Gangguan Obsesif-Kompulsif ; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Gangguan obsesif-kompulsif

Gangguan obsesif-kompulsif (Obsessive Compulsive Disorder -OCD) digambarkan sebagai pikiran dan tindakan yang berulang. Lebih dari 50% pasien mengalami gejala yang muncul mendadak. Permulaan gangguan dapat terjadi setelah adanya peristiwa yang stressful, seperti masalah seksual, kematian keluarga, dan lain-lain.

 

Mengenal gangguan obsesif-kompulsif

Gangguan obsesif-kompulsif  (Obsessive Compulsive Disorder -OCD) digambarkan sebagai pikiran dan tindakan yang berulang sehingga menghabiskan waktu dan menybebakan hendaya yang bermakna. Obsesi merupakan pemikiran yang berulang-ulang atau berlebihan, sedangkan kompulsif ialah aktivitas atau kegiatan yang dilakukan berulang-ulang atau berlebihan.

Sebagian besar gangguan mulai pada saat remaja atau dewasa muda, dengan penyebab yang beragam yang merupakan interaksi antara faktor biologis, genetik, dan faktor psikososial.

Penyebab

Beberapa studi menyebutkan bahwa terdapat perbedaan struktur otak bagian korteks frontal dan subkortikal pada pasien gangguan obsesif-kompulsif dengan orang normal. Namun, penelitian masih belum dapat menyimpulkan hubungan antara perbedaan struktur otak tersebut secara jelas, apakah menjadi penyebab utama atau bukan.

Lebih dari 50% pasien mengalami gejala yang muncul mendadak. Permulaan gangguan dapat terjadi setelah adanya peristiwa yang stressful, seperti masalah seksual, kematian keluarga, dan lain-lain. Perjalanan penyakit bervariasi, sering berlangsung panjang, berfluktuasi, bahkan sebagian lain menetap.

Indikasi dari perjalanan penyakit yang dapat berjalan buruk ialah terjadinya gangguan ini pada masa anak-anak, kompulsif yang bizzare, ada komorbiditas dengan gangguan depresi, adanya kepercayaan yang mengarah ke waham dan ganguan kepribadian. Sedangkan, indikasi dari perjalanan penyakit yang dapat berjalan baik ialah penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik, adanya peristiwa yang menjadi pencetus, serta gejala yang episodik.

Gejala dan Tanda

Jenis obsesi yang biasa terjadi pada gangguan obsesif-kompulsif ialah sebagai berikut:

  • Kontaminasi: pemikiran yang berlebihan dengan sesuatu hal yang dapat mengontaminasi tubuh, misalnya cairan tubuh (urin,feses), penyakit menular, kontaminasi darilingkungan (contoh: radiasi), bahan kimia, debu, dan sebagainya.
  • Takut akan kehilangan: pemikiran yang berlebihan seseorang seperti takut akan kehilangan.
  • Harm: pemikiran yang berlebihan pada seseorang bahwa dirinya takut ikut bertanggung jawab jika sesuatu hal buruk terjadi atau takut melukai seseorang karena kecerobohannya.
  • Perfeksionisme: Pemikiran yang berlebihan yang berhubungan dengan perfeksionisme, misalnya terlalu detail, takut tertinggal/melupakan/kehilangan informasi penting jika membuang sesuatu, tidak dapat memutuskan barang apa yang akan dibuangatau disimpan, serta ketakutan bila barang yang dimilikinya hilang.
  • Seksual: Pemikiran yang berlebihan terhadap seks, misalnya mengenai homoseksual, pemikiran seksual yang melibatkan anak kecil atau saudara kandung, atau pemikiran mengenai aktivitas seksual yang agresif terhadap orang lain.
  • Religious Obsession(Scrupulosity): Pemikiran yang berlebihan terhadap keyakinan, misalnya berlebihan dalam pemilihan aktivitas apakah baik/buruk sesuai nilai yang dianut atau tidak, terlalu takut akan dosa, dan sebagainya.
  • Lain-lain: Pemikiran yang berlebihan misalnya jika terkena suatu penyakit (berpikir bahwa pasti penyakit berat seperti misalnya kanker), serta pemikiran mengenai takhayul misalnya adanya angka atau warna sial.

