Lymphogranuloma Venerum (LGV) ; Penyebab – Penanganan

Lymphogranuloma venereum

Lymphogranuloma venereum (LGV) adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Beberapa faktor risiko dari penyakit ini berada atau mengunjungi daerah endemis, pekerja seks komersial, melakukan anal dan oral seks hingga seks tanpa memakai kondom.

 

Mengenal Lymphogranuloma Venerum

Lymphogranuloma venereum (LGV) adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Kondisi ini ditandai dengan benjolan atau luka borok pada kelamin  yang disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati) di daerah paha dan selangkangan yang terasa nyeri. LGV tidak terbatas hanya di alat kelamin, tapi dapat juga menyebar ke area dubur dan rektum.

LGV endemik di daerah-daerah tertentu di Afrika, Asia Tenggara, India, Karibia, dan Amerika Selatan. Sangat jarang di negara-negara industri, tetapi dalam 10 tahun terakhir penyakit ini telah semakin dikenal di Amerika Utara, Eropa, dan Inggris. LGV lebih sering terjadi pada pria daripada wanita.

Penyebab

Lymphogranuloma venereum (LGV) adalah penyakit infeksi jangka panjang (kronis) pada sistem limfatik (kelenjar getah bening). Hal ini disebabkan oleh 3 tipe (serotipe) yang berbeda dari bakteri Chlamydia  trachomatis, serotype tersebut adalah L1, L1, dan L3.

Infeksi terjadi setelah kontak langsung dengan kulit atau selaput lendir dari pasangan yang terinfeksi. Bakteri ini tidak mampu menembus kulit yang utuh (hanya mampu menembus apabila ada luka terbuka).  Bakteri akan menyebar melalui jalur kelenjar getah bening. Awalnya akan menyebar ke kelenjar getah bening regional, lalu bakteri tersebut akan berkembang sehingga menyebabkan penyakit di seluruh tubuh. Meskipun transmisi didominasi seksual, kasus penularan melalui kesalahan di laboratorium dan kontak nonseksual bisa terjadi.

Faktor Risiko

Faktor risiko dari Lymphogranuloma venereum (LGV) adalah:

  • Berada atau mengunjungi daerah endemis
  • Melakukan anal dan oral seks
  • Seks tanpa memakai kondom
  • Pekerja seks komersial
  • Melakukan Fistingtanpa sarung tangan
  • Berbagi mainan seks dengan orang lain.
Gejala

1. Tahap pertama (LGV primer)

Tahap ini terjadi 3-30 hari setelah bakteri masuk. LGV primer diawali dengan munculnya benjolan dengan atau tanpa nanah kecil yang tidak nyeri. Benjolan ini dapat pecah dan menyebabkan luka kecil, biasanya sembuh dengan cepat tanpa ada bekas.

Tempat infeksi yang paling umum untuk pria adalah sulkus koronal, preputium, glans, dan skrotum. Pada pria dapat muncul gejala infeksi saluran kemih, namun jarang.

Tempat infeksi yang paling umum pada wanita adalah dinding vagina belakang, serviks, dan vulva.

2. Tahap kedua (LGV sekunder)

LGV sekunder dimulai 2-6 minggu setelah LGV primer.

Tahap kedua ini terdiri dari pembesaran kelenjar getah bening regional yang nyeri (biasanya di kelenjar getah bening sekitar paha dan selangkangan). Kelenjar getah bening yang membesar dan lunak (disebut buboes) menempel pada jaringan yang lebih dalam dan kulit di atasnya, yang menjadi meradang. Pada perempuan sering muncul gejala sakit punggung atau rasa sakit di panggul (bagian terendah dari batang tubuh), dan kelenjar getah bening di dekat rektum dan di panggul menjadi bengkak dan nyeri. Pada pria dan wanita, kulit di atas kelenjar getah bening yang terkena bisa rusak, membentuk lorong (disebut saluran sinus) yang memungkinkan nanah atau darah mengalir keluar dan ke kulit

Gejala tambahan yang terkait dengan tahap kedua termasuk demam, menggigil, nyeri otot, dan lemas.

