Solusio Plasenta ; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Solusio plasenta

Solusio plasenta alias abruption plasenta adalah suatu kondisi terlepasnya plasenta (ari-ari bayi) dari tempat tertanamnya di rahim sebelum janin lahir dimana plasenta tertanam di rahim pada posisi yang normal.

Mengenal solusio plasenta

Solusio plasenta alias abruption plasenta adalah suatu kondisi terlepasnya plasenta (ari-ari bayi) dari tempat tertanamnya di rahim sebelum janin lahir dimana plasenta tertanam di rahim pada posisi yang normal. Solusio plasenta adalah salah satu penyebab perdarahan pada kehamilan tua atau diatas 20 minggu. Pemisahan plasenta dapat parsial (sebagian) atau total.

Perdarahan akibat penyakit ini umumnya menyusup diantara plasenta dan rahim kemudian keluar melalui kemaluan. Pada kondisi lain, darah tidak dapat keluar, tetapi tertahan diantara plasenta dan dinding rahim sehingga menyebabkan perdarahan yang tersembunyi (darah yang keluar dari kemaluan sedikit atau tidak ada).

Perdarahan tersembunyi ini jauh lebih berbahaya bagi ibu dan janin, karena banyak dan perdarahan tidak diketahui sehingga diagnosis bisa terlambat hingga bisa berujung ke kematian akibat kehabisan darah. Selain itu, terlepasnya plasenta ini juga berbahaya untuk janin karena dapat mengganggu aliran darah ke janin sehingga menyebabkan kurangnya oksigen (hipoksia).

Epidemiologi

Banyaknya kejadian solusio plasenta dilaporkan secara bervariasi, namun rata-rata kejadian yang dilaporkan adalah 1 dalam 200 kelahiran. Dalam data milik national center of health statistic, salihu dkk, (2005) melaporkan kejadian ini pada kelahiran bayi tunggal adalah1 diantara 160.

Dalam catatan kelahiran amerika serikat tahun 2003 melaporkan angka kejadian solusio plasenta adalah 1 dalam 190 kelahiran.

Penyebab

Penyebabnya hingga saat ini belum diketahui, namun terdapat beberapa faktor risiko yang mempertinggi kemungkinan terjadinya kondisi ini, diantaranya usia ibu, multigravida, riwayat solusio plasenta sebelumnya, janin yang tidak normal, trauma, peradangan plasenta dan cairan ketuban yang kronis dan ibu dengan tekanan darah tinggi.

Gejala klinis

Solusio plasenta yang ringan (plasenta yang terlepas < 1/6 bagian), pada umumnya tidak menunjukkan gejala yang jelas, perdarahan dari kemaluan hanya sedikit, dalam hal ini biasanya diagnosis baru dapat ditegakkan setelah anak lahir yaitu didapati bekuan darah pada plasenta.

Pada kondisi yang agak berat gejala akan lebih jelas. Ibu akan merasa sakit yang tiba-tiba diperut, kadang-kadang ibu dapat menunjukkan lokasi yang paling sakit yaitu ditempat plasenta terlepas. Selain itu, terdapat perdarahan dari kemaluan yang tiba-tiba dan berwarna hitam ataupun berupa gumpalan-gumpalan darah, pergerakan anak yang terasa meningkat lalu kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti (anak tidak bergerak lagi). Ibu juga akan mengeluhkan pusing, lemas, muntah, pucat, dan pandangan berkunang-kunang.

Pada pemeriksaan perut akan didapatkan rahim akan terabah lebih besar, karena terbentuknya gumpalan darah pada daerah terlepasnya plasenta, lalu rahim akan teraba tegang dan keras seperti papan (istilah medis untuk ini adalah wooden uterus), nyeri pada penekanan rahim terutama pada tempat terlepasnya plasenta. Bagian-bagian janin akan susah dikenali melalui perabaan, karena rahim yang sangat tegang.

Diagnosis

Untuk mendiagnosis solusio plasenta beberapa hal yang harus kita perhatikan adalah :

  • Berdasarkan gejala dan tanda klinis yang sesuai. Gejala dan tanda akan terlihat sesuai dengan ringan dan beratnya solusio plasenta
  • Melakukan pemeriksaan penunjang. USG tidak dapat memastikan karena sulit membedakan bagian belakang plasenta yang normal dengan yang terjadi solusio plasenta (retroplasenta, tempat dimana plasenta terlepas dan darah tertumpuk). MRI dapat mendeteksinya, namun tidak pas dilakukan dalam keadaan gawat darurat. Pemeriksaan laboratorium adalah memeriksan alfa fetoprotein  dan Hcg serum ibu akan meninggi kadarnya
  • Diagnosis pasti dari solusi plasenta ditegakkan setelah persalinan yaitu dengan ditemukannya bekuan darah pada plasenta (hematoma retroplasenta).

Penanganan

Kasus ini tidak boleh ditatalaksana pada fasilitas kesehatan dasar (misalnya puskesmas, klinik bersalin dan bidan), ibu harus ditangani di fasilitas kesehatan yang lengkap (rumah sakit yang memiliki fasilitas untuk operasi dan spesialis).

Jika terjadi perdarahan hebat, baik perdarahan dari kemaluan atau perdarahan tersembunyi, maka harus dilakukan persalinan segera, jika pembukaan lengkap maka persalinan akan dibantu dengan vakum. Jika pembukaan belum lengkap maka persalinan dilakukan dengan operasi sesar.

Jika perdarahan ringan atau sedang, maka tergantung denyut jantung bayi, jika denyut jantung bayi normal, maka dilakukan operasi sesar. Jika denyut jantung bayi tidak normal (yaitu kurang dari 100 atau lebih dari 180 kali per menit), maka dilakukan persalinan pervaginam (persalinan melalui kemaluan) segera atau dengan seksio sesarea jika persalinan pervaginam tidak memungkinkan.

Komplikasi

Banyak komplikasi yang dapat terjadi pada solusio plasenta, diantaranya :

  • Anemia (kurang darah), syok hipovolemik (gangguan perdarahan jaringan akibat berkurangnya darah yang beredar di tubuh), gangguan pembekuan darah dan gagal ginjal
  • Bisa menyebabkan sindrom Sheehan yaitu gangguan hormonal karena kerusakan jaringan kelenjar hipofisis (kelenjar ini berada di otak) akibat dari gangguan suplai darah pada kelenjar ini (syok hipovolemik)
  • Menyebabkan kematian janin, kelahiran prematur hingga bayi lahir mati.

Prognosis

  • Terhadap ibu. Tingkat kematian pada ibu dengan kondisi ini adalah sekitar 5-10%. Hal ini dikarenakan adanya perdarahan sebelum dan sesudah bersalin dan banyaknya kerusakan organ yang terjadi.
  • Terhadap janin. Tingkat kematian anak adalah sekitar 70-80%. Hal ini tergantung derajat pelepasan plasenta, bila plasenta terlepas lebih dari 1/3 maka kemungkinan kematian janin adalah 100%

Semoga bermanfaat!

 

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari SmartphoneDownload aplikasinya di sini.

 

PJ/JJ/MA

Referensi