Tes Diagnostik Kehamilan yang Mungkin Anda Perlukan

Tes diagnostik kehamilan

Tes diagnostik kehamilan, Berbeda dengan tes skrining umum yang wajib dilakukan di awal kehamilan, tes diagnostik biasanya hanya wajib jika memang ditawarkan oleh dokter kandungan Anda. apa sajakah jenis tes diagnostik kehamilan yang dapat dilakukan selama kehamilan?

 

Go DokDi masa kehamilan, tentu ada beberapa tes yang wajib dan memang diperlukan untuk memastikan kondisi perkembangan sekaligus kesehatan janin yang tengah Anda kandung. Salah satu jenis tes ini adalah tes diagnostik kehamilan. Berbeda dengan tes skrining umum yang wajib dilakukan di awal kehamilan, tes diagnostik biasanya hanya wajib jika memang ditawarkan oleh dokter kandungan Anda. Fungsinya pun kurang lebih sama dengan tes skrining kehamilan yang umum, yaitu untuk mendeteksi dan mendiagnosis adanya gangguan atau masalah kesehatan yang mungkin mempengaruhi perkembangan janin dan kesehatannya di masa depan. Biasanya, tes ini dilakukan dengan mendeteksi sesuatu yang tidak normal ataupun adanya komplikasi selama kesehatan Anda.

Nah, apa sajakah jenis tes diagnostik kehamilan yang dapat dilakukan selama kehamilan?

Berikut adalah 4 jenis tes diagnostik kehamilan beserta penjelasan lengkapnya :

1. Chorionic Villus Sampling

Ini merupakan jenis tes diagnostik kehamilan yang bersifat invasif, yaitu di mana sampel yang diambil untuk tes adalah sepotong kecil jaringan dari plasenta Anda. Biasanya, tes ini dilakukan di antara minggu ke sepuluh dan keduabelas kehamilan. Tujuan dari dilakukannya tes ini adalah untuk mendeteksi adanya keabnormalan genetis pada janin, seperti Down Syndrome, dan risiko cacat kelahiran. Ada dua jenis tes chorionic villus, yaitu yang pengambilan sampelnya dilakukan melalui perut (transabdominal test) dan langsung melalui serviks (transcervical test).

Dalam praktik pengambilan sampelnya, sebuah jarum akan dimasukkan ke dalam perut atau serviks Anda, dengan bantuan pengamatan ultrasound agar jarum tidak mengenai atau melukai janin. Setelah jarum mencapai plasenta, maka akan diambil sampel dari sel chrionic villus di dalamnya. Selanjutnya, sampel ini akan dites guna mendiagnosa adanya kromosom yang berlebihan atau tidak normal. Memang, ada risiko keguguran dalam pelaksanaan tes ini, namun persentasenya sangat kecil, yaitu kurang dari 1%. Jadi, tes ini bisa dikatakan aman untuk dilakukan demi kesehatan anak di masa depan.

2. Amniocentesis

Tes diagnostik kehamilan yang satu ini biasanya dilakukan jika ada tes skrining kehamilan yang hasilnya positif, sehingga dokter perlu melakukan tes lanjutan guna mendiagnosis masalah pada kandungan. Amniocentesis umumnya dilakukan di antara minggu kelima belas dan minggu kedelapan belas kehamilan Anda, dengan tujuan untuk mendeteksi kelainan genetis atau risiko cacat saat kelahiran. Sama dengan tes Chorionic Villus (CV), tes Amniocentesis juga bersifat invasif, karena sampel tes akan diambil langsung dari cairan amniotic yang mengelilingi janin di dalam rahim Anda.

Dalam praktiknya, sampel akan diambil menggunakan sebuah jarum yang dimasukkan ke dalam perut Anda dengan bantuan pengamatan ultrasound agar tidak mencederai janin. Setelah dokter berhasil mengambil sampel cairan amniotik dengan jarum, sampel ini kemudian akan digunakan untuk mendiagnosis adanya keabnormalan kromosom pada janin. Risiko keguguran karena melakukan tes diagnostik ini lebih kecil dibandingkan risiko pada tes CV, dan karenanya tidak perlu takut melaksanakan tes ini jika memang dirasa sangat penting oleh dokter kandungan Anda.

3. Cordiocentesisatau Umbilical Vein Sampling

Tes diagnostik kehamilan yang satu ini biasanya dilakukan setelah usia kehamilan lebih dari 18 minggu, dan bertujuan untuk menguji darah bayi Anda. Tes ini juga dilakukan jika dokter beranggapan bahwa transfusi darah pada janin kemungkinan besar diperlukan, karena maslah serius, seperti fetal anemia (kekurangan sel darah merah pada janin). Selain mendeteksi keabnormalan darah, tes ini juga bisa mendeteksi penyakit seperti Campak Jerman, toksoplasmosis, dan masalah kekurangan oksigen pada janin yang menyebabkan perkembangannya terhambat. Dalam praktiknya, sebuah jarum berongga akan dimasukkan ke dalam tali pusar janin untuk mengambil sampel darahnya. Namun, tes ini sudah jarang dilakukan dewasa kini, karena berbagai alasan tertentu.

4. Foetoscopy

Tes diagnostik kehamilan yang terakhir adalah foetoscopy, yang hanya dilakukan pada kasus-kasus langka, di mana dokter memang harus melakukan pengamatan lebih dekat terhadap janin di dalam rahim dengan alasan medis yang kuat. Dalam praktiknya, suatu teleskop mini akan dimasukkan ke dalam rahim Anda, dengan cara membuat irisan pada perut. Hal ini akan memberikan kesempatan lebih besar bagi dokter untuk mendiagnosis adanya keabnormalan pada janin, melalui pengamatan yang lebih jelas.

Nah, itu dia 4 jenis tes diagnostik kehamilan yang mungkin harus Anda lakukan dalam beberapa kondisi. Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Konsultasi dengan dokter seputar kesehatan Anda  kini bisa lewat fitur ‘Tanya Dokter’. Download aplikasinya Go Dok di sini.

SF/PJ/MA

Referensi