Eklampsia ; Gejala, Diagnosis dan Penanganan

Eklampsia

 

 

Eklampsia adalah keadaan yang terjadi pada penderita preeklampsia, yang diikuti dengan kejang dan hilangnya kesadaran (koma). Hal ini merupakan kasus serius. Kejadian penyakit ini dapat terjadi kapanpun selama kehamilan yaitu baik sebelum (ante), saat (intra), atau setelah melahirkan (postpartum).

 

Mengenal Eklampsia

Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan masalah penting bagi Negara Indonesia di bagian kesehatan yang juga menunjukan kualitas pelayanan kesehatan selama masa kehamilan sampai masa nifas. Nilai AKI di Indonesia sendiri masih tergolong dalam yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Tiga penyebab utama kejadian kematian ibu adalah perdarahan, hipertensi (tekanan darah tinggi) dalam kehamilan, serta infeksi.

Eklampsia adalah keadaan yang terjadi pada penderita preeklampsia, yang diikuti dengan kejang dan hilangnya kesadaran (koma). Hal ini merupakan kasus serius. Kejadian penyakit ini dapat terjadi kapanpun selama kehamilan yaitu baik sebelum (ante), saat (intra), atau setelah melahirkan (postpartum). Eklampsia postpartum umumnya terjadi pada kurun waktu 24 jam setelah proses persalinan.

Kondisi ini dapat pula didefinisikan sebagai keadaan dimana ditemukan serangan kejang tiba- tiba yang dapat disusul dengan keadaan koma yang dialami oleh wanita pada saat hamil, persalinan atau masa nifas yang menunjukan gejala preeklampsia sebelumnya. Kejang yang terjadi bukan diakibatkan oleh kelainan neurologis. Kondisi ini sendiri berasal dari bahasa Yunani yang mempunyai arti halilintar, yang dipergunakan karena seolah-olah gejalanya timbul tiba-tiba tanpa didahului tanda-tanda lain.

Epidemiologi

Frekuensi kejadian eklampsia berbeda pada berbagai negara. Di negara-negara sedang berkembang angka kejadiannya dilaporkan berkisar 1,8% – 8%, sedangkan di negara-negara maju, mempunyai angka yang lebih kecil, yaitu 1,3% – 6%. Angka kejadian rendah merupakan penanda tentang adanya pengawasan antenatal dan penatalaksanaan kasus preeklampsia yang lebih baik.

<h6id=”faktorrisiko” style=”text-align: justify;”>Faktor risiko

Sebenarnya, penyebab eklampsia belum diketahui dengan pasti. Salah satu teori menyatakan bahwa kondisi ini  disebabkan karena ischemia rahim dan plasenta (ischaemia uteroplacentae). Namun, ada beberapa faktro risiko yang dapat menyebabkan terjadinya kondisi ini, yaitu :

Kehamilan pertama kali (primigravida) atau wanita yang belum pernah melahirkan (nullipara), terutama pada umur reproduksi ekstrem, yaitu dibawah 16 tahun dan umur diatas 35 tahun.

  • Multigravida (hamil > 3 kali).
  • Kehamilan ganda.
  • Adanya penyakit vaskuler seperti hipertensi, diabetes mellitus, penyakit ginjal, dan sebagainya.
  • Adanya riwayat keluarga pernah mengalami preeklamsia atau eklampsia.
  • Obesitas.
  • Riwayat preeklampsia atau eklampsia sebelumnya.
Gejala

Pada dasarnya, karena kondisi ini merupakan kelanjuatan dari kondisi preeklampsia, maka gejala diawali oleh keluhan preeklampsia dan apabila kondisi preeklampsia tidak ditangani dengan baik maka akan berakibat jatuh pada kondisi eklampsia yang dapat ditandai dengan :

  • Kejang, yang merupakan keluhan umum eklampsia
  • Penurunan kesadaran.
Diagnosis

Mendiagnosis kondisi ini umumnya tidak terlalu sulit. Dengan terpenuhinya kriteria diagnosis preeklampsia yang diikuti oleh serangan kejang, maka diagnosis kondisi ini sudah dapat ditegakkan. Kriteria minimal diagnosis preeklampsia sendiri, yaitu :

  • Hipertensi

Tekanan darah sistolik sekurang – kurangnya ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik sekurang – kurangnya ≥90 mmHg pada 2 kali pemeriksaan dengan jarak 15 menit pada lengan yang sama.

dan

  • Proteinuria

Hasil pemeriksaan laboratorium urin, protein urin lebih dari 300 mg dalam 24 jam atau menggunakan metode dipstik dengan hasil lebih dari positif 1.

Penanganan

Penggunaan obat – obatan pada kasus preeklampsia bertujuan untuk mencegah kondisi ibu jatuh kedalam kondisi eklampsia. Jika sudah jatuh dalam kondisi eklampsia, evakuasi janin atau melahirkan bayi merupakan penanganan yang harus segera dilakukan. Penggunaan obat – obatan bertujuan untuk menghentikan kejang serta mencegah terjadinya kejang susulan. Jika ibu mengalami kejang dirumah, maka keluarga atau orang disekitar dapat melakukan hal sebagai berikut :

  • Jika muntah, miringkan ibu supaya tidak terjadi aspirasi atau tersedak.
  • Pindahkan ibu ketempat yang aman dan datar.
  • Setelah kejang selesai, janganburu – buru memberikan minum pada ibu, karena risiko tersedak sangatlah besar, karena ibu tidak sadar penuh.
  • Segera bawa ke Rumah Sakit terdekat.
Komplikasi

Komplikasi terburuk yang mungkin terjadi adalah kematian bagi ibu dan / atau janin. Komplikasi lain yang dapat terjadi yaitu :

  • Lepasnya plasenta ( solusio plasenta )
  • Sindrom HELLP
  • DIC
  • Perdarahan pada otak
  • Gangguan penglihatan
  • Kelainan ginjal
  • Kelainan paru – paru
  • Lahir prematur
  • Berat bayi lahir rendah
  • Dan lain – lain.
Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  • Melakukan antenatal careatau pemeriksaan kehamilan minimal 1 kali pada trimester pertama dan kedua serta 2 kali pada trimester ketiga.
  • Menghindari faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti menghindari hamil pada usia reproduksi ekstrem, menghindari kehamilan multipara, melakukan pola hidup sehat.
  • Segera konsultasikan diri dengan dokter jika dirasa mengalami gejala preeklampsia.  

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari SmartphoneDownload aplikasinya di sini.

GA/PJ/MA

Referensi