Kenali Gangguan Mental setelah Melahirkan

Gangguan mental setelah melahirkan

Gangguan mental setelah melahirkan yang mungkin saja terjadi salah satunya Post-partum depression (PPD), biasanya penderita akan mengalami kesedihan, putus asa, kecemasan, mudah marah – namun mereka merasakan itu semua lebih kuat dari yang seharusnya.

Go DokKelahiran adalah momen yang umumnya menyenangkan dan menggembirakan. Namun tak banyak yang mengetahui kalau melahirkan dapat memengaruhi kesehatan mental seorang perempuan.

Salah satu gangguang mental setalah melahirkan yang dialami seorang ibu yaitu baby blues, perubahan mood yang dihasilkan dari tingginya perubahan hormon yang terjadi selama dan setelah melahirkan.

Mereka juga mungkin mengalami gangguan mental setelah melahirkan lainnya seperti post-partum depression atau bahkan, meski jarang terjadi, kondisi yang parah bernama post-partum psychosis.

Secara umum, depresi klinis terjadi pada sekitar 15-25 persen dari populasi, dan perempuan memiliki peluang dua kali lipat dari laki-laki untuk mengalaminya. Hal ini dikarenakan perempuan lebih mungkin mengalami depresi selama tahun-tahun reproduksi utama yakni 25-45 tahun. Selain itu, perempuan juga rentan mengalami depresi selama kehamilan dan setelah melahirkan.

Apa saja gangguan mental setelah melahirkan? 

Terdapat tiga jenis perubahan mood yang dapat dialami perempuan setelah melahirkan. Ketiganya adalah:

1. Baby blues

Babby blues yang terjadi pada kebanyakan perempuan segera setelah melahirkan. Ia dianggap normal karena seorang ibu baru hanya akan mengalami perubahan mood mendadak dan ringan seperti perasaan sangat senang dan lalu mengalami perasaan sangat sedih.

Sang ibu mungkin akan menangis tanpa sebab dan merasa tidak sabaran, mudah marah, kelelahan, cemas, kesepian, dan sedih. Baby blues mungkin hanya akan bertahan beberapa jam atau selama satu atau dua minggu setelah melahirkan.

Gangguan mental setalah melahirkan ini biasanya tidak membutuhkan perawatan dari penyedia layanan kesehatan.

2. Post-partum depression (PPD)

Post-partum depression (PPD) dapat terjadi beberapa hari atau bahkan bulan setelah melahirkan. PPD dapat terjadi setelah kelahiran anak ke berapa pun, bukan hanya anak pertama.

Seorang perempuan dapat merasakan hal yang serupa dengan baby blues – kesedihan, putus asa, kecemasan, mudah marah – namun mereka merasakan itu semua lebih kuat dari yang seharusnya.

PPD sering membuat perempuan tidak dapat melakukan hal yang seharusnya dilakukan setiap hari. Ketika kemampuan perempuan untuk berfungsi dengan baik terpengaruh, ia memerlukan bantuan dokter.

Nantinya dokter akan melihat gejala depresi yang dialami dan mengembangkan rencana pengobatan. Jika seorang perempuan tidak mendapatkan pengobatan untuk PPD yang dialaminya, gejala yang ada dapat bertambah buruk.

Meski gangguan mental setelah melahirkan ini adalah kondisi yang serius, kondisi ini dapat diatasi dengan pengobatan dan konseling.

3. Post-partum psychosis

Post-partum psychosis adalah penyakit kejiwaan yang sangat serius hingga dapat memengaruhi ibu baru. Penyakit ini dapat terjadi dengan cepat, kadang dalam tiga bulan pertama setelah melahirkan.

Jika mengalaminya, seorang perempuan dapat kehilangan kontak dengan realitas, mengalami halusinasi pendengaran (mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak sedang terjadi, misalnya seseorang yang berbicara) dan delusi (sangat memercayai sesuatu yang sebenarnya irasional).

