Polio ; Gejala, Penyebab dan Penanganan

polio

Polio atau kelumpuhan infantil, adalah penyakit virus yang sangat menular serta menyerang sistem saraf pusat. Poliovirus sendiri menyebabkan kelumpuhan karena virus ini menghancurkan sel tanduk anterior di sumsum tulang belakang.

 

Mengenal Polio

Poliomielitis -yang juga disebut polio atau kelumpuhan infantil, adalah penyakit virus yang sangat menular serta menyerang sistem saraf pusat dan ditandai dengan gejala seperti kelumpuhan ringan yang dapat berkembang sampai dengan kelumpuhan total hanya dalam hitungan jam.

Polio diketahui pertama kali terjadi hampir 6000 tahun yang lalu, yang dibuktikan oleh penemuan mumi Mesir dengan anggota gerak yang cacat. Vaksin polio sendiri baru ditemukan pada tahun 1950-an.

Diperkirakan kejadian polio secara global telah menurun lebih dari 99% sejak Mei tahun 1988 WHO memutuskan untuk memberantas penyakit ini. Data dari WHO sendiri menunjukkan bahwa Amerika, Pasifik Barat, dan Eropa telah bersertifikat bebas polio.

Sejak tahun 1994, negara-negara kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia mulai mempercepat kegiatan pemberantasan polio dan tingkat keberhasilannya hingga saat ini sudah tercapai. Angka kejadian polio di Indonesia sendiri sudah sangat rendah namun belum dapat dipastikan penyakit ini sudah sepenuhnya dieradikasi di Indonesia mengingat masih banyaknya daerah daerah di Indonesia yang tidak mendapatkan akses kesehatan secara merata.

Penyebab

Poliovirus ditularkan melalui rute fecal-oral dan droplet. Poliovirus dapat ditemukan dalam air liur selama beberapa minggu dan dalam tinja selama beberapa bulan. Poliovirus sendiri menyebabkan kelumpuhan karena virus ini menghancurkan sel tanduk anterior di sumsum tulang belakang. Manusia adalah satu-satunya host alami (pembawa) untuk poliovirus dan paling sering menginfeksi anak-anak kecil namun bukan berarti remaja dan orang dewasa tidak dapat terinfeksi.

Begitu masuk ke dalam tubuh, virus ini akan diserap dari saluran cerna ke dalam darah dan jaringan limpatik yang nantinya akan bermultiplikasi hingga 17 minggu dan menyebar keseluruh tubuh. Saat virus ini mengenai system saraf pusat hal ini akan menyebabkan kelumpuhan. Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 10-21 hari setelah seseorang terinfeksi virus ini.

Ada tiga jenis poliovirus (disebut 1,2, dan 3), masing-masing menyebabkan jenis penyakit yang berbeda dan semuanya adalah anggota keluarga virus enterovirus (virus yang menginfeksi saluran pencernaan). Tipe 1 adalah penyebab epidemi dan biasanya mengakibatkan manifestasi paling parah. Tingkat kelumpuhan bergantung pada tempat virus menyerang dan jumlah sel yang dihancurkannya. Biasanya, beberapa otot tungkai lumpuh namun otot perut atau otot punggung juga mungkin lumpuh yang pada akhirnya akan mempengaruhi postur tubuh. Otot lainnya yang bisa terkena seperti otot leher, otot wajah, dan otot-otot pernapasan yang dapat membahayakan nyawa penderita karena menyebabkan penderita tidak dapat bernapas.

Faktor risiko

Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan polio adalah :

  • Pemukiman padat penduduk
  • Higienesyang buruk
  • Kelainan sistem kekebalan tubuh.
Gejala

Perlu diketahui ada dua pola dasar virus ini:

1. Minor (tipe abortif)

Tipe Minor didapat pada 80-90% kasus dan banyak ditemukan pada anak kecil. Tipe ini ringan dan tidak melibatkan sistem saraf pusat. Gejalanya meliputi demam ringan, kelelahan, sakit kepala, sakit tenggorokan, muntah, kaku dan nyeri otot yang umumnya muncul tiga sampai lima hari setelah terpapar.

Gejala ini dapat bertahan hingga 2-3 minggu bahkan bertahan hingga 2 bulan. Tipe ini dapat pulih dengan sendirinya dalam waktu 24-72 jam. Namun pada banyak kasus memerlukan waktu hingga 2 tahun untuk pulih secara total. Enam bulan pertama penyembuhan akan terjadi dengan cepat kemudian melambat sampai akhirnya sembuh total. Apabila dalam 2 tahun kelumpuhan tidak membaik maka jenis polio yang menyerang lebih berat seperti yang akan dijelaskan berikut.

