Epiglotitis ; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Epiglotitis

Epiglotitis merupakan sebuah keadaan yang ditandai dengan peradangan dan pembengkakan pada epiglotis. Epiglotis merupakan tulang rawan yang berada di dasar lidah. Penyebab epiglotitits yang diketahui ada 2, yaitu infeksi dan cedera pada epiglotis.

 

Mengenal Epiglotitis

Epiglotitis merupakan sebuah keadaan yang ditandai dengan peradangan dan pembengkakan pada epiglotis. Kondisi ini sangat berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa.

Epiglotis merupakan tulang rawan yang berada di dasar lidah. Epiglotis berfungsi sebagai katup untuk mencegah makanan dan cairan masuk ke saluran napas ketika seseorang sedang makan dan minum. Jaringan yang membentuk epiglotis dapat terinfeksi, membengkak, dan mampu memblokir saluran napas.

Di Amerika Serikat, epiglotitis adalah penyakit yang tidak umum terjadi. Hal ini dibuktikan dengan perbandingan pada orang dewasa sekitar 1 kasus per 100.000/tahunnya. Epiglotitis dewasa paling sering ditemukan pada laki-laki (rasio laki-perempuan, sekitar 3: 1), terjadi selama dekade kelima kehidupan (usia rata-rata sekitar 45 tahun). Rasio kejadian pada anak-anak terhadap orang dewasa adalah 2,6: 1 -pada tahun 1980 dan turun menjadi 0,4: 1 -pada tahun 1993; penurunan drastic ini terjadi sejak diperkenalkannya vaksin Haemophilus influenzae tipe b (Hib). Namun, perlu diingat bahwa ada kemungkinan terinfeksi sekalipun sudah mendapatkan vaksin.

Penyebab

Penyebab epiglotitits yang diketahui ada 2, yaitu infeksi dan cedera pada epiglotis.

1. Infeksi

Infeksi bakteri adalah penyebab paling umum dari epiglotitis. Bakteri dapat masuk ke tubuh saat seseorang menghirupnya. Bakteri ini dapat menginfeksi epiglotis.

Jenis bakteri yang paling umum yang menyebabkan kondisi ini adalah Haemophilus influenzae tipe b, juga dikenal sebagai Hib. Seseorang dapat tertular Hib dengan menghirup kuman ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau menghembuskan napas dengan keras melalui hidungnya.

Selain itu, virus yang menyebabkan herpes zoster dan cacar air, bersama dengan virus yang menyebabkan infeksi pernafasan, juga dapat menyebabkan epiglotitis. Jamur, seperti jamur yang menyebabkan ruam popok atau infeksi jamur lainnya, juga dapat menyebabkan radang epiglotis.

2. Cedera

Kondisi di bawah ini yang dapat memicu cedera pada epiglotis, yaitu:

  • Menghirup kokain
  • Menghirup bahan kimia dan luka bakar kimia
  • Menelan benda asing
  • Menghirup uap panas atau sumber panas lainnya
  • Mengalami cedera tenggorokan akibat trauma, seperti luka pukulan, luka tusuk atau luka tembak.
Faktor Risiko

Faktor-faktor tertentu meningkatkan risiko terkena epiglotitis, termasuk:

  • Jenis kelamin. Epiglotitis mempengaruhi lebih banyak pria daripada wanita
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Jika sistem kekebalan tubuh lemah akibat penyakit atau obat-obatan, seseorang lebih rentan terhadap infeksi bakteri yang dapat menyebabkan epiglotitis
  • Kurang vaksinasi yang memadai. Imunisasi yang tertunda atau terlewat dapat membuat anak rentan terhadap Hib dan meningkatkan risiko epiglotitis.
Gejala

Gejala-gejala  umumnya serupa, terlepas dari penyebabnya. Namun, gejala yang muncul pada anak-anak dan orang dewasa berbeda. Perburukan gejala pada anak-anak dapat berlangsung dalam hitungan jam. Pada orang dewasa, umumnya berkembang lebih lambat, selama beberapa hari.