Halusinasi visual (melihat sesuatu yang tidak ada) jarang terjadi pada jenis penyakit ini. Gejala lain termasuk insomnia, merasa gelisah dan marah, kelelahan, dan perasaan serta perilaku yang aneh.

Perempuan yang mengalami post-partum psychosis membutuhkan pengobatan secepatnya dan hampir selalu membutuhkan obat. Kadang mereka perlu dirawat di rumah sakit karena memiliki risiko menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Lalu, apa yang menjadi penyebab gangguan mental setelah melahirkan terjadi?

Penyebab dari gangguan mental setelah melahirkan masih belum jelas. Namun beberapa penelitian memaparkan kalau faktor-faktor berikut ini mungkin berkontribusi sebagai penyebabnya:

Perubahan hormon

Seorang perempuan mengalami tingkat fluktuasi hormonal terbesar setelah melahirkan, Fluktuasi hormon yang intens, seperti turunnya tingkat serotonin, yang terjadi setelah melahirkan kemungkinan memainkan peran terhadap pengembangan gangguan kesehatan mental setelah melahirkan.

Risiko situasional

Kelahiran sendiri adalah sebuah perubahan dan transisi besar dalam kehidupan. Perubahan besar dapat menyebabkan stres yang menjadi penyebab depresi. Jika suatu peristiwa besar terjadi tepat saat melahirkan, seorang ibu mungkin akan lebih rentan mengalami gangguan mental setelah melahirkan.

Tekanan hidup

Situasi stres yang terus-menerus dapat menambah tekanan sehingga memicu gangguan mental setelah melahirkan. Contohnya, stres berlebihan di kantor ditambah tanggung jawab sebagai seorang ibu dapat menyebabkan kelelahan emosional yang bisa berujung pada gangguan mental setelah melahirkan.

Sifat hubungan ibu dengan ayah sang bayi dan perasaan yang belum terselesaikan di masa kehamilan juga dapat memengaruhi risiko seorang ibu untuk terkena gangguan mental setelah melahirkan.

Bagaimana pengobatan untuk mengatasinya?

Penyakit mental setelah melahirkan diperlakukan dengan berbeda tergantung pada jenis dan keparahan gejalanya. Pilihan pengobatannya antara lain obat anti kecemasan atau antidepresan, psikoterapi, dan partisipasi dalam kelompok pendukung untuk dukungan emosional dan edukasi. Pada kasus post-partum psychosis, obat-obatan untuk mengatasi psikosis kerap ditambahkan. Perawatan di rumah sakit juga sering diperlukan untuk hal ini.

Jika sedang menyusui, jangan berasumsi kalau Anda tidak dapat mengonsumsi obat untuk depresi, kecemasan, atau bahkan psikosis. Konsultasikan dengan dokter Anda mengenai hal ini. Di bawah pengawasan dokter, banyak perempuan mengonsumsi obat-obatan ketika menyusui. Ini adalah keputusan yang perlu dibuat antara Anda dengan dokter Anda.

Tanpa pengobatan yang tepat, gangguan mental setelah melahirkan dapat bertahan berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Sebagai tambahan pengaruh pada kesehatan ibu, hal ini dapat mengganggu kemampuannya untuk terhubung dan merawat bayinya. Gangguan ini dapat menyebabkan bayi mengalami masalah tidur, makan, dan perilaku seiring mereka bertumbuh.

Suami dan anggota keluarga lain sebaiknya peka untuk melihat gejala gangguan kejiwaan setelah melahirkan pada ibu baru. Jika ada gejala yang terdeteksi, mereka dapat mendorong sang ibu untuk mengunjungi penyedia layanan kesehatan, menawarkan dukungan emosional, dan membantu tugas harian seperti menjaga bayinya atau merapikan rumah.

Jangan biarkan ibu baru ini sendirian karena gangguan yang dialaminya. Beri ia semangat dan dukungan agar dapat segera pulih dan menjalani kehidupannya secara normal seperti sediakala.

 

Baca juga:

Gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk tanya dokter online yang siap 7×24 jam. Download aplikasi Go Dok di sini.

FY/JJ/MA

Referensi