Di Balik Sosok Perempuan Alpha

perempuan alpha

Perempuan alpha digambarkan sebagai pribadi yang mampu memengaruhi orang, memanfaatkan kemampuan yang dimiliki, serta memimpin orang lain dan begitu terbuka dalam situasi sosial apapun.

 

pijarpsikologi.org – Pastinya Anda dapat merasakan, adanya nilai dan adat yang berkembang di masyarakat untuk mengharuskan lelaki agar dapat menjadi sosok yang kuat, berani, serta mampu melindungi perempuan. Setidaknya, hal itulah yang telah berkembang di masyarakat Indonesia dan Negara-negara dengan budaya timur lainnya.

Perempuan cenderung dipandang sebagai sosok yang lemah, ingin diperhatikan, dilindungi, disayang, atau dianggap spesial. Pandangan-pandangan seperti ini memicu adanya perlakuan khusus terhadap perempuan.

Misalnya, bila ada pekerjaan kasar seperti memaku, mengecat dinding, maupun mengganti ban mobil, perempuan diminta untuk duduk diam. Perempuan lebih banyak mengerjakan pekerjaan dapur, seperti membuat makanan atau minuman daripada ikut bekerja.

Selain itu, bila berkumpul sampai larut malam, laki-laki seolah-olah harus mengantarkan atau menemani perempuan pulang, tidak membiarkan ia pulang sendiri begitu saja. Pastinya, ada di antara Anda yang berada di posisi mengantar pulang teman perempuan, bukan?

Nah, apa yang terjadi bila pandangan tersebut terbalik? Perempuan tidak lagi dianggap lemah dan menjadi sosok yang lebih kuat daripada lelaki. Mereka mau untuk dilibatkan dalam pekerjaan kasar, bahkan mampu melakukan pekerjaannya lebih baik daripada laki-laki. Bisa dibilang, inilah momen ketika di dalam diri seorang perempuan mulai muncul sifat maskulin.

Muncul Keresahan

Meski memiliki sisi maskulin, perempuan tetaplah seorang perempuan. Perempuan tetap seorang manusia yang lekat dengan sikap feminin dalam dirinya. Sifat feminin ini yang membuat perempuan menjadi lebih rumit untuk dipahami. Ia telah terbiasa untuk melakukan apapun sendiri. Ia mampu menghadapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya dengan baik, seolah-olah ia bisa bertahan tanpa sosok lelaki dalam kehidupannya.

Kamu mungkin pernah menemui perempuan yang terkenal kuat di lingkungannya. Kuat tidak semata berarti secara fisik, tetapi juga secara pribadi, misalnya menjadi pemimpin dalam suatu organisasi. Selain itu, perempuan yang berkarir di bidang yang dipenuhi laki-laki, seperti bekerja di perusahaan tambang yang mengharuskan bekerja di laut lepas dan dipenuhi mesin pengeboran juga bisa dipandang sebagai perempuan hebat nan mandiri.

Tanpa disadari, sosok perempuan yang seperti itu dapat membuat laki-laki takut untuk mendekati. Laki-laki seakan merasa tersaingi dengan sifat maskulin yang ada di diri perempuan tersebut. Laki-laki juga menjadi ragu karena takut tidak mampu mengimbangi perempuan yang seperti itu.

Pada awalnya, perempuan merasa kagum dengan dirinya. Semakin lama, perempuan merenungi apa yang terjadi. Apakah memang dirinya tidak menarik karena tidak dipandang sebagai perempuan seperti umumnya? Ia juga mempertanyakan, apa yang salah dengan dirinya? Ia pun menjadi ragu untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan sosok laki-laki.

Perempuan Alpha dan Beta

Mungkin belum banyak yang mengetahui kalau terdapat istilah yang menggambarkan dua sosok perempuan yang berbeda ini, yaitu alpha dan beta.

Alpha digambarkan sebagai pribadi yang mampu memengaruhi orang, memanfaatkan kemampuan yang dimiliki, serta memimpin orang lain. Sebagai tambahan, mereka juga identik dengan perasaan lebih unggul dibandingkan perempuan lain, mampu membimbing orang lain, dan begitu terbuka dalam situasi sosial apapun.

