Media Pembelajaran Seks yang Bisa Diterima Anak Sejak Dini

media pembelajaran seks

Media pembelajaran seks sebaiknya sudah menjadi prioritas orangtua dalam mendidik anak, agar mereka dapat memahami batasan atas ruang privasi diri sendiri. Dengan begitu, anak dapat terhindar dari perilaku penyimpangan seksual yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

 

Go Dok Maraknya eksploitasi seksual pada anak di bawah umur membuat resah masyarakat dari berbagai kalangan. Salah satu penyebabnya, minimnya perhatian orangtua dalam memanfaatkan media pembelajaran seks kepada anak, yang seharusnya bisa diberikan sejak usia dini.

Mungkin hal tersebut masih dianggap tabu bagi sebagian orangtua, namun memberikan pelajaran seks kepada anak nyatanya dapat memberikan kesadaran pada anak, bagian tubuh mana saja yang menjadi wilayah privasi dan tidak boleh disentuh orang lain.

Selain itu, tujuan dari pembelajaran seks sendiri juga dapat menanamkan pengetahuan akan hal-hal yang berkaitan dengan hubungan antara lawan jenis, keamanan, serta kenyamanan saat anak menjalin hubungan sosial dengan temannya di sekolah.

Memang tak bisa dipungkiri, masih banyak orang yang menganggap hal ini tabu untuk dibicarakan, apalagi jika dibicarakan di masyarakat budaya ketimuran seperti di Indonesia. Akibatnya, hal ini menjadi salah satu kendala utama dalam kampanye pendidikan seks, yang menyebabkan masyarakat kurang antusias untuk mempelajari hakikat hubungan seksual antar manusia.

Lalu, seperti apa praktik pemanfaatan media pembelajaran seks yang bisa diterapkan kepada anak?

1. Serial atau Film

Mungkin hal ini terdengar mengejutkan, namun faktanya, satu dari tiga anak pernah mendapatkan tindakan seksual yang tidak diinginkan. Tentunya hal tersebut menjadikan pendidikan seks penting dilakukan sedini mungkin, bukan?

Salah satu media pembelajaran seks yang bisa dicoba dan berdampak efektif berasal dari materi-materi yang bersifat non formal dan ada di sekitar Anda, seperti melalui film anak misalnya. Alasannya, tayangan tersebut memiliki alur cerita yang mudah mudah dicerna oleh si anak.

Selain itu, tokoh utama yang ada di dalamnya juga dapat lebih mudah dicerna dan diingat oleh anak. Konflik yang terjadi di dalam ceritanya juga lebih relevan dengan interaksi sosial yang sedang terjadi pada teman-teman seusianya, lho.

Faktanya, sebuah penelitian menyebutkan, 67 persen dari koresponden yang berusia antara 15-29 tahun belajar menemukan informasi yang berguna dari serial atau film yang muncul di televisi.

2. Majalah

Kolaborasi antara informasi dan gambar yang menarik nan edukatif lebih disukai oleh para pelajar dibandingkan dengan metode ceramah yang cenderung membosankan. Dari kombinasi tersebut, pola pikir anak akan terbentuk di dalam alam bawah sadarnya, dan kemudian merumuskan nilai moral mengenai aktivitas seksual sesuai dengan usianya.

Selain itu, gambar lebih mudah diingat dibandingkan dengan kata. Sebuah survey menyebutkan, 69 persen koresponden mengaku mereka juga mendapatkan pendidikan seks dari majalah yang mereka sukai.

3. Rekan

Sebanyak 76 persen dari peserta target penelitian mengakui bahwa mereka lebih banyak belajar mengenai seks dari rekan sejawat. Ada pertukaran pengalaman mengenai kehidupan seks yang pernah dialami oleh diri sendiri atau didengar dari orang lain terbukti mampu dicerna lebih cepat.

Jelas, interaksi yang  terjadi dalam grup yang sama lebih komunikatif dan berjalan dengan dua arah atau lebih. Hal ini menjadikan pendidikan seks melalui rekan terbukti efektif dan efisien. Dengan begini, lebih banyak informasi yang dipelajari dan tertanam sebagai nilai moral seks yang diterima.

Namun ingat, Anda sebagai orangtua juga harus mengawasi ketika anak sedang berbagi cerita dan pengalaman dengan teman-teman seusianya. Dengan begitu, jika ada informasi yang salah dan kurang tepat bisa segera diluruskan dan disaring oleh orangtua, sebelum si anak menganggapnya sebagai kebenaran.

4. Internet

Kecanggihan teknologi membuat ‘Kids zaman now’ lebih banyak menghabiskan waktunya bersama internet dibandingkan dengan bertatap muka secara langsung. Hal ini bisa dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran seks yang bisa diterima oleh semua usia.

Lebih dari 85 persen subjek penelitian menyatakan bahwa mereka belajar secara otodidak melalui internet. Dengan bimbingan yang sesuai, tentunya internet bisa menjadi media pembelajaran seks yang menarik dan efektif. Semakin mudah untuk memulai sejak dini memberi pendidikan seks yang menarik dan efektif, bukan?

Sayangnya, terkadang informasi yang diterima tidak sesuai dengan fakta sebenarnya dan kondisi ini perlu diwaspadai. Sumber informasi yang dicerna harus kredibel dan berasal dari fakta ilmiah sesuai dengan hasil penelitian.

Nah, salah satu aplikasi kesehatan Go Dok merupakan salah satu contoh dari sedikit media pembelajaran seks di Indonesia berbasis internet yang bisa Anda percaya, lho. Aplikasi ini menyediakan informasi seputar gaya hidup dan ragam penyakit berdasarkan hasil penelitian terkini, dengan kredibilitas yang tinggi sehingga informasinya bisa dipertanggungjawabkan.

 

Setelah membaca ulasan di atas, memanfaatkan media pembelajaran seks kepada anak sejak usia dini secara menarik dan efektif merupakan hal yang mudah, bukan? Anda sebagai orang tua harus mulai peduli untuk memberikan pengetahuan seputar seks kepada anak, dengan memanfaatkan media favorit mereka, apakah itu televisi, majalah, maupun smartphone. Selamat mencoba!

 

Baca juga:

 

RZ/PJ/TP