Epistaksis (Mimisan) ; Gejala, Pencegahan dan Penanganan

Epistaksis

Epistaksis biasanya bersifat jinak, self-limiting (dapat berhenti sendiri), dan spontan. Sebagian besar, kasus mimisan disebabkan oleh trauma sederhana dan tidak mengancam jiwa.

 

Go DokSiapa yang tidak panik apabila hidung mengeluarkan darah secara tiba-tiba? Ya, biasanya hal ini kita kenal dengan peristiwa mimisan. Dalam bahasa medis, mimisan disebut epistaksis. Merasa asing dengan istilah ini? Karena itu, yuk kenali lebih jauh lewat artikel khas GoDok berikut ini!

Mengenal epistaksis

Epistaksis sepertinya pernah dialami oleh setiap orang, ya. Namun jika diperhatikan, anak-anak cenderung lebih sering mengalami kondisi ini. Tetapi, tidak menutup kemungkinan orang dewasa juga bisa mengalaminya. Penelitian menyebutkan, epistaksis paling banyak terjadi pada rentang usia 2-10 tahun dan 50-80 tahun –baik pria maupun wanita.

Pada dasarnya, epistaksis terjadi karena mukosa hidung terkikis sehingga pembuluh darah menjadi lebih “sensitif” dan pecah. Nah, darah yang mengalir ke hidung berasal dari cabang pembuluh yang berbeda-beda. Cabang pembuluh tersebut berasal dari arteri anterior (depan) dan posterior (belakang), Etmoid Interna, dan arteri Karotis Eksterna (Sphenopalatine dan cabang arteri maksilaris internal).

Berdasarkan sumber pendarahannya, mimisan terbagi menjadi 2 jenis, anterior dan posterior.

1. Perdarahan anterior

Karena lokasinya yang berada di depan, 95% kasus pendarahan anterior dapat dilihat dari mana sumbernya. Biasanya pendarahan berasal dari septum hidung, terutama di area tempat pleksus Kiesselbach (jaringan anatomik pembuluh darah di bagian anterior dari septum hidung) berada.

2. Perdarahan posterior

Berbeda dengan sebelumnya, kalau yang ini, sumber pendarahan berasal dari struktur hidung yang lebih dalam. Kasus mimisan dari daerah ini biasanya lebih berisiko untuk mengganggu jalur pernapasan. Hati-hati, kasus mimisan yang satu ini lebih sering menyerang orang yang telah lanjut usia, lho.

Penyebab

Epistaksis biasanya bersifat jinak, self-limiting (dapat berhenti sendiri), dan spontan. Sebagian besar, kasus mimisan disebabkan oleh trauma sederhana dan tidak mengancam jiwa. Walau begitu, mimisan sebenarnya bisa menjadi alarm bagi tubuh lho, sebagai tanda adanya penyakit mendasar yang lebih serius di dalam tubuh.

Berikut ini adalah penyebab mimisan yang sering terjadi :

  • Trauma hidung (penyebab paling umum), yang disebabkan :
  • Memasukkan benda asing
  • Mengeluarkanlendir terlalu keras (secara paksa) dan berlebihan, misalnya ketika hidung tersumbat karena pilek
  • Sinusitis yang dapat menyebabkan hidung tersumbat.
  • Riwayat minum obat aspirin dan antikoagulan.
  • Gangguan trombosit.

Gangguan pada fungsi trombosit dianggap lebih sering menjadi pemicu epistaksis dibandingkan gangguan pada fungsi pembekuan darah.

Beberapa gangguan trombosit, di antaranya:

  • Trombositopenia
  • Penyebab trombosit abnormal lainnya, seperti splenomegali (pembesaran limpa) dan leukemia.
  • Idiopatik Thrombocytopenic Purpura (ITP) -dapat terjadi pada anak-anak dan dewasa muda.
  • Angiofibromaatau tumor jinak pembuluh darah yang biasanya muncul pada pria remaja.
  • Penggunaan kokain

Obat ini biasanya dikonsumsi dengan menghirup dan memiliki efek vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah) yang sangat kuat.

  • Granulomatosis dengan polyangiitis (granulomatosis Wegener) dan granuloma pirogenik dapat menimbulkan epistaksis.
  • Hipertensi.

Sebenarnya hipertensi lebih sering terjadi pada pendarahan akut, namun sayangnya, banyak kondisi hipertensi yang tidak terdiagnosis. Enam dari sembilan penelitian setuju bahwa dalam kondisi epitaksis membuat tekanan arteri menjadi lebih tinggi, dibandingkan dengan kondisi umum.

