Myasthenia Gravis ; Gejala, Penyebab dan Penanganan

Myasthenia Gravis

Myasthenia Gravis (MG) merupakan gangguan neuromuskular yang menyebabkan kelemahan pada otot rangka.  Keadaan ini terjadi ketika kesinambungan antara sel-sel saraf dan otot terganggu sehingga menimbulkan kerusakan. Gejala utamanya terjadinya kelemahan pada otot rangka.

Mengenal Myasthenia Gravis

Myasthenia Gravis (MG) merupakan gangguan neuromuskular yang menyebabkan kelemahan pada otot rangka; dimana seperti yang kita tahu otot rangka berperan penting bagi tubuh untuk bergerak.

Keadaan ini terjadi ketika kesinambungan antara sel-sel saraf dan otot terganggu sehingga menimbulkan kerusakan. Hal inilah yang menyebabkan otot tidak dapat berkontraksi dengan baik dan pada akhirnya terjadilah kelemahan otot.

Menurut Yayasan Myasthenia Gravis Amerika, MG adalah gangguan primer yang paling umum terjadi dari transmisi neuromuskuler. Menurut National Institutes of Health, myasthenia gravis biasanya terjadi pada wanita dengan usia di atas 40 tahun. Sedangkan, pada pria angka kejadian biasanya ditemukan pada usia 60 tahun atau lebih.

Gejala

Gejala utama myasthenia gravis adalah terjadinya kelemahan pada otot rangka. Jika tidak menderita keadaan ini, sebenarnya otot rangka tersebut berada di bawah kendali kita. Pada seseorang dengan myasthenia gravis, kondisi tersebut tidak bisa dilakukan karena otot tidak dapat merespon impuls saraf sehingga otot gagal berkontraksi.

Tanpa transmisi impuls yang tepat, kesinambungan antara saraf dan otot menjadi terhambat sehingga menghasilkan kelemahan otot. Kondisi kelemahan otot yang terkait dengan kondisi ini biasanya semakin memburuk dengan aktivitas yang banyak atau berlebihan dan membaik dengan istirahat.

Beberapa gejala yang mungkin timbul pada pasien adalah:

  • Kelumpuhan pada daerah wajah
  • Kelopak mata tampak turun
  • Penglihatan ganda
  • Sulit menelan atau mengunyah
  • Sulit berbicara
  • Suara serak
  • Sulit bernafas
  • Bermasalah saat menaiki tangga atau mengangkat benda
  • Kelelahan.

Penyebab

Myasthenia gravis adalah gangguan neuromuskular yang biasanya disebabkan oleh autoimun. Seperti yang sudah sering kita ketahui, yang dimaksud autoimun adalah kondisi sistem kekebalan tubuh kita secara keliru menyerang sel atau jaringan yang sehat. Pada pasien dengan myasthenia gravis, antibodi menyerang jaringan neuromuskular sehingga menimbulkan kerusakan pada membran neuromuskular.

Keadaan kerusakan ini mengurangi kinerja zat neurotransmitter, yaitu asetilkolin, yang merupakan zat penting untuk terjadinya kesinambungan antara sel-sel saraf dan otot sehingga terjadilah kelemahan otot.

Sebenarnya, penyebab pasti reaksi autoimun pada kondisi ini masih di teliti lebih lanjut oleh para ilmuwan. Menurut Muscular Dystrophy Association, sebuah teori menyatakan bahwa protein virus atau bakteri tertentu dapat mendorong tubuh untuk menyerang asetilkolin.

Diagnosis

Dokter akan melakukan wawancara (anamnesis) secara terperinci mengenai riwayat penyakit pasien dan juga pemeriksaan fisik. Jika dokter menduga adanya keadaan myasthenia gravis, umumnya akan dilakukan pemeriksaan neurologis lengkap meliputi:

  • Pemeriksaan pergerakan mata
  • Pemeriksaan fungsi motorik (seperti menyentuh hidung dengan jari Anda secara berulang)
  • Pemeriksaan refleks
  • Pemeriksaan tonus otot
  • Pemeriksaan fungsi sensorik.

