GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) ; Gejala, dan Penanganan

GERD

GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) merupakan keadaan patologis akibat refluks kandungan asam lambung ke esofagus. Data terakhir menunjukan angka kejadian semakin meningkat. Hal ini disebabkan perubahan gaya hidup seseorang seperti merokok dan obesitas.

 

Mengenal GERD

GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) merupakan keadaan patologis akibat refluks kandungan asam lambung ke esofagus. Namun selain melibatkan esophagus, keadaan ini juga melibatkan laring dan juga saluran pernapasan. Hal ini terjadi  akibat dari kelemahan otot sfingter esofagus bagian bawah (Lower Esophageal Sphincter/LES).

Ada tiga mekanisme terjadinya refluks, yaitu :

  • Melalui refluks spontan saat relaksasi LES.
  • Regurgitasi sebelum kembalinya tonus LES paska menelan.
  • Meningkatnya tekanan pada abdomen.

Kandungan isi lambung –yang terdiri dari asam lambung, pepsin, garam empedu, dan enzim pankreas memiliki potensi merusak lapisan esophagus. Akan tetapi, potensi perusak paling tinggi adalah asam lambung.

Secara umum, angka kejadiannya di Indonesia lebih rendah bila dibandingkan negara barat. Meskipun demikian, data terakhir menunjukan angka kejadian semakin meningkat. Hal ini disebabkan perubahan gaya hidup seseorang seperti merokok dan obesitas.

Faktor Risiko

Beberapa hal dapat menjadi pemicu terjadinya GERD antara lain :

  •  Alkohol
  • Hernia hiatus
  • Skleroderma
  • Obesitas
  • Kehamilan
  • Rokok
  • Konsumsi obat-obatan (antikolinergik, penyekat beta, bronkodilator, penyekat kalsium,sedatif, antidepresan, trisiklik,dan progestin).
Klasifikasi GERD

Secara garis besar, penderita GERD dibagi menjadi dua kelompok yaitu :

  1. GERD dengan esofagitis erosif; ditandai dengan adanya kerusakan lapisan mukosa di esofagus pada pemeriksaan endoskopi.
  2. GERD tanpa erosif (Non Erosive Reflux Disease/NERD); tidak terdapatnya kerusakan lapisan mukosa esofagus pada pemeriksaan endoskopi.

Kelompok lainnya, yaitu GERD Refrakter; merupakan penderita yang tidak respon terhadap pengobatan dengan penyekat pompa proton (dengan dosis dua kali sehari) selama 4-8 minggu. Kelompok ini dibedakan karena penderitanya harus menjalani endoskopi saluran cerna bagian atas untuk menyingkirkan adanya penyakit ulkus, kanker, atau esofagitis.

Gejala

Beberapa hal yang dikeluhkan oleh penderita penyakit ini antara lain :

  • Nyeri epigastrium/retrosternal
  • Heatburn (rasa panas dari ulu hati yang naik ke dada )
  • Disfagia (kesulitan menelan)
  • Mual
  • Odinofagia (sakit saat menelan)
  • Nyeri dada non-cardiac
  • Laringitis
  • Serak
  • Batuk karena aspirasi dan asma.
Diagnosis

Anamnesis

   Penderita GERD umumnya mengeluhkan adanya rasa sumbatan di dada yang rasanya panas seperti terbakar dan semakin nyeri apabila membungkuk, tiduran,dan makan namun hilang dengan pemberian antasida. Nyeri dada ini mirip seperti nyeri dada pada kelainan jantung -istilahnya dikenal dengan non cardiac chest pain. Selain itu, batuk , suara serak, nyeri tenggorokan juga sering dikeluhkan oleh penderitanya. Riwayat pengobatan juga akan ditanyakan oleh dokter yang memeriksa karena konsumsi obat tertentu akan meningkatkan risiko GERD.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada penderita GERD umumnya normal; jarang ditemukan adanya kelainan.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang tidak rutin dilakukan kecuali ada indikasi seperti pada gejala GERD yang berat. Beberapa pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan adalah :

  • EGD (Esophagealgastroduodenoscopy)

Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kerusakan esophagus. Selanjutmya, juga untuk kepentingan biopsi jaringan sehingga kondisi yang lebih lanjut seperti Barret esofagus, displasia, dan keganasan bisa terdiagnosis. EGD merupakan standar baku untuk penegakan diagnosa GERD. Penderita disarankan menjalani prosedur ini bila terdapat gejala alarm (disfagia yang progresif, odinofagia, penurunan berat badan tanpa diketahui sebabnya, anemia, hematemesis, dan/atau melena, riwayat keluarga dengan keganasan lambung dan/atau esofagus, penggunaan OAINS (obat anti inflamasi non steroid) kronik, dan usia lebih dari 40 tahun.

  • Barium meal
  • Continous esophageal PH monitoring. Pemeriksaan ini dilakukan pada penderita GERD yang tidak respon terhadap obat penyekat pompa proton (PPI).
  • Manometri esofagus
  • Tes Stool occult blood. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat perdarahan dari lambung, usus, dan iritasi esofagus.
  • Tes penghambat PPI.
Komplikasi

Beberapa hal di bawah ini dapat terjadi apabila penyakit ini tidak ditangani secara tepat, yaitu;

  1. Komplikasi esofagus. Dapat terjadi striktur, ulkus, Barret esophagus.
  1. Komplikasi ekstra esofagus. Asma, bronkospasme, batuk kronik, suara serak.
Penanganan

Prinsip penanganan GERD :

  1. Menyembuhkan lesi esofagus
  2. Menghilangkan gejala dan keluhan
  3. Mencegah kekambuhan
  4. Memperbaiki kualitas hidup
  5. Mencegah komplikasi

Penanganan Non-Farmakologis

  • Modifikasi gaya hidup, seperti hentikan obat-obatan pemicu GERD,berhenti merokok, mengurangi makanan yang menstimulasi seksresi asam (kopi,coklat, keju, soda, lemak).
  • Posisi kepala dinaikkan saat tidur 15-20 cm.
  • Makan selambat-lambatnya dua jam sebelum tidur.
  • Menurunkan berat badan pada penderita obesitas/kegemukan.

Penanganan Farmakologis

Obat-obatan dalam penanganan penyakit ini seperti :

  • Antasida

Pemberian antasida efektif menghilangkan nyeri. Selain itu, pengobatan ini juga berfungsi sebagai buffer asam dan memperkuat tekanan sfingter esophagus.

  • Anti histamine

Pengobatan ini berfungsi sebagai penekan sekresi asam (simetidine, ranitidine)

  • Prokinetik

Pengobatan ini berfungsi meningkatkan tonus LES dan mempercepat pengosongan lambung.(domperidone, metoclopramide).

  • Sukralfat

Meskipun tidak memiliki efek menekan asam tetapi pengobatan ini berfungsi meningkatkan pertahanan mukosa esofagus, serta mengikat pepsin dan garam empedu

  • Penyekat pompa proton

Ini merupakan pengobatan yang paling efektif dalam menghilangkan gejala serta menyembuhkan esofagitis pada penyakit ini (omeprazole dan lansoprazole).

Penanganan invasif atau pembedahan

Penanganan ini dianjurkan pada pasien yang intoleran terhadap terapi medikamentosa atau dengan gejala mengganggu yang menetap (GERD Refrakter). Timdakan yang dilakukan adalah :

  1. Pembedahan anti refluks (Laparoscopic Nissen Fundoplication)
  2. Terapi endoskopi (Suturing, implantasi, gastroplasty, RF ablasi).

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari SmartphoneDownload aplikasinya di sini.

AS/PJ/MA

Referensi