Mengatasi #HausEksis dengan Cara Positif

mengatasi haus eksis

Mengatasi #HausEksis : Fenomena #HausEksis ini pun membuat kita miris dan bertanya-tanya, kenapa malah hal negatif yang dimanfaatkan seseorang untuk dikenal di media sosial. Padahal, masih banyak cara yang lebih baik untuk memanfaatkan media sosial.

 

pijarpsikologi.orgKehidupan manusia saat ini begitu lekat dengan media sosial. Kelekatan itu pun mendorong kita untuk mempunyai akun di berbagai macam platform yang ada. Kemudian, kita menjadi terbiasa untuk membagikan apapun yang kita suka, yang kita inginkan, serta berkomunikasi dengan bebas di media sosial.

Pernahkah kita merasa seolah ada dorongan untuk mengikuti tren dalam bermedia sosial? Seolah berlomba-lomba mengadakan birthday party yang menarik, membagikan tempat nongkrong yang terlihat mewah, atau tempat-tempat alam yang begitu indah. Selain itu, kita juga melihat fenomena-fenomena yang viral dengan cepat namun sesungguhnya fenomena tersebut tidaklah berarti buat kita.

Sebagai contoh, cuitan seseorang yang hanya bisa mengkritisi dan menghujat, unggah tentang kehidupan privasi seseorang, dan bergosip ria melalui akun yang sudah dikenal banyak orang.

Fenomena ini pun membuat kita miris dan bertanya-tanya, kenapa malah hal negatif yang dimanfaatkan seseorang untuk dikenal di media sosial. Padahal, masih banyak cara yang lebih baik untuk memanfaatkan media sosial.

Berikut beberapa cara mengatasi #HausEksis dengan cara positif:

Berpikir Dua Kali sebelum Mengunggah

Memang setiap hal yang kita unggah di media sosial akan mendapat respons yang beragam dan kita juga tidak mampu mengontrol itu semua. Meskipun begitu, bukan berarti kita merasa bebas untuk mengunggah apapun yang kita inginkan. Terlepas dari keinginan untuk dikenal secara luas, ada baiknya kita mengecek kembali apakah hal yang ingin kita unggah adalah sesuatu yang baik bagi khalayak.

Jika memang kita merasa terkekang, ada baiknya kita membagikannya hanya kepada lingkaran terdekat atau lingkaran yang kita percaya. Lingkaran yang kita anggap memang telah memahami dan memaklumi perilaku kita di media sosial seperti apa.

Anggaplah Dunia Virtual seperti Dunia Nyata

Seringkali kita menganggap dunia virtual dan nyata adalah dua hal yang berbeda. Perbedaan ini membuat kita memberikan sikap dan perilaku yang berbeda pula dalam berinteraksi di dalamnya. Ketika kita merasa terlalu takut untuk berpendapat di media sosial, maka kita menjadi begitu percaya diri untuk berpendapat di media sosial.

Hal itu memang tidak salah, namun tidak sepenuhnya juga benar. Sederhananya, apabila kita merasa kita tidak ingin diperlakukan seperti itu di dunia nyata maka jangan lakukan itu di media sosial. Misalnya, kita tidak ingin direndahkan atau dihujat di dunia nyata, maka jangan merendahkan dan menghujat orang lain juga di media sosial.

Apa yang Telah Dibagikan di Media Sosial akan Menjadi Abadi

Mungkin, kita sering impulsif dalam memanfaatkan media sosial kita. Impulsivitas kita mendorong untuk mengunggah apapun yang sedang kita rasakan dengan cepat agar diri merasa lega. Tren untuk langsung mengunggah kehidupan seharian kita memang terasa begitu nyata di media sosial. Sampai-sampai kita lupa, mana yang seharusnya dibagikan kepada orang lain, dan yang seharusnya dibagikan untuk diri kita sendiri saja.  Kita pun lupa bahwa apa yang telah dibagikan di media sosial itu dapat dilihat orang lain dengan cepat dan menjadi kekal di dunia sana.

Terkadang, kita pun merasa menyesal karena baru menyadari bahwa yang kita bagikan adalah suatu hal yang salah. Terlebih lagi ketika apa yang kita bagikan ternyata menerima banyak komentar negatif yang membuat diri kita merasa tidak nyaman. Meskipun kita mampu menghapusnya, tetap saja akan ada yang ingat dan menyimpan jejak kita di media sosial.

Tetaplah Bersikap Positif

Apa yang kita rasakan ketika membaca suatu unggah yang bersifat begitu negatif dan provokatif? Tentunya kita akan merasa kesal dan memberikan penilaian buruk terhadap orang yang telah mengunggah hal negatif tersebut. Muncul spekulasi terhadap orang tersebut bahwa dirinya memang tidak berpendidikan, hanya ingin mencari sensasi saja, kurang perhatian, dan lain sebagainya.

Namun ternyata, spekulasi yang muncul dalam diri kita tersebut juga seolah menyamakan diri kita dengan mereka yang semudah itu berkata negatif di media sosial.

Inilah tantangan dalam bermedia sosial, terutama bagi kita yang ingin eksis di media sosial. Suatu hal yang positif dan negatif dapat terlihat begitu relatif. Sebagai tambahan, suatu hal yang negatif pun dapat memancing kita menjadi ikut berperilaku negatif. Sehingga, kita pun turut dinilai buruk oleh orang-orang yang berada di jejaring sosial kita.

Perlu diingat bagi kita, untuk bisa menyebarkan hal yang positif dan bermanfaat di media sosial. Bukan suatu hal yang menjelekkan atau menjatuhkan pihak lain ataupun diri kita.

Diingat karena Kebaikan bukan Keburukan

Media sosial akan terus berkembang seiring berjalan hidupnya kita. Dengan demikian, sulit bagi kita untuk menghindari aktivitas yang ada di media sosial. Mau tidak mau, kita juga harus belajar untuk memanfaatkan media sosial dengan baik, termasuk menggunakan cara yang baik untuk eksis di media sosial.

Diingat karena kebaikan akan menjadi lebih bermakna daripada diingat karena keburukan yang kita bagikan di akun media sosial kita.

 

Pijar Psikologi adalah media layanan psikologi yang menyediakan konsultasi gratis dan artikel informatif seputar kehidupan sehari hari dari sudut pandang psikologi. Kunjungi pijarpsikologi.org untuk artikel menarik seputar psikologi lainnya.

 

Baca juga: 

Konsultasi dokter kini bisa lewat fitur ‘Tanya Dokter’. Download aplikasinya Go Dok di sini.

 

Content partnerpijarpsikologi.com