Fistula Ani ; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Fistula ani

Fistula ani adalah kondisi dimana terbentuknya saluran kecil di antara usus besar dan kulit di dekat anus. Penyakit ini dapat menyebabkan sensasi tidak nyaman dan iritasi pada kulit, dan tidak dapat sembuh dengan sendirinya, diperlukan tindakan pembedahan pada kebanyakan kasus.

Pengertian

Fistula ani adalah kondisi dimana terbentuknya saluran kecil di antara usus besar dan kulit di dekat anus. Kondisi ini paling sering disebabkan oleh infeksi dekat anus yang menyebabkan akumulasi pus ataupun abses, ketika abses terdrainase keluar, dapat meninggalkan saluran kecil yang disebut fistula.

Fistula ani dapat menyebabkan sensasi tidak nyaman dan iritasi pada kulit, dan tidak dapat sembuh dengan sendirinya, diperlukan tindakan pembedahan pada kebanyakan kasus.

Penyebab

Penyebab utama fistula adalah pembentukan abses yang disebabkan infeksi. Fistula ani terbentuk ketika pus sudah terkuras habis tetapi proses penyembuhan tidak terjadi secara sempurna.

Menurut estimasi, 1 dari 4 orang dengan abses di anus akan mengalami fistula ani. Penyebab lainny dapat berupa:

  1. Crohn’s disease yang merupakan kondisi inflamasi pada saluran cerna yang terjadi dalam waktu yang lama
  2. Divertikulitis yang merupakan inflamasi karena infeksi divertikula (kantung kecil yang terletak di sepanjang usus yang kadang disebut kantung usus)
  3. Hidradenitis suppurativa yang merupakan gangguan pada kulit yang menyebabkan pembentukan abses dan pembentukan fibrosis (scarring)
  4. Infeksi TB pada usus atau HIV
  5. Komplikasi tindakan pembedahan pada area dekat anus.

Gejala

Tanda dan gejala yang paling sering ditemui pada pasien dengan fistula ani adalah:

  1. Iritasi kulit atau jaringan di sekitar anus
  2. Rasa nyeri, seperti tertusuk yang berkelanjutan, berulang, dan menjadi semakin parah ketika pasien dalam posisi duduk, bergerak, batuk, ataupun ketika ada gerakan peristaltik usus sebelum defekasi
  3. Keluar cairan bau dari area sekitar anus yang bukan feses
  4. Buang air besar (BAB) disertai nanah ataupun darah
  5. Bengkak atau kemerahan di sekitar anus, dapat disertai demam pada beberapa kasus
  6. Kesulitan dalam menahan BAB atau disebut inkontinensia
  7. Ujung dari fistula mungkin dapat terlihat seperti lubang di kulit dekat anus, walaupun sulit untuk dilihat sendiri karena letaknya.

Ketika tanda dan gejala di atas ditemukan maka harus segera berobat ke dokter.

Diagnosis

Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan untuk mengonfirmasi adanya fistula ani adalah rectal touche atau pemeriksaan anus yang dilakukan dokter dengan memasukkan jari secara perlahan ke dalam anus untuk memastikan ada atau tidaknya fistula.

Ketika keberadaan fistula sudah dikonfirmasi maka pasien akan dirujuk ke spesialis bedah yang akan melaksanakan pemeriksaan lanjutan untuk menegakkan diagnosis dan pemilihan penanganan yang sesuai.

Salah satu pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah proctoscopy yang dilakukan dengan memasukkan teleskop dengan ujung lampu dan kamera untuk melihat kondisi di dalam anus. Pemeriksaan lain dapat berupa ultrasonografi (USG), magnetic resonance imaging (MRI) scan, atau computerized tomography (CT) scan.

