Narkolepsi; Penyebab, Gejala, dan Penanganan

narkolepsi

Narkolepsi merupakan kelainan yang menyerang fungsi saraf dan menyebabkan gangguan pada siklus tidur seseorang akibat kurangnya hypocretin atau kadar protein dalam otak. Penderita penyakit ini bisa saja mengalami kelainan fungsi otot hingga halusinasi karena tidak mampu membedakan alam mimpi dan realita.

Mengenal Narkolepsi

Narkolepsi adalah sebuah penyakit saraf kronis yang mempengaruhi siklus tidur ditandai rasa kantuk di siang hari dan tidur malam hari yang tidak nyenyak. Orang dengan narkolepsi sering merasa sulit untuk tetap sadar dalam jangka waktu yang lama. Narkolepsi dapat menyebabkan gangguan serius dalam rutinitas harian seseorang.

Ini adalah kondisi langka yang diperkirakan mempengaruhi sekitar 1 dari setiap 2.000 orang. Gejala-gejala narkolepsi biasanya dimulai antara usia 10 dan 25 tahun, meskipun kondisinya sering kali tidak langsung diketahui.

Penyebab

Penyebab pasti narkolepsi tidak diketahui. Namun, kebanyakan orang dengan narkolepsi memiliki jumlah protein otak yang disebut hypocretin dalam jumlah yang sedikit. Salah satu fungsi hypocretin adalah mengatur siklus bangun-tidur seseorang.

Para ilmuwan menyatakan bahwa tingkat hypocretin rendah dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Sebuah mutasi gen telah diidentifikasi sebagai penyebab rendahnya tingkat hypocretin. Diyakini bahwa kelainan bawaan lahir ini, disertai dengan sistem kekebalan tubuh yang menyerang sel-sel sehat, juga berkontribusi terhadap kejadian narkolepsi. Faktor-faktor lain seperti stres, paparan zat beracun, dan infeksi juga memegang peran.

Faktor Risiko

Sangat sedikit yang diketahui tentang faktor risiko narkolepsi. Sekitar 8% -30% orang dengan narkolepsi memiliki anggota keluarga lain yang menderita narkolepsi.

Gejala

Gejala-gejala narkolepsi paling sering dimulai antara usia 10 dan 25 tahun. Gejala-gejala tersebut dapat memburuk selama beberapa tahun pertama dan kemudian berlanjut seumur hidup. Beberapa gejala yang muncul, di antaranya:

  • Rasa kantuk di siang hari yang berlebihan

Orang dengan narkolepsi dapat tertidur tiba-tiba, di mana saja, dan kapan saja. Seseorang mungkin tiba-tiba tertidur saat bekerja atau berbicara dengan orang lain.

  • Tiba-tiba kehilangan tonus otot

Kondisi ini, disebut juga katapleksi, dapat menyebabkan sejumlah perubahan fisik, dari bicara yang tidak jelas hingga kelemahan total sebagian otot, dan dapat berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit. Katapleksi tidak dapat dikendalikan dan dipicu oleh emosi yang kuat, seperti tertawa atau kegembiraan, tetapi terkadang takut, terkejut atau marah juga bisa memicu hal ini. Kepala mungkin terkulai tak terkendali atau lutut tiba-tiba tertekuk ketika tertawa. Meskipun begitu, tidak semua orang dengan narkolepsi mengalami katapleksi.

  • Kelumpuhan tidur

Orang dengan narkolepsi sering mengalami ketidakmampuan sementara untuk bergerak atau berbicara ketika tertidur atau saat bangun tidur. Episode ini biasanya berlangsung singkat selama beberapa detik atau menit – tetapi bisa menakutkan. Namun, tidak semua orang dengan kelumpuhan tidur memiliki narkolepsi. Banyak orang tanpa narkolepsi mengalami beberapa episode kelumpuhan tidur, terutama pada usia dewasa muda.