Jenis kompulsi yang biasa terjadi pada gangguan obsesif-kompulsif ialah sebagai berikut:

  • Kebersihan (washing and cleaning): Kegiatan yang dilakukan secara berlebihan saat mencuci tangan, mandi, menyikat gigi, membersihkan perabot, serta kegiatan yang mencegah adanya kontaminasi terhadap suatu barang atau ruangan.
  • Mengecek sesuatu berulang (checking): Melakukan pengecekan terhadap diri sendiri bahwa tidak akan melukai dan dilukai orang lain, tidak akan terjadi hal yang buruk, tidak akan membuat kesalahan, serta mengecek fisik/tubuh sendiri.
  • Pengulangan (repeating): melakukan pengulangan terhadap apa yang dilakukan, misalnya saat menulis, aktivitas rutin misalnya masuk dan keluar rumah, gerakan tubuh tertentu, serta aktivitas lain yang dilakukan berulang-ulang misalnya mengerjakan tugas tiga kali karena anggapan bahwa dengan tiga kali hasilnya akan baik dan benar.
  • Mental (mental compulsion): pemikiran yang berlebihan terhadap suatu kegiatan. Misalnya, berlebihan dalam memikirkan bahwa sesuatu harus terjadi dengan baik, tidak ada kegagalan, dan sebagainya.
  • Lain-lain: Misalnya meletakkan sesuatu hingga dirasa sudah diletakkan di tempat yang benar atau semestinya, bertanya atau menekankan bahwa dirinya akan mendapat perlindungan, serta menghindari situasi yang akan memicu terjadinya pemikiran yang obsesif.
Diagnosis

Kriteria diagnosis gangguan obsesif-kompulsif berdasarkan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) ialah:

1. Salah satu obsesif atau kompulsif

Obsesif didefiniskan sebagai berikut:

  1. Pikiran, impuls, atau bayangan yang pernah dialami yang berulang dan menetap yang intrusive, serta tidak serasi yang menyebabkan cemas dan distress, yang ada selama periode gangguan.
  2. Pikiran, impuls, atau bayangan bukan ketakutan terhadap problem kehidupan yang nyata.
  3. Individu berusaha untuk mengabaikan atau menekan pikiran, impuls, atau bayangan atau menetralisir dengan pemikiran lain atau tindakan.
  4. Individu menyadari bahwa pikiran, impuls, bayangan yangberulang berasal dari pikirannya sendiri.

Kompulsi didefinisikan sebagai berikut:

  1. Perilaku yang berulang atau aktivitas mental yang individu merasa terdorong melakukan dalam respons dari obsesinya, atau sesuatu aturan yang dilakukan secara kaku.
  2. Perilaku atau aktivitas mental ditujukan untuk mencegah atau menurunkan distress atau mencegah kejadian atau situasi walaupun perilaku atau aktivitas mental tidak berhubungandengan cara yang realistik untuk mencegah atau menetralisir.
  3. Pada waktu tertentu selama perjalanan penyakit, individu menyadari bahwa obsesi dan kompulsi berlebihan dan tidak beralasan.
  4. Obsesi dan kompulsi menyebabkan distress, menghabiskan waktu (membutuhkan waktu lebih dari 1 jam per hari) atau mengganggu kebiasaan normal, fungsi pekerjaan, akademik, atau sosial.
  5. Gangguan tidak disebabkan karena efek langsung dari penggunaan zat atau kondisi medik umum.
Penanganan

Untuk menangani gangguan obsesif-kompulsif, dapat dilakukan beberapa cara, yaitu dengan obat-obatan (farmakologi) di bawah pengawasan dokter dan/atau dengan cara psikoterapi. Kombinasi antara kedua jenis terapi ini lebih efektif untuk menangani gangguan obsesif-kompulsif.

Terapi farmakologi yang diberikan ialah seperti Clomipramine, obat Golongan SSRI (Selective Serotonin re-uptake Inhibitor) seperti fluoxetin, sertraline, esitalopram, atau fluvoxamin.

Psikoterapi yang dapat diberikan berupa psikoterapi suportif, terapi perilaku, terapi kognitif perilaku, dan psikoterapi dinamik.

Sekian penjelasan mengenai gangguan obsesif-kompulsif. Jika Anda atau orang-orang di sekitar Anda mengalami hal serupa, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter, ya!

Baca juga:

Konsultasi kesehatan kini bisa langsung lewat gadget Anda. Download aplikasi Go Dok di sini.

 

AQ/PJ/MA

Referensi