STEMI; Penyebab, Gejala, dan Penanganan

STEMI

STEMI atau ST Elevasi Miokard Infark merupakan jenis penyakit jantung koroner yang disebabkan oleh menyempitnya pembuluh arteri utama akibat penumpukan lemak yang menyalurkan darah ke jantung. Dampaknya, jantung jadi kekurangan oksigen dan menjadi penyebab kematian nomor 1 di dunia.

Mengenal STEMI

Saat ini penyakit jantung merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia dan menurut WHO 60% kematian disebabkan oleh penyakit jantung koroner ini. Di Indonesia sendiri penyakit ini terus meningkat jumlahnya dan merupakan penyebab kematian nomor satu pada kelompok usia diatas 45 tahun.           

Penyakit jantung koroner merupakan penyebab perawatan di rumah sakit dan kematian menjadi tinggi. Penyakit ini terjadi karena menyempitnya arteri utama yang menyuplai darah ke jantung dan umumnya disebabkan oleh timbunan lemak atau bisa juga terlepasnya timbunan lemak tersebut dan menyumbat aliran darah ke jantung. Kondisi ini akan menyebabkan jantung kekurangan oksigen dan menyebabkan kerusakan otot jantung. 

Timbunan sel-sel lemak pada dinding pembuluh darah jantung -atau yang dikenal sebagai aterosklerosis merupakan suatu timbunan plak yang menumpuk di dinding bagian dalam dari pembuluh darah jantung. Semua pembuluh darah pada dasarnya bisa terkena proses ini, tetapi karena pembuluh darah koroner jantung ukurannya sangat kecil dan berfungsi sangat vital maka jika ada timbunan plak pada daerah itu akan menimbulkan penyakit yang cukup serius.             

Penyebab dan Faktor Risiko

Telah disebutkan sebelumnya bahwa proses aterosklerosislah yang menjadi penyebabnya dan membuat sumbatan di dalam saluran arteri jantung. Yang menjadi dasar munculnya proses aterosklerosis ini adalah hipertensi yang tidak ditangani secara cepat dan tepat, kegiatan merokok aktif maupun secara pasif, makanan tinggi lemak, gula darah tinggi pada penyakit diabetes melitus, kegemukan (obesitas), lemak tubuh tinggi (kolestrol tinggi), kurangnya aktivitas tubuh, stres dan depresi serta adanya riwayat keluarga dengan penyakit jantung koroner.

Keseluruhan faktor-faktor diatas menyebabkan dinding dalam pembuluh darah menjadi rusak dan akan menyebabkan terkumpulnya zat lemak darah (plak) di lokasi kerusakan tersebut. Zat lemak yang terkumpul akan mengalami oksidasi sehingga menjadi gumpalan lemak yang berwarna kekuningan. Gumpalan lemak ini akan mengalami dua kemungkinan, yaitu tetap utuh di bagian tersebut dan semakin membesar atau karena rapuh maka terlepas dan menyumbat bagian yang lebih sempit.

Kasus STEMI terjadi dikarenakan adanya sumbatan secara mendadak pada pembuluh darah akibat menyempitnya saluran pada bagian yang terdapat gumpalan lemak. Dengan terdapatnya gumpalan lemak di dalam dinding pembuluh darah maka diameter saluran akan menjadi kecil. Lama-kelamaan saluran/pembuluh darah ini akan tertutup karena adanya gumpalan lemak tadi. Hal ini menimbulkan gangguan keseimbangan kebutuhan oksigen di jantung yang berujung pada kerusakan dan kematian otot jantung.

Gejala

Gejala yang dapat terjadi pada pasien STEMI adalah keluhan berupa rasa tertekan atau berat, terbakar, tertindih, ditusuk di daerah dada atau uluhati yang biasanya menjalar ke lengan kiri, leher, rahang bawah, bahu atau pun menembus ke belakang. Keluhan ini dapat berlangsung beberapa menit sampai bisa 20 menit. Keluhan khas ini umumnya disertai pula dengan gejala lainnya berupa mual, muntah, nyeri di bagian perut, sesak nafas, lemas, dan pingsan.

Diagnosis

Diagnosis STEMI berdasarkan wawancara medis akan ditemukan keluhan berupa rasa tertekan atau berat, terbakar, tertindih, rasa seperti ditusuk di daerah dada atau uluhati yang biasanya menjalar ke lengan kiri, leher, rahang bawah, bahu atau pun menembus ke belakang yang terjadi terus menerus berlangsung lebih dari 20 menit. Keluhan ini dirasakan semakin memberat dan semakin sering terjadinya. Pada pemeriksaan fisik umumnya sangat bervariasi hasilnya mulai dari tensi dan nadi yang berfluktuatif sampai ditemukannya tanda-tanda gagal jantung.

Diagnosis secara lebih pasti yaitu dengan melakukan rekam jantung (EKG) dan pemeriksaan enzim jantung (CK, CKMB, Troponin T). Pada pemeriksaan rekam jantung (EKG), akan dijumpai peningkatan garis ST. Pemeriksaan enzim jantung dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kerusakan otot jantung; hal ini biasanya ditandai dengan didapatkannya nilai enzim yang meningkat.

Penanganan

Perawatan yang cepat, spesifik, dan menyeluruh sangat penting pada kasus penyakit ini. Pada kasus STEMI yang  harus dilakukan adalah sesegera mungkin melakukan terapi reperfusi  kateter meskipun hasil pemeriksaan enzim jantung belum tersedia. Terapi reperfusi kateter ini ditujukan bagi pasien yang dengan keluhan kurang dari 12 jam dari awal serangan dan waktu saat serangannya kurang dari 90 menit.

Apabila tidak dapat dilakukan tindakan reperfusi maka dapat dilakukan pemberian terapi fibrinolitik berupa pemberian obat pengencer darah maupun obat anti pembekuan darah dosis besar yang bertujuan agar tidak terjadi gumpalan-gumpalan darah yang nantinya juga menyumbat layaknya gumpalan lemak. Tidak lupa juga selalu diberikan suplementasi oksigen dosis tinggi serta obat nitrat untuk melonggarkan pembuluh darah secara cepat dan sumbatan bisa di hilangkan.

Komplikasi

STEMI merupakan penyakit yang menyerang jantung dan membuat otot jantung rusak. Komplikasi paling awal dari penyakit ini adalah pergerakan jantung yang tidak stabil dan menyebabkan hanya berdetak saja jantungnya dan tidak memompakan darah. Kondisi ini sangat berbahaya menyebabkan gagal jantung dan akan terjadi kematian dalam hitungan detik. Tidak hanya hal tersebut, tetapi pengobatan untuk STEMI juga berbahaya dan dapat menyebabkan komplikasi seperti perdarahan otak, saluran cerna, dan  penyakit hati.

Prognosis

Kondisi penyakit ini sangat berbahaya dan mematikan, hal ini terlihat dari data yang menunjukan bahwa sekitar dua puluh lima persen pasien mengalami kematian sebelum tiba di rumah sakit. Berkaitan dengan usia terkenanya, jika penderita berada di bawah usia 50 tahun, memiliki angka kematian kurang dari 20%. Sedangkan pada usia diatas 50 tahun angka kematiannya sekitar 20 %.

 

Baca juga:

 

Jangan ragu untuk selalu gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk berkonsultasi dengan dokter online yang siap siaga 7×24 jam. Segera download aplikasi kesehatan Go Dok di sini.

HW/PJ/TP

Referensi