  • Halusinasi

Halusinasi ini disebut halusinasi hipnagogik jika terjadi saat tidur dan halusinasi hipnopompik jika terjadi saat bangun tidur. Halusinasi terjadi sangat jelas dan menakutkan karena seseorang mungkin setengah sadar ketika mulai bermimpi dan merasa mimpi tersebut sebagai kenyataan.

Diagnosis

Dokter akan membuat diagnosis awal narkolepsi berdasarkan rasa kantuk siang hari yang berlebihan dan hilangnya tonus otot secara tiba-tiba (katapleksi). Setelah diagnosis awal, dokter akan merujuk pasien ke spesialis untuk evaluasi lebih lanjut. Pemeriksaan yang dapat dilakukan di antaranya:

  • Riwayat tidur

Dokter akan meminta pasien untuk memberikan riwayat tidur yang terperinci. Dokter akan meminta pasien untuk mengisi Skala Kantuk Epworth, yang menggunakan serangkaian pertanyaan singkat untuk mengukur tingkat kantuk seseorang.

  • Catatan tidur

Pasien akan diminta untuk membuat catatan rinci tentang pola tidur selama satu atau dua minggu sehingga dokter dapat membandingkan bagaimana pola tidur pasien.

  • Polisomnografi

Tes ini mengukur berbagai sinyal selama tidur menggunakan elektroda yang ditempatkan di kulit kepala. Tes ini mengukur aktivitas listrik otak (elektroensefalogram), jantung (elektrokardiogram), pergerakan otot (electromyogram), dan juga mata (elektro-oculogram).

  • Tes latensi tidur ganda

Pemeriksaan ini mengukur berapa lama seseorang tertidur di siang hari.

Tes-tes ini juga dapat membantu dokter mengesampingkan kemungkinan penyebab lain dari tanda dan gejala Anda yang mungkin menyerupai gangguan tidur lainnya, seperti henti nafas saat tidur maupun penyakit lain yang dapat menyebabkan kantuk di siang hari yang berlebihan.

Penanganan

Sayangnya, tidak ada obat untuk mengobati narkolepsi. Namun, Anda tetap bisa mendapatkan obat-obatan yang dapat membantu meringankan gejalanya, seperti obat stimulan untuk mengobati rasa kantuk, serta obat antidepresan untuk mengobati gejala katapleksi dan tidur yang abnormal.

  • Rasa kantuk yang berlebihan dapat diobati dengan stimulan seperti amphetamine, dexamphetamine, methylphenidate, atau modafinil. Obat-obatan ini merupakan pilihan pertama karena harganya murah, mudah dicari, dan umumnya berhasil pada beberapa pasien.
  • Katapleksi dapat dikurangi dengan obat antidepresan, yang menekan tidur REM. Umumnya clomipramine digunakan untuk mengobati narkolepsi.

Pasien harus menghindari aktivitas apa pun yang dapat menimbulkan ancaman terhadap keselamatan, seperti menggunakan mesin atau mengemudi, sampai narkolpesi berhasil dikendalikan.

Komplikasi

Narkolepsi dapat menyebabkan masalah serius bagi pasien dalam kehidupan sehari-hari. Komplikasi yang mungkin terjadi akibat narkolepsi adalah:

  • Gangguan saat berhubungan intim

Kantuk yang ekstrim dapat menyebabkan dorongan seks menurun atau impotensi, dan orang-orang dengan narkolepsi bahkan mungkin tertidur ketika berhubungan seks

  • Kegemukan

Orang dengan narkolepsi lebih mungkin mengalami kelebihan berat badan. Kenaikan berat badan mungkin berhubungan dengan obat-obatan, tidak aktif beraktivitas, makan-makan, kekurangan hipokretin.

 

Baca juga:

 

Jangan ragu untuk selalu gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk berkonsultasi dengan dokter online yang siap siaga 7×24 jam. Segera download aplikasi kesehatan Go Dok di sini.

 

AQ/PJ/TP

Referensi