Preeklampsia ; Gejala, Diagnosis dan Penanganan

Preeklampsia

Preeklampsia merupakan sindrom klinis di usia kehamilan ≥20 minggu yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan proteinuria pada wanita yang tidak memiliki riwayat tekanan darah tinggi (hipertensi) sebelumnya. Penyebab preeklampsia sendiri belum diketahui secara pasti.

 

Mengenal Preeklampsia

Preeklampsia merupakan sindrom klinis di usia kehamilan ≥20 minggu yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan proteinuria pada wanita yang tidak memiliki riwayat tekanan darah tinggi (hipertensi) sebelumnya.

Faktor Risiko

Penyebab pasti preeklampsia belum diketahui namun, terdapat beberapa faktor risiko terjadinya preeklampsia, yaitu :

  1. Primigravida (kehamilan pertama)
  2. Primipartenitas (kehamilan pertama dari suami kedua)
  3. Usia (<20 tahun atau >35 tahun)
  4. Hiperplasentosis (terjadi pada mola hidatidosa, kehamilan multipel, diabetes melitus, hidrops fetalis, dan bayi besar)
  5. Riwayat penyakit ini sebelumnya
  6. Riwayat keluarga yang pernah mengalaminya
  7. Penyakit ginjal dan hipertensi yang telah ada sebelum kehamilan
  8. Obesitas.
Perjalanan Penyakit

Perjalanan penyakit preeklampsia dibagi menjadi dua tahap, yaitu perubahan aliran darah plasenta dan sindrom maternal. Tahapan pertama dimulai selama 20 minggu pertama kehamilan dengan gagalnya sel-sel trofoblas (bakal janin) untuk menginvasi lapisan otot arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya, sehingga terjadi kelainan pembuluh darah plasenta.

Lapisan otot arteri spiralis kemudian menjadi tetap kaku sehingga bagian lumen (di dalam pembuluh darah) tidak memungkinkan untuk melebar (vasodilatasi). Akibatnya, pembuluh darah lebih cenderung mengkerut (vasokontriksi) sehingga aliran utero-plasenta menurun dan terjadi hipoksia dan iskemia plasenta akibat kekurangan oksigen.

Akibat dari kekurangan oksigen tersebut, plasenta kemudian menghasilkan radikal bebas. Salah satu radikal bebas yang berperan dalam terjadinya preeklampsia adalah radikal hidroksil. Radikal hidroksil mengubah asam lemak tak jenuh menjadi peroksida lemak. Peroksida lemak inilah yang akan merusak membran sel endotel pembuluh darah.

Kerusakan membran sel endotel kemudian mengganggu fungsi sehingga disebut disfungsi endotel. Seperti yang telah diketahui, bahwa disfungsi endotel merupakan dasar penting terjadinya penyakit hipertensi. Hal inilah yang kemudian masuk menjadi tahapan kedua yaitu fase sistemik.

Disfungsi endotel yang terjadi tidak hanya menyebabkan hipertensi tetapi juga menyebabkan gangguan metabolisme serta produksi prostaglandin, terjadinya agregasi trombosit, penurunan kadar Nitrit Oksida, serta peningkatan faktor koagulasi.

Diagnosis

Kriteria diagnosis preeklampsia berdasarkan American College of Obstetricians and Gynecologists, yaitu sebagai berikut:

  • Tekanan darah ≥140 mmHg (sistolik) atau ≥90 mmHg (diastolik) pada dua kali pengukuran selama minimal 4 jam di usia ≥20  minggu usia kehamilan pada wanita yang sebelumnya tidak ada riwayat hipertensi.
  • Tekanan darah ≥160 mmHg (sistolik) atau ≥110 mmHg (diastolik) yang dikonfirmasi dari dua kali pemeriksaan dalam hitungan menit.
  • Proteinuria : ≥300 mg/24 jam urin atau rasio protein/kreatinin ≥0.3 atau pemeriksaan protein dipstik 1+.

