ragam tes skrining dan tes lainnya untuk Anda yang memiliki kehamilan berisiko tinggi. Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Punya permasalahan seputar kandungan Anda? Gunakan fitur ‘tanya Dokter’ untuk chat dokter seputar penanganannya. GRATIS! Download aplikasi Go Dok di sini.

SF/PJ/MA

Referensi