Rubella; Penyebab, Gejala dan Penanganan

rubella

Rubella atau campak Jerman merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dan ditularkan melalui udara, misalnya saat batuk atau bersin. Gejala yang ditimbulkan penyakit rubella mirip dengan campak, tetapi virus penyebab kedua penyakit ini berbeda.

 

Go DokBagi Anda yang sedang mengandung, penting untuk memperhatikan kondisi kesehatan janin di dalam kandungan untuk meminimalisasi kelainan yang mungkin terjadi salah satunya campak Jerman atau Rubella, mau tahu gejala, penyebab dan penanganannya? Yuk simak!

Mengenal Rubella

Rubella/German Measles (campak Jerman) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dan ditularkan melalui udara, misalnya saat batuk atau bersin.  Meskipun gejala yang ditimbulkan penyakit rubella mirip dengan campak, tetapi virus penyebab kedua penyakit ini berbeda. Virus rubella cepat mati oleh sinar ultraviolet, bahan kimia, asam, dan pemanasan. Namun, virus ini dapat melewati “barrier” plasenta sehingga dapat menginfeksi janin.

Kasus ini masih menjadi masalah yang membutuhkan perhatian khusus. Dari tahun 2010-2015, diperkirakan terjadi 30.463 kasus rubella, 70% terjadi pada kelompok usia <15 tahun. Pada tahun 2015, terdapat 979 kasus baru sindrom rubella kongenital. Pada tahun 2020, melalui Global Vaccine Action Plan (GVAP) ditargetkan bahwa campak dan rubella dapat dieliminasi di 5 regional WHO.

Faktor Risiko

Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko terinfeksi rubella, seperti :

  1. Pernah mengalami rubella sebelumnya
  2. Tidak pernah mendapat imunisasi campak-rubella/MR atau MMR (dulu)
  3. Riwayat bepergian ke negara lain atau tempat epidemi.
Penyebab

Rubella disebabkan oleh virus rubella yang berasal dari genus rubivirus dan famili Togaviridae. Virus ini masuk ke tubuh melalui sistem pernafasan. Partikel yang mengandung virus ini, misalnya berasal dari bersin atau batuk kemudian masuk ke saluran pernafasan dan menyebar melalui pembuluh darah setempat serta ke saluran limfe. Fase ini disebut viremia dan terjadi 4-7 hari setelah virus masuk ke dalam tubuh. Virus kemudian memperbanyak diri di dalam sel-sel tubuh. Setelah 14-21 hari berdiam di dalam sel atau melakukan inkubasi, virus kemudian menyebar kembali ke pembuluh darah, menyebabkan terjadinya viremia di dalam tubuh, kemudian memunculkan rash dan bila sistem imunitas tubuh baik, maka infeksi pun mulai sembuh.

Pada wanita hamil, kerusakan yang diakibatkan oleh virus di dalam sel tubuh dapat mempengaruhi kromosom dan pembelahan sel, sehingga apabila terjadinya infeksi selama trimester pertama kehamilan dimana merupakan fase penting pembentukan organ, maka akan menimbulkan defek kongenital / cacat bawaan / congetinal rubella syndrome.

Gejala

Pada umumnya, anak yang terinfeksi rubella hanya mengalami gejala ringan atau bahkan tanpa gejala. Gejala yang dapat menyertai ialah :

  • Demam ringan
  • Rash (ruam pada kulit)
  • Pembesaran kelenjar getah bening di area telinga dan leher (suboccipital adenopathy).

Infeksi rubella yang menyerang remaja dan dewasa dapat menimbulkan gejala mulai dari nyeri sendi (arthralgia), radang sendi (arthritis), hingga komplikasi yang lebih parah yaitu thrombocytopenic purpura. Pada kasus yang jarang juga dapat ditemukan rubella encephalitis (radang otak).

Wanita hamil terutama trimester pertama yang terkena infeksi rubella dapat mengakibatkan keguguran atau melahirkan bayi dengan cacat bawaan atau yang disebut dengan Congenital Rubella Syndrome (CRS) yang memiliki gejala sebagai berikut :

  • Kelainan jantung
  • Kelainan pada mata
  • Kelainan Pendengaran
  • Kelainan pada sistem saraf pusat
  • Kelainan lain:
    • Pembesaran limpa
    • Kuning yang muncul dalam 24 jam setelah lahir
    • Purpura
    • Radioluscent bone.
Diagnosis

Pada anamnesis dapat ditemukan keluhan seperti demam, nyeri sendi, serta gejala lain yang berhubungan dengan infeksi virus. Selain itu, perlu juga dicari faktor risiko terjadinya infeksi terutama pada wanita hamil.

Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan tanda dan gejala seperti demam, rash, radang sendi, atau pada sindrom rubella kongenital dapat ditemukan beberapa kelainan yang telah disebutkan sebelumnya.

Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis pasti penyakit ini  menggunakan pemeriksaan darah atau virologis, yaitu :

  1. IgM : muncul pada 4 hari setelah ruam dan menurun setelah 8 minggu, kemudian tidak terdeteksi lagi
  2. IgG : muncul dalam 14-18 hari dan memuncak pada 4 minggu, setelah itu menetap seumur hidup.
  3. Virus rubella : dapat diisolasi dari sampel dara, mukosa hidung, swab tenggorok, urin, atau cairan serebrospinal. (mulai dapat diambil 1 minggu sebelum hingga 2 minggu setelah ruam kulit).

Pada wanita hamil biasanya di trimester pertama, dokter dapat menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cyromegalovirus, Herpes, Other) yang salah satunya dapat mendeteksi infeksi rubella sejak dini.

Penanganan

Rubella merupakan penyakit yang tidak dapat diobati (obat-obatan yang diberikan hanya bersifat suportif). Namun, penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi. Saat ini, pemerintah telah menyediakan vaksin kombinasi Measles-Rubella (MR) untuk mengganti vaksin campak yang beredar mengingat besarnya beban penyakit campak dan rubella. Pemerintah juga mulai menggalakkan program imunisasi ini dengan mengadakan program imunisasi massal MR.

Imunisasi MR merupakan imunisasi yang aman dan efektif. Sesuai dengan saran Kemenkes, imunisasi diberikan pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD. Efek samping yang dapat terjadi setelah imunisasi MR, seperti demam ringan, ruam merah, bengkak ringan dan nyeri di tempat suntikan. Reaksi tersebut normal terjadi dan dapat menghilang 2-3 hari. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang serius sangat jarang terjadi.

Imunisasi MR tidak boleh diberikan pada :

  1. Individu yang sedang dalam terapi kortikosteroid, imunosupresan (obat-obat yang melemahkan sistem imun), dan radioterapi ; misalnya pada pasien kanker, penyakit autoimun, dsb.
  2. Wanita hamil
  3. Leukimia, anemia berat, dan kelainan darah lainnya
  4. Kelainan fungsi ginhal berat
  5. Penyakit jantung berat
  6. Setelah transfusi darah
  7. Riwayat alergi terhadap kompnen vaksin (neomisin).

Pemberian imunisasi MR dapat ditunda apabila dalam keadaan demam, batuk pilek, ataupun diare.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Dapatkan tips-tips kesehatan lainnya dari Tim dokter, langsung dari Smartphone. Yuk, Download aplikasi Go Dok.

AM/PJ/MA

Referensi