Penyebaran ke seluruh tubuh dapat menyebabkan kondisi berikut:

3. Tahap ketiga (LGV tersier)

LGV tahap ketiga disebut sindrom genitoanorektal (sindrom kelamin, anus, dan rektum). Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita sebagai akibat dari tidak dikenalinya gejala selama dua tahap pertama.

Keterlibatan rektum lebih sering terjadi pada pria yang berhubungan seks dengan pria (sesama jenis) dan pada perempuan yang melakukan hubungan anal.

LGV tersier ditandai oleh proctocolitis (infeksi pada usus besar dan rektum) dengan gejala seperti keluar darah atau nanah dari rektum (darah di tinja). Meskipun proctocolitis lebih sering dikaitkan dengan penyakit radang usus, penyakit menular seksual (PMS) harus dipertimbangkan dalam diagnosis ini, terutama pada hubungan seks pria dengan pria (sesama jenis -gay).

Diagnosis

Dokter  akan memeriksa dan bertanya tentang riwayat medis dan riwayat seksual pasien. Selain pemeriksaan dan tanya jawab, dokter akan menyaranakan pemeriksaan tambahan untuk menegakkan diagnosis Lymphogranuloma venereum (LGV) dengan:

  • Tes laboratorium darah

Pasien dinyatakan positif menderita LGV bila tes darah mengidentifikasi antibodi terhadap Chlamydia trachomatis.

  • Tes pada sampel dari luka

Pasien dinyatakan positif menderita LGV bila hasil dari tes meningkatkan jumlah materi genetik unik bakteri (disebut tes amplifikasi asam nukleat atau NAAT), yang dilakukan pada sampel dari luka yang terinfeksi di selangkangan atau dubur memiliki hasil positif.

Penanganan

Penanganan dapat dilakukan dengan pencegahan dan pemberian antibiotik

1. Antibiotik

Jika diberikan pada tahap awal terjadinya infeksi lymfogranuloma venereum, antibiotik seperti doxycycline, erythromycin, atau tetracycline -diminum selama 3 minggu, dapat menyembuhkan infeksi. Akan tetapi, pembengkakan mungkin menetap jika pembuluh limfatik rusak permanen.

Dokter akan menggunakan jarum atau membuat sayatan untuk membuang kelenjar getah bening yang membesar dan lunak (bubo) jika pembengkakan menyebabkan ketidaknyamanan.

Jika orang telah melakukan hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi selama 60 hari sebelum gejala dimulai, mereka harus diperiksa dan diobati dengan azitromisin dosis tunggal atau dengan doksisiklin yang diminum selama 7 hari terlepas dari apakah bukti menunjukkan bahwa mereka menderita LGV atau tidak.

Setelah perawatan tampak berhasil, orang tersebut harus diperiksa secara berkala selama 6 bulan.

2. Pencegahan

Langkah-langkah umum berikut dapat membantu mencegah LGV (dan penyakit menular seksual lainnya), yaitu :

  • Penggunaan kondom secara teratur dan benar.
  • Menghindari seks yang tidak aman, seperti sering mengganti pasangan seks atau melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial atau dengan pasangan yang memiliki pasangan seks lain dengan infeksi menular seksual.
  • Diagnosis yang cepat dan pengobatan infeksi (untuk mencegah penyebaran ke orang lain).
  • Tidak berhubungan seks (anal, vaginal, atau oral) adalah cara yang paling dapat diandalkan untuk mencegah penyakit menular seksual tetapi seringkali hal ini sulit dilakukan.
Komplikasi
  • Terowongan abnormal antara rektum dan vagina (fistula)
  • Peradangan otak (ensefalitis – sangat jarang)
  • Infeksi pada sendi, mata, jantung, atau hati
  • Peradangan jangka panjang dan pembengkakan pada alat kelamin
  • Bekas luka dan penyempitan di rektum.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari Smartphone. Download aplikasinya di sini.

 

AQ/PJ/MA

Referensi