Mioma Uteri ; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Mioma uteri

 

 

Mioma uteri adalah tumor jinak yang berasal dari rahim. Penyakit ini sering terjadi pada perempuan usia reproduktif sekitar 20-25% dengan faktor yang tidak diketahui secara pasti. Gejala yang sering ditemukan berkaitan dengan lokasi, ukuran, maupun karakteristik miom.

Mengenal mioma uteri

Mioma uteri adalah tumor jinak yang berasal dari rahim. Nama lainnya adalah fibromioma uteri, uterine fibroid, atau leiomioma uteri.

Epidemiologi

Mioma uteri sering terjadi pada perempuan usia reproduktif sekitar 20-25% dengan faktor yang tidak diketahui secara pasti. Kejadian lebih tinggi pada usia 35 tahun. Kejadiannya 3-9 kali lebih banyak pada ras kulit hitam dibandingkan ras kulit putih.

Penelitian di Amerika Serikat memilih perempuan berusia 35-49 tahun secara acak dan mendapatkan pada ras Afrika Amerika sebanyak 60% pada usia 35 tahun dan >80% pada usia 50 tahun. Pada ras kaukasia sebanyak 40% pada usia 35 tahun dan hampir 70% pada usia 50 tahun. Di Indonesia, kejadiannya ditemukan 2,39-11,87% dari semua pasien ginekologi yang dirawat.

Seringkali mioma uteri tidak bergejala namun gejala yang bisa ditimbulkan berupa perdarahan lama saat haid, nyeri saat haid, hingga masalah kesuburan. Di Amerika Serikat, perdarahan hebat oleh mioma uteri merupakan indikasi utama dilakukan histerektomi atau operasi pengangkatan rahim.

Penyebab

Penyebab pasti mioma uteri belum diketahui, akan tetapi terdapat hubungan antara pertumbuhan tumor dengan:

1. Faktor genetik

Adanya kromosom pembawa 145 gen yang diperkirakan berpengaruh pada pertumbuhan mioma dan beberapa ahli mengatakan penyakit ini diwariskan dari gen laki-laki. Riwayat keluarga yang mengalami mioma uteri meningkatkan kemungkinan menderita mioma 2,5-3 kali dibandingkan wanita tanpa garis keturunan mengalami mioma uteri.

2. Umur

Paling sering pada usia 35-50 tahun (sekitar 40%). Kejadiannya jarang pada usia di bawah 20 tahun dan saat menopause.

3. Hormonal

Pengaruh hormon seperti estrogen, progesteron dan hormon pertumbuhan memengaruhi pertumbuhannya.  Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral lebih kecil 70% risikonya mengalaminya daripada yang belum pernah menggunakannya

4. Obesitas

Obesitas berperan dalam terjadinya mioma uteri. Hal ini diperkirakan akibat jumlah hormon estrogen yang meningkat pada obesitas sehingga berhubungan dengan peningkatan pertumbuhannya.

5. Kehamilan dan jumlah kelahiran

Penelitian menunjukkan sekitar 60% kejadian mioma berkembang pada wanita yang tidak pernah hamil atau hanya hamil satu kali. Penelitian di Jepang menunjukkan risiko pada wanita yang telah melahirkan lebih 5 kali lebih kecil dari wanita yang belum pernah melahirkan.

6. Penyakit lain yang diderita

Perempuan dengan hipertensi memiliki risiko kira-kira 5 kali lipat mengalami mioma uteri daripada yang memiliki tekanan darah normal.

Gejala

Sebagian besar pasien dengan mioma uteri tidak mengalami keluhan apa-apa. Gejala yang sering ditemukan berkaitan dengan lokasi, ukuran, maupun karakteristik mioma seperti:

  • Massa atau benjolan di perut bagian bawah
  • Perdarahan abnormal: Sebanyak 30% wanita dengan penyakit ini mengalami kelainan menstruasi seperti perdarahan banyak atau menstruasi yang lebih sering.
  • Nyeri perut
  • Efek tekanan: Apabila pertumbuhan mioma menekan organ di sekitarnya seperti kandung kemih, usus, dan rahim maka bisa timbul gangguan dalam berkemih atau defekasi, sumbatan dalam usus, dan abortus spontan.
  • Penurunan kesuburan dan abortus: Ini hanya terjadi pada sekitar 2-3% pasien dengan mioma uteri. Penyakit ini mengganggu proses perkembangan janin di dalam uterus.

Diagnosis

Dokter akan melakukan pemeriksaan seperti:

  • Tanya jawab mengenai gejala tanda serta faktor risiko mioma uteri
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan penunjang:
    • Laboratorium
    • Ultrasonografi (USG), histeroskopi, Intravenous Pyelography (IVP),  Magnetic Resonance Imaging(MRI) atau Computed Tomography/CT Scan.

Penanganan

Apabila masih kecil dan tidak menimbulkan gangguan mioma uteri tidak membutuhkan pengobatan. Tetapi harus dipantau setiap 3-6 bulan.

Penanganan yang diberikan mempertimbangkan faktor risiko, keadaan pasien, dan kondisi tumor. Bila kondisi sangat buruk maka perlu perbaikan nutrisi maupun transfusi. Pada keadaan gawat darurat perlu dipersiapkan tindakan bedah segera untuk menyelamatkan pasien.

  • Terapi hormonal

Pemberian hormon seperti Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) agonist memperbaiki gejala klinis mioma uteri dengan mengurangi ukuran mioma. Terapi hormonal lainnya seperti kontrasepsi oral dan progesteron mengurangi gejala perdarahan tetapi tidak mengurangi ukurannya.

  • Terapi pembedahan

Terapi bedah untuk mioma uteri diindikasikan apabila terdapat perdarahan yang tidak membaik dengan obat-obatan, adanya tumor ganas, mioma saat masa menopause, infertilitas, nyeri sangat mengganggu, gangguan berkemih, anemia akibat perdarahan. Adapun jenis tindakan pembedahan yang dilakukan adalah miomektomi yaitu mengambil mioma saja tanpa pengangkatan rahim dan/atau histerektomi yaitu pengangkatan mioma dengan rahim.

  • Terapi lain

Penanganan lain untuk mioma uteri berupa embolisasi arteri uterina yaitu dengan membatasi jumlah darah ke mioma sehingga ukurannya dapat mengecil dan high frequency ultrasound treatment of fibroids (HIFU) yaitu dengan menggunakan gelombang ultrasonik yang menyebabkan mioma mengecil.

Semoga bermanfaat!

 

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari SmartphoneDownload aplikasinya di sini.

LK/JJ/MA

Referensi