Pertusis ; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Pertusis

Pertusis atau yang sering dikenal sebagai batuk rejan, adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteriVaksin pertusis yang diterima waktu kecil, lama kelamaan akan menghilang efeknya. Hal ini membuat sebagian besar remaja dan orang dewasa rentan terhadap infeksi.

 

Mengenal Pertusis

Pertusis –atau yang sering dikenal sebagai batuk rejan, adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Penyakit ini dinamai batuk rejan karena gejalanya  yang khas, yaitu batuk yang diikuti dengan napas bernada tinggi dan terdengar seperti “teriakan.” Batuk rejan juga disebut batuk 100 hari di beberapa negara.

Infeksi ini menyebabkan batuk yang keras dan tidak dapat dikendalikan yang dapat membuat seseorang menjadi sulit untuk bernafas. Sementara batuk rejan dapat memengaruhi orang pada usia berapa pun, dan bisa mematikan untuk bayi dan anak kecil. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), sebelum vaksin tersedia, batuk rejan adalah penyebab utama kematian anak di Amerika Serikat. CDC melaporkan jumlah kasus penyakit ini pada tahun 2016 hanya di bawah 18.000, dengan 7 kematian dilaporkan. Sedangkan sebelum vaksin ditemukan, kematian mencapai 157 orang dari 100.000 kasus batuk rejan di Amerika Serikat.

Penyebab

Batuk rejan disebabkan oleh sejenis bakteri yang disebut Bordetella pertussis. Seseorang yang terinfeksi Bordetella pertusis dapat menularkan infeksi kepada orang lain sekitar 6-20 hari setelah bakteri memasuki tubuh mereka hingga 3 minggu setelah dimulainya batuk rejan. Ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin sembarangan, tetesan butiran kuman kecil disemprotkan ke udara dan dihirup ke paru-paru siapa pun yang kebetulan berada di dekatnya. Saat radang saluran napas memburuk (membengkak), saluran napas menjadi lebih sempit, sehingga membuat pasien lebih sulit untuk bernafas dan menyebabkan muncul teriakan ketika pasien mencoba untuk bernapas kembali setelah batuk.

Faktor Risiko

Vaksin pertusis yang diterima waktu kecil, lama kelamaan akan menghilang efeknya. Hal ini membuat sebagian besar remaja dan orang dewasa rentan terhadap infeksi bila terjadi wabah pertusis.

Bayi yang berumur kurang dari 12 bulan yang tidak divaksinasi atau belum menerima vaksinasi lengkap, memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami komplikasi berat pertusis dan juga kematian.

Gejala

Biasanya, periode inkubasi pertusis berkisar 3-12 hari. Pertusis adalah penyakit yang bertahan selama 6 minggu, dibagi menjadi 3 fase, yaitu fase catarrhal, fase paroxysmal, dan fase penyembuhan; dimana masing-masing fase berlangsung 1-2 minggu.

Tahap 1 – Fase Catarrhal

Fase awal (catarrhal) tidak dapat dibedakan dari infeksi saluran pernapasan atas yang lain. Gejala yang muncul termasuk:

  • Hidung berair
  • Hidung tersumbat
  • Mata merah dan berair
  • Demam
  • Batuk.

Penyakit ini paling menular ketika pasien berada dalam fase catarrhal, tetapi penyakit ini dapat tetap menular selama 3 minggu atau lebih setelah timbulnya batuk.

Tahap 2 – Fase Paroxysmal

Pasien dalam fase kedua (parokxysmal) hadir dengan batuk keras yang berlangsung hingga beberapa menit. Bayi usia <6 bulan tidak memiliki teriakan tetapi mungkin memiliki episode henti napas dan beresiko untuk kelelahan. Mual-muntah dan wajah memerah karena batuk sering terjadi pada anak-anak.

Tahap 3 – Fase konvalesen

Pasien pada tahap ketiga (sembuh) mengalami batuk kronis, yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu.

Diagnosis

Selama tahap awal, kesalahan diagnosis sering terjadi, karena tanda dan gejalanya mirip dengan yang ditemukan pada penyakit pernapasan lainnya, seperti bronchitis, flu, dan lain-lain.

Dokter umumnya dapat mendiagnosis penyakit ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai gejala dan mendengarkan bunyi batuk (suara batuk rejan melengking).

