Inkontinensia urin ; Penyebab, Tipe dan Penanganan

Inkontinensia urin

Inkontinensia urin merupakan kondisi tidak terkendalinya ekskresi urin. Hal ini juga terjadi tanpa memerhatikan waktu/kondisi, frekuensi urin, dan jumlah urin sehingga mengakibatkan masalah sosial dan higenis penderitanya.

 

Go DokPernahkah Anda maupun orang-orang di sekitar kesulitan dalam menahan buang air kecil/berkemih? Jika pernah, mungkin saja yang dialami merupakan peristiwa inkontinensia urin. Masih asing dengan istilah itu? Simak penjelasan berikut ini, ya.

Mengenal inkontinensia urin

Inkontinensia urin merupakan kondisi tidak terkendalinya ekskresi urin. Hal ini juga terjadi tanpa memerhatikan waktu/kondisi, frekuensi urin, dan jumlah urin sehingga mengakibatkan masalah sosial dan higenis penderitanya.

Inkontinensia urin lebih sering terjadi pada usia lanjut. Namun, seringkali tidak dilaporkan oleh keluarga karena anggapan bahwa hal tersebut merupakan hal yang wajar terjadi pada usia lanjut dan tidak perlu diobati. Nyatanya, masalah ini merupakan masalah kesehatan yang cukup serius dan bila tidak ditangani dapat menyebabkan berbagai komplikasi.

Epidemiologi

Berdasarkan data epidemiologi didapatkan bahwa terjadinya inkontinensia urin, khususnya tipe desakan/urgensi lebih banyak terjadi pada laki-laki (40-80%). Faktor risiko lain yang berhubungan dengan kejadian kondisi ini ialah usia lanjut, adanya gejala saluran kemih bawah (lower urinary tract symptoms), infeksi saluran kemih (ISK), gangguan kognitif dan fungsional, gangguan neurologi, dan prostatektomi.

Penyebab

Inkontinensia urin, khususnya pada usia lanjut, dapat merupakan sebuah gejala dari penyakit lain. Terlebih, bila gejala tersebut disertai dengan poliuria, nokturia, peningkatan tekanan abdomen, atau gangguan sistem saraf pusat. Beberapa kondisi yang dapat menjadi penyebabnya ialah sebagai berikut :

  1. Gagal jantung
  2. Penyakit ginjal kronik
  3. Diabetes
  4. Penyakit paru obstruktif kronik
  5. Penyakit neurologis, misalnya stroke dan sklerosis multipel
  6. General cognitive impairment
  7. Gangguan tidur, misalnya sleep apnea
  8. Obesitas.
Tipe-tipe Inkontinensia Urin

Berdasarkan tipenya, inkontinensia urin dibagi menjadi lima, yaitu :

  1. Stress : inkontinensia urin yang disebabkan karena peningkatan abdomen, misalnya saat tertawa, bersin, batuk, menaiki tangga, dan aktivitas fisik lain yang meningkatkan tekanan pada abdomen serta kandung kemih.
  2. Desakan/urgensi: inkontinensia urin yang terjadi bila seseorang tidak dapat menahan keluarnya urin saat keadaan yang urgensi (misalnya baru di depan kamar mandi, tetapi urinnya sudah keluar karena tidak tertahankan). Inkontinensia tipe ini dapat merupakan suatu gejala dalam suatu sindrom klinis yang dikenal dengan Overactive bladder.
  3. Mixed: kombinasi dari inkontinensia urin stress dan urgensi.
  4. Luapan/Overflow: keluarnya urin di luar kehendak yang disebabkan karena luapan urin yang berkaitan dengan sumbatan di bawah kandung kemih atau kelemahan otot detrusor.
  5. Kontinu: keluarnya urin di luar kehendak secara terus-menerus.
Diagnosis

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang.

Pada penilaian awal, harus dibedakan antara pasien dengan atau tanpa komplikasi. Inkontinensia urin dengan komplikasi perlu mendapat rujukan ke spesialis dan dapat disertai dengan tanda dan atau gejala sebagai berikut :

  • Nyeri
  • Hematuria(kencing disertai darah)
  • ISK berulang
  • Gangguan berkemih
  • Riwayat operasi atau radioterapi pada daerah panggul
  • Adanya fistula
  • Massa di daerah panggul.

Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah, urin, rontgen, serta tes lain. Beberapa pemeriksaan penunjang yang dilakukan ialah sebagai berikut :

  • Urinalisis: memeriksa sampel urin untuk melihat adanya infeksi, darah, atau kelainan lainnya
  • Catatan kandung kemih: pasien harus melakukan pencatatan masukan air (input), waktu buang air kecil, urin yang keluar (output), rasa mendadak untuk buang air kecil, dan jumlah urin yang keluar.
  • Jumlah sisa urin setelah buang air kecil. Hal inidapat menunjukkan ada atau tidaknya gangguan atau masalah pada otot atau saraf kandung kemih.
  • Urodinamik: pemeriksaan ini mengukur kekuatan otot detrusor dan uretra. Selain itu, pemeriksaan ini penting untuk membedakan tipe inkontinensia urin.
  • Sistoskopi: pemeriksaan menggunakan pipa kecil dan lensa ke dalam uretra. Pemeriksaan ini memiliki fungsi diagnostik juga sebagai terapeutik.
  • USG panggul: pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa ada atau tidaknya kelainan urin atau sistem reproduksi.
Penanganan

Penanganannya berdasar pada penyakit yang menjadi penyebab/menyertai. Namun, terlepas dari hal itu, modifikasi gaya hidup juga dapat membantu mengurangi gejala inkontinensia urin, seperti mengurangi berat badan, mengurangi rokok, memperbanyak aktivitas fisik, dan modifikasi diet. Mengurangi konsumsi kafein/kopi juga dapat mengurangi gejala khususnya pada inkontinensia urgensi. Latihan penguatan otot dasar panggul seperti melakukan senam kaegel dapat menurunkan risiko terjadinya kondisi ini, khususnya untuk inkontinensia urin tipe stress.

Pengobatan yang sering digunakan ialah jenis obat antikolinergik. Sebenarnya obat-obatan ini biasa dipakai untuk penyakit pencernaan, tetapi terdapat beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk kondisi ini.

Pada inkontinensia urin tekanan/stress, pengbatan bertujuan untuk meningkatkan penutupan intrauretra; dengan berfokus pada tegangan otot polos dan lurik uretra.

Pembedahan dipertimbangkan apabila terapi konservatif atau medikamentosa (dengan menggunakan obat) gagal. Pembedahan dapat dilakukan dengan pembedahan terbuka atau laparoskopik.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.

AM/PJ/MA

Referensi