Faktor Risiko

Menurut sebuah studi oleh Wang D et al (2014) faktor risiko terbentuknya fistula ani termasuk:

  1. Body Mass Index(BMI) / index massa tubuh di atas 25 kg/m2
  2. Konsumsi garam yang tinggi
  3. Riwayat diabetes mellitus (penyakit kencing manis)
  4. Hiperlipidemia
  5. Dermatosis
  6. Riwayat operasi anorektal
  7. Riwayat merokok dan konsumsi alkohol
  8. Gaya hidup kurang sehat yang jarang bergerak (sedentary lifestyle)
  9. Konsumsi makanan pedas dan berlemak secara terus-menerus
  10. Jarang berolahraga
  11. Kebiasaan buang air besar dalam waktu yang  lama.

Pencegahan

Pencegahan yang dapat dilakukan adalah menanggulangi faktor risiko dari fistula ani, seperti berolahraga rutin 150 x/menit dibagi menjadi 3 sesi per minggu, menurunkan berat badan dengan target BMI di bawah 25 kg/m2,  jaga pola makan rendah lemak tinggi serat untuk melancarkan pencernaan, hindari makanan pedas berminyak, dan menjaga kebersihan diri dengan baik.

Penanganan

Fistula ani memerlukan tindakan pembedahan sebagai tatalaksana definitifnya. Berikut beberapa tindakan pembedahan yang dapat dilakukan:

  1. Fistulotomi: dilakukan pembedahan dengan memotong fistula kemudian dijahit agar terjadi proses penyembuhan dan pembentukan jaringan fibrosis (scarring) yang datar pada lokasi fistula
  2. Prosedur seton: dilakukan dengan meletakkan seton (sepotong benang bedah) di dalam fistula dan dibiarkan beberapa minggu agar dapat terjadi proses penyembuhan sebelum prosedur lainnya dilakukan untuk mengatasi fistula ani
  3. Teknik lainnya dapat dilakukan dengan mengisi fistula (lubang) dengan adesif, ditutup dengan plug, atau ditutup dengan flap(irisan kulit) atau jaringan.

Prosedur-prosedur di atas memiliki keuntungan dan risiko yang berbeda. Banyak orang yang tidak memerlukan rawat inap setelah operasi/pembedahan.

Komplikasi

Komplikasi pasca-pembedahan dapat terjadi langsung atau terlambat (delayed). Kondisi komplikasi yang dapat langsung ditemui setelah pembedahan berupa retensi urin (pasien sulit buang air kecil), pendarahan, atau keluarnya cairan dari lokasi pembedahan, pembentukan sumbatan (obstruksi) ataupun impaksi feces.

Sedangkan komplikasi pasca-bedah yang muncul lama setelah pembedahan dapat berupa stenosis anus (dimana terjadi penyempitan lubang anus yang mengakibatkan sulit defekasi), munculnya kembali fistula, inkontinensia, dan proses penyembuhan luka yang lama (>12 minggu).

Komplikasi pembedahan juga termasuk infeksi yang disebabkan oleh insisi pada kulit, pada beberapa kasus infeksi dapat menyebar ke saluran pencernaan dan menyebar ke seluruh tubuh menyebabkan infeksi sistemik.

Pemberian antibiotik dapat diberikan secara oral, namun pada kasus dengan infeksi sistemik, diperlukan penanganan rawat inap dan antibiotik parenteral (IV). Pemberian antibiotik sebelum terjadi infeksi (profilaksis) juga dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi infeksi.

Inkontinenasi dapat terjadi setelah operasi fistula ani yang disebabkan oleh rusaknya otot anal sfingter sehingga gerakan buka-tutup anus tidak dapat berfungsi dengan baik sehingga ada kebocoran feses dari rectum.

Hal ini jarang terjadi, hanya sekitar 3-7% kasus, faktor risiko tertinggi dari kondisi ini adalah posisi dan lokasi fistula sehingga jenis pembedahan yang dilakukan.

Selanjutnya komplikasi dapat berupa muncul laginya fistula. Hal ini terjadi pada 7-21% kasus tergantung pada tipe fistula dan prosedur pembedahan yang digunakan untuk menutup fistula.

Semoga bermanfaat!

 

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.

FS/JJ/MA

Referensi