Sebagai catatan, beberapa penyakit lainnya juga dapat menyebabkan mimisan, seperti: Macroglobulinemia Waldenström atau kelainan pembuluh arteri yang sudah menua, Telangiectasia hemoragik herediter (sindrom Osler-Rendu-Weber).

Pencegahan

Bila Anda termasuk orang yang sering mengalami gejala epistaksis atau mimisan, ada beberapa tindakan pencegahan seperti berikut ini:

  • Jangan mengorek hidung terlalu dalam.
  • Jangan membuang ingus terlalu keras.
  • Jika hidung tersumbat gunakan obat-obatan dari dokter yang mampu melegakan hidung kembali.
  • Edukasi anak-anak agar tidak memasukkan apapun ke dalam hidung. 
Diagnosis dan Pemeriksaan

Dalam tahapan mendiagnosis gejala epistaksis ringan, biasanya dokter akan menanyakan riwayat penyakit dan melakukan pemeriksaan fisik pasien.

  • Dokter akan menentukan apakah darah berasal dari satu lubang (biasanya anterior) atau dari dua lubang hidung.
  • Jika darah mengalir ke tenggorokan atau dari kedua lubang hidung, biasanya pasien didiagnosis mengalami perdarahan posterior
  • Dokter akan menanyakan apakah pasien pernah mengalamitrauma, riwayat penggumpalan darah, atau hipertensi, baik pasien itu sendiri maupun keluarganya di masa lalu. Selain itu, dokter juga akan mengecek apakah pasien pernah menjalani operasi hidung sebelumnya.
  • Dokter akan menanyakan tentang nyeri di wajah (otalgia) yang dapat menunjukkan tanda-tanda tumor nasofaring.

Selain dengan diagnosis yang sudah disebutkan sebelumnya, tidak menutup kemungkinan dilakukan sebuah pemeriksaan laboratorium. Biasanya, hal ini tidak perlu dilakukan pada sebagian besar kasus yang ringan. Namun dalam kasus perdarahan berulang atau mengeluarkan banyak darah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, berupa:

  • Tes darah lengkap
  • Tes koagulasi
  • Jika ada dugaan keganasan pada hidung atau kelainan lainnya harus meminta rujukan ke ahli bedah THT dan bila perlu akan dilakukan CT scan dan / atau nasopharyngoscopy.
Penanganan

Pada umumnya mimisan akan berhenti sendiri tanpa pengobatan lanjut. Namun, tidak ada salahnya Anda mengetahui prosedur pertolongan pertama yang dapat diterapkan untuk Anda atau kerabat di sekitar.

  • Panik merupakan reaksi yang wajar. Namun, ada baiknya Anda langsungduduk tegak dengan badan sedikit condong ke depan. Kemudian, cobalah meremas bagian bawah hidung selama 10-20 menit untuk menghentikan pendarahan, sambil bernapas melalui mulut. Jangan lupa untuk memberi kompres dingin menggunakan es di daerah tulang rawan hidung. Nah, prosedur yang satu ini biasanya sudah bisa menghentikan pendarahan. 
  • Jika Anda memiliki riwayatpendarahan yang banyak dan terus menerus, segera minta bantuan tenaga medis atau paramedis, waspada terjadi yok hipovolemik.
  • Jika Anda meminta bantuan tenaga medis, dokter akan memantau denyut nadi dan tekanan darah pasiensebagai langkah awal. Kemudian, dilanjutkan dengan memeriksa hidung pasien menggunakan spekulum hidung secara hati-hati agar tidak memperparah pendarahan.
  • Jika diperlukan,dokter akan memberikan vasokonstriktor atau melakukan kauterisasi untuk menghentikan perdarahan.

Setelah penanganan usai dilakukan, biasanya pasien akan merasakan beberapa komplikasi sebagai efek dari pendarahan tersebut. Nah, beberapa komplikasi yang terjadi setelah mimisan, di antaranya:

  • Penciuman berkurang
  • Terus berdarah.
  • Kesulitan bernapas dan darah menggumpal
  • Kerusakan pada septum hidung atau nekrosis tekanan tulang rawan.
  • Terjadi infeksi bakteri karena darah yang tertinggal menjadi tempat bertumbuhnya bakteri.

Perlu dicatat nih, jika komplikasi terus terjadi dan tidak memberi tanda akan segera reda, segeralah kembali ke dokter untuk pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut.

Nah, itu tadi informasi mengenai epistaksis atau yang dikenal dengan mimisan. Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari SmartphoneDownload aplikasinya di sini.

 

VH/PJ/MA

Referensi