Memahami Anak yang Gemar Boyband dan Girlband K-Pop

Penutupan Asian Games 2018 diisi oleh boyband Suju dan iKON. Wah pastinya ELF (penggemar Suju) dan iKonics (penggemar iKON) yang merupakan remaja dan anak-anak senang banget, nih.

Penampilan mereka memang menggetarkan banget ya, Bun, pada closing ceremony Asian Games 2018 semalam. Pasti Bunda dan anak-anak masih terngiang-ngiang ya dengan Suju dan iKON.

Menggemari boyband K-Pop sah-sah saja. Anak-anak Ivanka Trump, putri Presiden AS Donald Trump, juga suka dengan boyband K-Pop yakni BTS dan EXO. Ivanka Trump kala itu menyebut BTS sebagai salah satu musisi yang lagunya kerap didengarkan oleh anak-anaknya.

Nah, jika anak-anak kita termasuk yang menggemari boyband atau girlband K-Pop, yuk kita pahami kegemarannya. Dengan lebih memahami, saat anak terlihat melenceng dari hal-hal positif, kita bisa bantu meluruskannya lagi.

Lalu apa sih sisi dampak anak gemar K-Pop? Jika ada dampak negatifnya, bagaimana mencegahnya? Dikutip dari berbagai sumber, berikut pemaparannya.

A. Sisi positif

1. Bisa bahasa korea

Para boyband K-Pop itu kan menyanyi dengan bahasa Korea. Namun ada juga yang menggunakan bahasa Inggris.

Karena itu, anak-anak jadi semangat belajar bahasa Korea. Hal ini demi mengerti maksud dari lagu yang dibawakan boyband atau girlband idolanya. Belajar bahasa Korea bisa dipelajari dengan menonton drama Korea. Tapi jangan sampai dengan menonton drama Korea, belajar anak jadi terganggu ya, Bun.

2. Rajin menabung

Karena suka banget sama boyband Korea Selatan (Korsel) itu, anak-anak jadi ingin ke negeri Ginseng itu. Tapi kan nggak murah lho tiket ke sana.

Nah sebagai orang tua, kita bisa meminta anak untuk menabung agar dapat membeli tiket pesawat dan akomodasi ke Korsel. Anak pasti sangat senang saat bisa pergi ke Korsel dengan uang tabungannya.

3. Belajar budaya korea

Mengidolakan boyband atau girlband Korea, biasanya juga diikuti dengan upaya untuk lebih memahami budayanya. Ya, anak-anak jadi termotivasi belajar budaya Korea, misalnya mereka jadi tahu pakaian tradisional Korea yang disebut hanbok. Hanbok terbagi atas baju bagian atas yang disebut jeogori, celana panjang untuk laki-laki yang disebut baji dan rok wanita atau chima.

B. Mencegah sisi negatif 

1. Cinta pada negara sendiri bisa berkurang

Jangan sampai si kecil menyukai musik K-Pop lantas melupakan musik negeri sendiri ya, Bun. Jangan sampai juga si kecil lebih memahami budaya Korea ketimbang budaya negeri sendiri.

Karena itu yang terbaik adalah kita mendukung kegemaran si kecil namun tidak lupa untuk tetap selalu mengenalkan dengan berbagai hal asli negeri sendiri. Jadi seimbang, bukan?

2. Tiru budaya 

Saking cintanya dengan yang berbau Korea, anak-anak bisa jadi meniru budaya Korea. Apalagi anak-anak adalah peniru yang baik.

Di sinilah peran kita sebagai orang tua untuk memberi pemahaman yang baik pada anak. Jangan sampai hanya demi mengimitasi idolanya membuat anak kita justru mendapat banyak kesulitan.

3. Konsumtif

Industri K-Pop biasanya mengeluarkan merchandise. Banyak fans K-Pop yang rela merogoh kocek karena saking fanatiknya dengan boyband dan girlband kesayangan mereka. Akibatnya mereka lebih konsumtif, padahal barang merchandise tidak terlalu dibutuhkan para fans.

Nah, di sini kita bisa memberi pemahaman pada anak tentang perlunya membeli barang yang dibutuhkan, bukan sekadar diinginkan. Jadi mengidolakan siapa pun sah-sah saja, tapi harus tetap ‘menginjak Bumi’ ya, Nak.

Sumber: haibunda.com

Content partnerhaibunda.com