Gejala-gejala yang umum pada anak-anak termasuk:

  • Demam tinggi
  • Suara serak
  • Sakit tenggorokan
    • Air liur menetes
    • Sulit dan nyeri saat menelan
    • Gelisah
    • Bernapas melalui mulut
    • sesak napas (berkurang saat condong ke depan atau duduk tegak).

Gejala umum pada orang dewasa meliputi:

  • Demam
  • Sulit menarik napas (dapat menyebabkan biru pada tubuh karena kekurangan oksigen)
  • Sulit menelan
  • Suara serak atau teredam
  • Stridor (suara bernada tinggi ketika seseorang bernafas, terutama ketika menghirup napas)
  • Sakit tenggorokan yang parah.
Diagnosis

Jika tim medis mencurigai adanya epiglotitis, prioritas pertama adalah memastikan jalan napas terbuka dan cukup oksigen untuk ke seluruh tubuh. Tes awal yang dilakukan umumnya menggunakan pulse oximetry (alat yang memperkirakan kadar oksigen dalam darah seseorang).

Tes berikutnya yang dilakukan setelah diketahui hasil pernapasan seseorang stabil:

  • Pemeriksaan tenggorokan. Menggunakan tabung serat-optik yang fleksibel, dokter mungkin melihat ke bawah atau tenggorokan untuk melihat apa yang menyebabkan gejala. Anestesi lokal dapat membantu meredakan rasa sakit saat dilakukan tindakan
  • Foto toraks atau leher. Bila diagnosis pasien adalah epiglotitis, maka pada X-ray tampak gambaran seperti sidik jari di leher (indikasi epiglotis yang membesar)
  • Kultur tenggorokan dan tes darah. Untuk menentukan jenis kuman, epiglotis diseka dengan kapas dan sampel jaringan diperiksa untuk Hib. Pemeriksaan darah dilakukan untuk menentukan bakteremia  (infeksi pada aliran darah) yang dapat menyertainya.
Penanganan

Jika dokter mencurigai epiglotitis, penanganan pertama umumnya akan dilakukan pemantauan kadar oksigen dalam dengan alat pulse oximetry dan melindungi jakan napas. Jika kadar oksigen darah terlalu rendah, akan ditambahkan terapi oksigen melalui selang atau masker oksigen. Dokter juga dapat memberikan terapi tambahan seperti:

  • Cairan intravena untuk nutrisi dan hidrasi sampai seseorang bisa menelan lagi
  • Antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri yang diketahui atau dicurigai
  • Obat anti peradangan, seperti kortikosteroid, untuk mengurangi pembengkakan di tenggorokan.

Pada kasus berat yang dapat menyebabkan gagal napas, diperlukan prosedur pembedahan kecil yang dikenal sebagai tracheostomy. Pada prosedur ini, dokter akan memasukkan jarum ke trakea yang bertujuan untuk terjadinya pertukaran oksigen dan mencegah kegagalan pernafasan.

Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan:

1. Vaksinasi

Anak-anak harus menerima dua hingga tiga dosis vaksin Hib mulai dari usia 2 bulan. Biasanya, anak-anak menerima vaksin ketika mereka berusia 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan. Dan akan menerima booster pada usia antara 12 dan 15 bulan.

Tindakan pencegahan sehari-hari

  • Cuci tangan dengan sabun atau gunakan pembersih alkohol untuk mencegah penyebaran kuman
  • Hindari minum dari cangkir yang sama dengan orang lain
  • Hindari berbagi makanan atau peralatan makan dengan orang lain
  • Menjaga kekebalan tubuh yang baik dengan makan bergizi, menghindari merokok, istirahat yang cukup, dan mengontrol penyakit kronis dengan benar.
Komplikasi

Komplikasi paling berbahaya adalah gagal napas, yang mengancam jiwa.

Penyebaran infeksi dapat terjadi ke berbagai organ seperti:

Semoga bermanfaat!

 

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung di smartphone Anda. Tunggu apalagi, segera download aplikasi kesehatan Go Dok di sini.

 

AQ/JJ/MA

Referensi