Selain itu, jika diperlukan, dokter akan melakukan beberapa tes tambahan seperti:

  • Uji laboratorium darah (melihat ada atau tidaknya antibodi yang terkait dengan kondisi myasthenia gravis)
  • Uji stimulasi saraf berulang
  • Tes edrophonium: tes ini dilakukan secara intravena dan hanya diberikan kepada pasien  di bawah pengawasan dokter.
  • CT scan atau MRI (untuk menyingkirkan diagnosis tumor).

Penanganan

Dapat dikatakan tidak ada obat khusus untuk mengatasi kondisi ini. Tujuan penanganan adalah untuk mengurangi gejala yang timbul dan mengontrol aktivitas sistem kekebalan tubuh. Beberapa penanganan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Perubahan gaya hidup

Ada beberapa hal yang dapat pasien lakukan di rumah untuk meringankan gejala myasthenia gravis, seperti menghindari stress dan paparan terhadap panas berlebihan karena dua hal tersebut dapat memperburuk gejala, perbanyak waktu untuk istirahat karena hal ini dapat meminimalisir kelemahan otot yang terjadi.

Penanganan ini tidak dapat menyembuhkan myasthenia gravis. Namun, pada beberapa pasien, gejala yang ada dapat berkurang sehingga memungkinkan untuk tidak mendapat pengobatan khusus.

  • Obat

Obat-obatan seperti imunosupresan dan kortikosteroid dapat digunakan untuk menekan sistem kekebalan tubuh. Obat-obatan ini membantu meminimalkan respons imun yang bersifat abnormal pada kondisi myasthenia gravis. Selain itu, inhibitor kolinesterase seperti pyridostigmine dapat digunakan untuk meningkatkan terjadinya kesinambungan antara saraf dan otot.

  • Pengangkatan kelenjar thymus

Pengangkatan kelenjar thymus yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh mungkin merupakan penanganan sesuai untuk pasien. Beberapa penelitian menyebutkan, setelah kelenjar thymus di angkat, pasien biasanya mengalami peningkatan aktivitas pada otot rangka (keadaan kelemahan otot lebih membaik).

Menurut Yayasan Myasthenia Gravis Amerika, antara 10 sampai dengan 15 persen pasien dengan MG akan memiliki tumor di kelenjar thymus mereka. Meskipun tumor tersebut di kategorikan jinak, biasanya dokter tetap melakukan pengangkatan tumor karena sewaktu-waktu keadaan ini bisa berubah menjadi kanker.

  • Plasmapheresis

Plasmapheresis (plasma exchange) merupakan proses menghilangkan antibodi berbahaya dari darah, sehingga dapat menghasilkan peningkatan kekuatan otot. Dapat dikatakan ini merupakan pengobatan jangka pendek. Mengapa demikian? Karena sejatinya, tubuh terus menghasilkan antibodi (termasuk yang berbahaya) setiap saat sehingga kelemahan otot pun dapat terulang kembali. Namun, meskipun demikian, plasmapheresis ini sangat membantu pasien myasthenia gravis sebelum operasi dilakukan atau selama masa-masa kelemahan otot yang ekstrim.

  • Imunoglobulin

Penanganan ini dilakukan secara intravena. Prosedur ini melibatkan antibodi normal dari pendonor. Meskipun belum sepenuhnya diketahui bagaimana mekanisme penanganan ini, para ahli berpendapat metode terapi ini cukup efektif.

Komplikasi

Salah satu komplikasi potensial yang paling berbahaya dari myasthenia gravis adalah krisis myasthenia; dimana pasien pada keadaan ini mengalami kelemahan otot yang dapat mengancam jiwa terutama otot pernafasan. Selain itu, seseorang dengan myasthenia gravis memiliki risiko lebih tinggi terkena gangguan autoimun lainnya, seperti lupus (SLE) dan penyakit rheumatoid arthritis.

Semoga bermanfaat!

 

Baca juga:

Konsultasi kesehatan kini bisa langsung lewat gadget Anda. Download aplikasi Go Dok di sini.