2. Mayor (yang menyebabkan kelumpuhan permanen)

Gejala penyakit mayor biasanya muncul tanpa didahului gejala sebelumnya dan umumnya menyerang anak yang lebih tua dan orang dewasa.

Sekitar 10% orang terinfeksi poliovirus mengalami sakit kepala berat dan nyeri serta kekakuan pada leher dan punggung. Hal ini disebabkan oleh adanya proses peradangan pada meningen (jaringan yang menutupi sumsum tulang belakang dan otak). Sindrom ini disebut “meningitis aseptik.” Istilah “aseptik” digunakan untuk membedakan jenis meningitis ini dengan yang disebabkan oleh bakteri. Pasien biasanya pulih sepenuhnya dari penyakit ini dalam beberapa hari.

Kemudian, sekitar 1% orang terinfeksi poliovirus mengalami manifestasi klinis yang berat. Beberapa dari pasien ini mungkin mengalami dua sampai tiga hari bebas gejala antara penyakit ringan dan penyakit utama namun gejalanya sering muncul tanpa penyakit ringan sebelumnya. Gejala ringan seperti yang disebutkan diatas sakit kepala dan sakit punggung dan leher.

Gejala utama, muncul karena kerusakan saraf motorik, yang bertanggung jawab untuk pergerakan otot. Awalnya otot menjadi lemah, lemas, dan kemudian benar-benar lumpuh. Dalam beberapa hari, otot akan mengecil (atrofi). Otot yang terkena dapat pada kedua sisi tubuh (kelumpuhan simetris), namun sering terjadi pada bagian tubuh yang tidak seimbang (kelumpuhan asimetris). Perlu diketahui bahwa indera perasa dan peraba tidak terpengaruh pada anggota tubuh yang lumpuh ini.

Gejala sulit bernafas dan sulit menelan akan terjadi apabila poliovirus menyerang batang otak (tangkai otak yang menghubungkan dua belahan otak dengan sumsum tulang belakang, yang disebut polio bulbar). Hal ini juga akan menyebabkan kontrol otak terhadap fungsi vital seperti detak jantung dan tekanan darah bisa terganggu yang bisa mengakibatkan kematian.

Diagnosis

Diagnosis polio dapat ditentukan cukup dengan wawancara medis dan pemeriksaan fisik oleh dokter. Dari pemeriksaan fisik dokter akan menemukan gejala poliomyelitis demam yang disertai kelumpuhan asimetris tanpa hilangnya indera perasa atau peraba pada anak atau dewasa muda. Dokter dapat melakukan pemeriksaan penunjang berupa pungsi lumbal yaitu prosedur pengambilan sampel cairan tulang belakang dengan menggunakan jarum panjang dan tipis yang dimasukkan ke punggung bawah tulang belakang. Pemeriksaan ini akan mengungkapkan peningkatan sel darah putih dan tidak adanya bakteri (meningitis aseptik).

Penanganan

Tidak ada pengobatan khusus untuk polio. Penderita penyakit ini hanya diobati secara simptomatis untuk mengurangi keluhan yang dapat muncul seperti demam, mual muntah, nyeri otot dan sebagainya sehingga pasien lebih nyaman. Alat bantu nafas (ventilator) juga perlu diberikan pada pasien yang mengalami polio bulbar. Fisioterapi perlu dikerjakan selama masa pemulihan.

Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi pada bayi baru lahir dan diberikan ulang pada saat usia 2, 3, 4, dan 18 bulan.

Komplikasi

Sepeti yang sudah dijelaskan diatas bahwa pada penyakit polio ringan (minior), pasien dapat pulih sepenuhnya. Bila pasien didiagnosis menderita penyakit polio mayor, maka sekitar 50% akan sembuh total. Sekitar 25% pasien tersebut akan memiliki sedikit kecacatan, dan sekitar 25% akan memiliki cacat permanen dan serius. Sekitar 1% dari semua pasien dengan penyakit mayor meninggal. Perlu diingat kembali bahwa kembalinya fungsi otot terbesar terjadi dalam enam bulan pertama, namun perbaikan dapat berlanjut sampai dua tahun.

Komplikasi lainnya yang dapat muncul yaitu sindrom postpolio. Kondisi ini dapat muncul bertahun-tahun setelah penyakit awal. Sindrom ini ditandai dengan penurunan kekuatan otot yang sangat lambat dan bertahap.

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari Smartphone. Download aplikasinya di sini.

PJ/MA

Referensi