Frekuensi Berhubungan Seksual yang Sehat dalam Seminggu

frekuensi berhubungan seksual

Sejatinya, tak ada frekuensi berhubungan seksual yang sehat secara pasti. Data yang tersedia hanya menyajikan rata-rata suatu pasangan berhubungan seksual selama seminggu. Suatu hubungan seksual dikatakan sehat jika dilakukan melalui persetujuan kedua belah pihak, tidak ada paksaan, dan tanpa menyakiti.

Go DokApakah Anda dan pasangan termasuk pengantin baru? Jika iya, tentunya gairah seksual di ranjang tidak terhindarkan dan di masa-masa “bulan madu”, mungkin hanya seks yang ada di otak Anda. Tak jarang, pengantin baru berhubungan seksual lebih dari 4 kali dalam sehari.

Tak hanya pengantin baru, pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah pun bisa menjalani hal ini. Nah, sebenarnya berapa kali sih frekuensi berhubungan seksual yang bisa dikatakan sehat untuk Anda lakukan dalam seminggu? Yuk, simak jawaban lengkapnya berikut ini!

Hubungan seksual yang sehat

Sebelum membahas tentang frekuensi berhubungan seksual yang sehat, ada baiknya Anda tahu apa definisi dari hubungan seksual yang sehat itu sendiri. Telah banyak dibahas bahwa berhubungan seksual baik untuk kesehatan mental dan fisik Anda, bahkan dapat memperpanjang usia.

Nah, suatu hubungan seksual dikatakan sehat jika dilakukan melalui persetujuan kedua belah pihak (atau lewat pernikahan), tidak ada paksaan, dan tanpa menyakiti salah satu dari kedua insan yang melakukannya.

Hanya dengan cara ini, Anda betul-betul dapat merasakan manfaat sehat dari berhubungan seksual secara rutin.

Frekuensi berhubungan seksual yang sehat

Sejatinya, tak ada frekuensi berhubungan seksual yang sehat secara pasti.  Data yang tersedia hanya menyajikan “rata-rata” : berapa kali rata-rata suatu pasangan berhubungan seksual dalam seminggu? Dan ini menyajikan data yang berbeda untuk tiap jenjang usia.

Pasangan yang berusia 18 – 29 tahun rata-rata menikmati percintaan di ranjang hingga lebih dari 110 kali dalam setahun, artinya sekitar 3 -4 kali dalam seminggu. Sementara pasangan yang berusia 30 – 40 tahun menikmatinya sekitar 54 kali dalam setahun, atau 1 – 2 kali dalam seminggu.

Namun, rata-rata tak selalu berarti jumlah yang mendefinisikan “sehat”. Pasalnya, tiap orang berbeda, dan tiap pasangan memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Meski banyak kalangan yang puas dengan frekuensi 1 -2 kali dalam seminggu, namun tak sedikit juga yang menjalaninya hingga 4 – 5 kali dalam seminggu dan tetap sehat lagi prima.

Kuantitas hubungan seksual tidak menentukan apakah Anda memperoleh manfaat sehat seks dengan jumlah tersebut. Kualitas lah yang menentukan hal ini. Selain itu, Anda tidak harus mematok berapa kali hubungan seksual berlangsung.

Hal ini akan memberatkan wanita, yang memiliki siklus menstruasi, masa kehamilan, menyusui, serta menopause. Jadi, akan lebih baik jika Anda melakukannya kapanpun selama kedua belah pihak nyaman dan tidak merasa sakit.

Meski begitu, suatu penelitian yang melibatkan lebih dari 50 pasang mahasiswa (awal 20 tahun) menemukan bahwa mereka yang menjalani hubungan seksual sebanyak 1 -2  kali dalam seminggu memiliki level immunoglobin A (IgA) 30% lebih tinggi dibandingkan yang melakukannya lebih banyak atau tidak sama sekali. IgA merupakan salah satu komponen penting dalam respons sistem imun dalam melindungi tubuh Anda.

Selain itu, kondisi berbeda bagi pasangan yang tengah mencoba untuk memiliki anak. Wendy Chang, M.D., seorang spesialis reproduktif endocrinology di Southern California Reproductive Center menyatakan bahwa paling baik bagi pasangan yang tengah mencoba hamil untuk berhubungan seksual 1 kali sehari, terutama di waktu-waktu ovulasi. Pasalnya, testis pria akan memproduksi sperma dengan kualitas bagus setiap hari, dan ejakulasi yang pertama dalam sehari akan menghasilkan sperma yang berkualitas.

 Namun, ejakulasi kedua dan ketiga akan menghasilkan lebih sedikit sperma dengan kualitas renang lebih rendah. Karenanya, ada baiknya Anda memberi tubuh waktu untuk memproduksinya kembali dengan kualitas prima. Selain itu, frekuensi berhubungan seksual 2 -3 kali seminggu juga dikatakan sebagai frekuensi yang baik untuk menghasilkan janin.

Kapan frekuensi berhubungan seksual dikatakan tak sehat?

Menurut dr. Laurie Mintz, Ph.D., seorang kontributor masalah hubungan seksual di Psychology Today, frekuensi berhubungan seksual Anda bisa dikatakan tidak sehat saat mulai menginterupsi kehidupan Anda sehari-hari.

Tidak ada jumlah yang pasti, namun saat aktivitas seksual mulai mengganggu waktu makan, tidur, sekolah, kuliah, bahkan bekerja, hal ini bisa dikatakan tidak sehat. Inilah saat Anda harus mulai menguranginya dan berusaha menyeimbangkan antara dunia nyata dan dunia ranjang.

Nah, itu dia serba-serbi lengkap tentang frekuensi berhubungan seksual dalam seminggu. Semoga bermanfaat!

 

Baca juga:

Diskusikan permasalahan kesehatan seputar seks Anda dengan Tim Dokter Go Dok, langsung dari Smartphone, GRATIS! Download aplikasi Go Dok di sini.

 

SF/JJ/MA

Referensi