Pemeriksaan penunjang berikut dapat dilakukan untuk membantu diagnosis:

  • Tes kultur tenggorokan atau hidung

Dokter atau perawat mengambil sampel penyedotan atau usap hidung dan tenggorokan, yang dikirim ke laboratorium untuk memeriksa keberadaan bakteri Bordetella pertusis.

  • Tes darah

Dokter akan melakukan tes ini untuk tahu berapa jumlah sel darah putih. Jika tinggi, menunjukkan bahwa terjadi infeksi.

  • Rontgen dada

Biasanya pemeriksaan ini dilakukan karena dokter ingin melihat apakah ada peradangan atau cairan di paru-paru.

Jika batuk rejan dicurigai terjadi pada bayi, perlu dirawat di rumah sakit untuk melakukan beberapa tes.

Penanganan

Penanganan pada bayi yang terkena pertusis biasanya dilakukan di rumah sakit karena untuk kelompok usia tersebut pertusis lebih mungkin menyebabkan komplikasi. Cairan infus lewat pembuluh darah diperlukan, jika anak tidak mampu minum atau makan dengan baik. Bayi akan ditempatkan di bangsal isolasi untuk memastikan penyakitnya tidak menyebar. Anak-anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa biasanya dapat dirawat di rumah.

1. Antibiotik

Antibiotik diberikan untuk membunuh bakteri Bordetella pertusis dan untuk membantu pasien pulih lebih cepat. Antibiotik juga menghentikan pasien agar tidak menularkan pertusis dalam waktu 5 hari setelah meminumnya. The Committee on Infectious Diseases (COID) of the American Academy of Pediatrics (Red Book Committee) saat ini merekomendasikan untuk segera merawat anggota keluarga dan orang lain yang kontak dekat pasien (misalnya, anak-anak dan staf di pusat penitipan anak) dengan eritromisin untuk membatasi penularan sekunder. Ini terlepas dari usia atau status imunisasi orang yang berisiko pertusis.

Pemberian eritromisin oral selama 14 hari adalah terapi antimikroba pilihan untuk pasien dengan penyakit ini dan orang terdekat pasien. Pemberian dosis adalah 40-50 mg / kgBB / hari (tidak melebihi 2 g / hari) dalam 4 dosis terbagi.

2. Kortikosteroid

Kortikosteroid diresepkan jika anak memiliki gejala berat dan diberikan bersama dengan antibiotik. Kortikosteroid sangat efektif untuk mengurangi peradangan di saluran napas, sehingga lebih mudah bagi si anak untuk bernapas.

3. Oksigen

Oksigen dapat diberikan melalui masker wajah jika diperlukan bantuan tambahan untuk bernafas. Sebuah alat suntik juga dapat digunakan untuk menyedot lendir yang telah menumpuk di saluran pernapasan.

4. Obat batuk

Pengobatan untuk batuk (obat batuk bebas) tidak efektif dalam meredakan gejala pertusis dan dokter menyarankan untuk tidak menggunakannya. Sesungguhnya batuk membantu memunculkan dahak yang terakumulasi di saluran napas.

Untuk anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa, gejala biasanya kurang parah. Langkah-langkah berikut dapat dilakukan untuk perawatan di rumah:

  • Banyak istirahat.
  • Konsumsi banyak cairan untuk mencegah dehidrasi.
  • Usahakan agar lendir dan muntahan berlebih dibersihkan dari saluran udara untuk mencegah tersedak.
  • Paracetamol atau ibuprofen digunakan untuk meredakan radang tenggorokan dan mengurangi demam.
Komplikasi

Bayi dengan pertusis memerlukan pemantauan ketat untuk menghindari komplikasi yang berpotensi berbahaya akibat kekurangan oksigen. Komplikasi serius meliputi:

  • kerusakan otak
  • pneumonia(infeksi di paru-paru)
  • pendarahan di otak
  • apnea (lambat napas atau henti napas)
  • kejang-kejang (tak terkendali, bergetar cepat)
  • kematian.

Anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa dapat mengalami komplikasi juga, termasuk:

  • Sulit tidur
  • inkontinensia urin (hilangnya kemampuan mengontrol rasa ingin buang air kecil)
  • pneumonia(infeksi di paru-paru)
  • patahtulang rusuk.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.

 

AQ/PJ/MA

Referensi