Gangguan Psikologis yang Menyerang Penderita Diabetes

gangguan psikologis

Menurut hasil penelitian, 1 dari 3 pasien yang divonis terkena diabetes mengalami masalah psikologis berupa kecemasan dan gangguan afektif.  Selain pengobatan secara fisik, meningkatkan mental mereka yang terkena diabetes sangat diperlukan demi mempercepat proses penyembuhannya.

 

Pijarpsikologi.orgTidak pernah ada yang tahu kapan seseorang bisa terserang penyakit yang begitu parah, sehingga membuatnya tidak berdaya dan harus bergantung kepada orang lain di sepanjang sisa umurnya. Seperti salah satu kisah kisah perjuangan seorang kakek sehat dan segar bugar di kala muda, namun harus berjuang menjalani hidupnya di masa senja.

Perjuangan si kakek berawal dari luka kecil yang muncul pada jari kaki kelingking. Hanya luka kecil, yang kemudian membesar dan menggerogoti bagian kaki akibat penyakit diabetes yang dideritanya. Si kakek pun harus pasrah ketika dokter memutuskan untuk mengamputasi bagian kakinya.

Akibatnya, kondisi mental si kakek pun berangsur menurun. Semangat hidupnya di usianya yang sudah senja pun ikut meredup. Menurut hasil penelitian, 1 dari 3 pasien yang divonis terkena diabetes mengalami masalah psikologis berupa kecemasan dan gangguan afektif.

Sebaiknya sang anak bisa menangkap perubahan mental yang dirasakan si kakek, andaikan dia adalah orangtua Anda. Dukungan moral sangat dibutuhkan, karena selain pengobatan secara fisik, meningkatkan mental mereka yang terkena diabetes sangat diperlukan demi mempercepat proses penyembuhannya.

Hambatan dalam Hubungan Sosial

Jika vonis diabetes saja sudah melemahkan mental seseorang, apalagi jika dihadapi kenyataan ketika salah satu bagian tubuhnya harus diamputasi. Seperti yang terjadi pada si kakek, rasa malu, rasa takut merepotkan, dan takut akan penolakan terhadap kondisinya bisa jadi memperlambat proses penyembuhan diabetes.

Perlahan, orang dengan diabetes yang merasa stres menjadi kehilangan peran di dalam sebuah hubungan. Hal tersebut mungkin saja terjadi akibat emosi negatif yang mengurangi kemampuan orang dengan diabetes untuk terlibat lagi dalam sebuah relasi sosial.

Menata Kekuatan Fisik Dan Mental 

Tangguh dalam menghadapi cobaan sangat dibutuhkan. Walaupun berat tapi ketangguhan dapat mengantarkan pada kesembuhan. Dunia psikologi menyebutnya dengan istilah resilien.

Resilien diartikan sebagai kemampuan mempertahankan kesejahteraan psikologis dan fisik saat individu menghadapi masalah yang sulit. Keberadaan resiliensi ditandai dengan adanya harga diri, keyakinan dalam diri bahwa ia mampu melewati masalah tersebut, dan optimis untuk kesembuhan.

Tidak Nyaman dan Gelisah

Orang dengan penyakit diabetes harus memiliki manajemen penyembuhan yang tepat, mulai dari pengaturan gizi asupan pangan, dosis insulin, gerakan tubuh supaya tidak hanya berdiam diri saja, dan lain sebagainya.

Walaupun terkadang hal ini terasa melelahkan bagi anak yang merawat, Anda harus tetap sabar dan mendukung orangtua selama penyembuhan agar segala prosesnya tetap terkontrol dan tepat. Jangan sampai, anak pun ikut menyerah dan hilang keyakinan kalau si kakek bisa sembuh.

Depresi Akibat Melemahnya Fungsi Kontrol Kadar Gula Darah

Orang yang memiliki penyakit diabetes dapat mengalami depresi. Pasalnya, fungsi tubuh sudah tidak maksimal lagi dalam mengontrol kadar gula dalam darah sehingga fungsi tubuh kian melemah. Secara biologis, perubahan pada struktur, fungsi, dan neurokimia pada otak individu yang terkena diabetes berkorelasi pada peningkatan risiko depresi.

Obat dari setiap penyakit sebenarnya datang dari dalam diri yaitu berupa kekuatan mental dan percaya kalau dirinya masih ada peluang besar untuk sembuh. Di sinilah peran keluarga, saudara, dan lingkungan sekitar sebagai ‘psikolog’ pribadi bagi pasien diabetes yang mampu meredakan krisis mental pada penderita diabetes melitus.

Pertimbangkan hal ini, penyakit diabetes sangat mungkin menimbulkan komplikasi terhadap penyakit lainnya, seperti stroke, jantung, dan paru-paru. Dalam kasus terburuk, nyawa si kakek tidak lagi bisa diselamatkan, sehingga rasa sedih dan kehilangan menyelimuti seluruh anggota keluarga.

Kembali lagi, di sinilah faktor resiliensi sangat berperan esensial dalam proses penyembuhan penderita diabetes. Pengalaman anak yang telah merawat orangtua dengan diabetes dapat memberikan banyak pelajaran untuk kehidupan setelahnya. Kuncinya, kesabaran dan keikhlasan dari anak berpengaruh besar dalam memberi dukungan moril dan meningkatkan kekuatan mental penderita diabetes selama proses penyembuhan.

 

Pijar Psikologi adalah media layanan psikologi yang menyediakan konsultasi gratis dan artikel informatif seputar kehidupan sehari hari dari sudut pandang psikologi. Kunjungi pijarpsikologi.org untuk artikel menarik seputar psikologi lainnya.

 

Content partnerpijarpsikologi.com

Baca juga:

Atasi permasalahan kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk tanya jawab seputar penanganannya dengan Tim Dokter Go Dok. Download aplikasi Go Dok di sini.