Bila tidak terdapat proteinuria, diagnosis dapat ditegakkan dengan adanya hipertensi dengan salah satu tanda berikut ini:

  • Trombositopenia (trombosit <100.000/mL)
  • Gangguan fungsi liver (peningkatan enzim transaminase 2x dari batas normal) atau nyeri persisten pada abdomen kuadran kanan atas yang tidak mereda dengan obat.
  • Insufisiensi renal (peningkatan serum kreatinin >1,1 mg/dL atau peningkatan 2x serum kreatinin tanpa adanya penyakit ginjal sebelumnya)
  • Edema paru
  • Gangguan penglihatan.

Proteinuria didefinisikan dengan pengeluaran 300 mg protein atau lebih pada 24 jam urin. Oleh karena pengukuran ini bersifat spesifik dan berbeda di tiap laboratorium, pemeriksaan protein pada urin 1+ saja sudah dapat menegakkan diagnosis proteinuria.

Saat ini, tidak dipisahkan lagi antara preeklampsia ringan atau berat. Definisi diagnostik disamakan menjadi preeklampsia karena pentingnya tatalaksana untuk pencegahan eklampsia.

Penanganan

Terdapat perbedaan manajemen hipertensi pada kehamilan dan di luar kehamilan. Tujuan tatalaksana penyakit ini ialah untuk mencegah terjadinya eklampsia (kejang). Oleh karena itu, diperlukan penurunan tekanan darah yang cepat pada penyakit ini dengan gejala lebih berat. Selain untuk mencegah eklampsia, tujuan utama terapi ialah untuk mengurangi risiko ibu seperti abrupsi plasenta, hipertensi urgensi yang memerlukan rawat inap, serta kerusakan target oagan (cerebrovaskuler dan kardiovaskuler).

Obat yang digunakan untuk tatalaksana preeklampsia ialah magnesium sulfat (MgSO4). Obat ini memiliki efek anti kejang dan anti hipertensi, sehingga merupakan agen pencegahan eklampsia paling efektif serta obat lini pertama untuk terapi kejang pada eklampsia.

Sejatinya, kondisi preeklampsia itu sendiri akan hilang seiring dengan kelahiran bayi. Hal ini karena perjalanan penyakit yang mendasarinya.

Komplikasi

Pada 20% wanita preeklampsia didapatkan sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver Enzyme, Low Platelet Count). Angka kejadian sindrom HELLP ini 1 dari 1000 kehamilan. Kondisi ini dapat membahayakan bagi ibu dan janin.

Apabila tidak ditangani, penyakit ini akan berkembang menjadi eklampsia yang merupakan kejang pada kehamilan. Eklampsia kemudian menyebabkan edema otak sehingga merusak otak yang mekanismenya menyerupai ensefalopati hipertensi. Selain itu, dapat pula menyebabkan stroke dan perdarahan otak yang merupakan penyebab kematian terbesar pada eklampsia.

Pencegahan

Pada pasien dengan riwayat preeklampsia sebelumnya dan kelahiran prematur, pemberian aspirin 60-80 mg/hari dimulai dari akhir trimester pertama dapat bermanfaat untuk pencegahan preeklampsia.

Evaluasi yang direkomendasikan untuk pasien dengan preeklampsia tanpa gejala yang berat meliputi pemeriksaan gejala maternal dan fetus (pemeriksaan mandiri setiap hari), pemeriksaan tekanan darah (dua kali seminggu), serta pemeriksaan trombosit dan enzim liver (setiap minggu). Pemeriksan protein urin serta USG juga direkomendasikan setiap kali melakukan kontrol antenatal care.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Dapatkan tips-tips kesehatan lainnya dari Tim dokter, langsung dari Smartphone. Yuk, Download aplikasi Go Dok.

 

 

AM/PJ/MA

Referensi