Sementara itu, beta dipandang sebagai pribadi yang lebih mendengarkan dan mendukung orang lain.

Ketika perempuan terlalu condong ke jenis alpha, maka akan menjadi orang yang penuh konfrontasi. Konfrontasi terjadi karena perempuan dilihat terlalu mendominasi dan mengatur pihak lain.

Di sisi lain, perempuan yang terlalu ekstrem ke beta menjadi orang yang terlalu pasif. Meskipun begitu, tidak berarti sifat perempuan menjadi sekaku itu. Sebuah berkah bagi perempuan yang mampu menempatkan diri bergantung pada situasi yang sedang dihadapi.

Mungkin perempuan yang dipandang kuat serupa dengan alpha. Ia merasa nyaman dengan dirinya yang seperti itu, namun bukan berarti ia terbebas dari kelemahan. Kelemahan ini yang mendorong perempuan untuk mampu berperan sebagai beta, agar memberi kenyamanan berinteraksi dengan orang lain.

Ketika Alpha dan Beta Bertemu

Apa yang terjadi jika perempuan condong menjadi alpha lalu sulit menjadi beta? Sekalipun menjadi alpha, tanpa disadari ia tetap menginginkan sosok lelaki yang lebih kuat daripada dirinya.

Untuk memahaminya, mari kita coba sedikit bermain peran . Apabila perempuan alpha bertemu dengan lelaki alpha, maka berkemungkinan untuk menimbulkan konflik. Konflik dapat timbul karena kedua belah pihak sama-sama kuat dan ingin mendominasi.

Dengan begitu, mereka akan bersaing untuk menguasai maupun mendominasi satu sama lain. Ada keinginan untuk lebih didengarkan daripada mendengarkan yang lain.

Meskipun begitu, kisah sesama alpha ini bisa saja berjalan dengan baik, ketika lelaki memiliki kecenderungan alpha yang lebih tinggi dibandingkan si perempuan. Lelaki tetap bisa memimpin dan membimbing perempuan. Perempuan juga mampu mengimbangi dan merelakan sisi dirinya, untuk dipimpin lelaki.

Di sisi lain, ada yang berpendapat perempuan alpha lebih baik bertemu dengan lelaki beta, yang cenderung komunikatif, bertanggungjawab, bijaksana, dan kolaboratif. Dua pribadi yang berbeda dalam diri perempuan dan lelaki, tetapi bisa menjadi kombinasi yang baik.

Contohnya, wanita karir yang bekerja di kantor berpasangan dengan lelaki yang memiliki usaha di rumah. Sikap saling menghargai sebenarnya akan menguntungkan kedua belah pihak dalam menjalani rumah tangganya.

Sayangnya, kombinasi ini terkadang dipandang berlawanan dengan nilai tradisional yang selama ini berkembang di masyarakat Indonesia. Laki-laki harus bekerja di luar, sementara perempuan tinggal di rumah mengurus keluarga.

Namun pada kenyataannya, kombinasi perempuan alpha dengan lelaki beta ini bukanlah perkara mudah. Sebagian ada yang berhasil menjalin hubungan mereka, sebagian lainnya malah mendorong percekcokan.

Percekcokan terjadi disebabkan munculnya rasa lelah atau jenuh pada perempuan yang harus terus berperan sebagai alpha, yang tidak diimbangi dengan peran lelaki di sampingnya. Seperti yang sudah dinyatakan sebelumnya, sehebat-hebatnyanya perempuan alpha, dirinya tetap ingin agar dipimpin dan dibimbing oleh lelaki.

Penyebab lainnya adalah pihak lelaki yang merasa tidak sanggup untuk mengimbangi sisi alpha yang kuat pada pasangannya. Timbul rasa rendah diri dan tidak dihargai sebagai lelaki, yang lekat dengan peran memimpin. Akan tetapi, itu semua perlahan pudar karena sosok perempuan yang lebih kuat ada di dekatnya.

Sekalipun Mandiri, Tetap akan Bergantung

Perempuan memiliki keinginan yang ingin dicapai. Demi mencapai keinginan ini, terkadang menyebabkan dirinya tidak ingin memikirkan kehadiran laki-laki. Dengan begitu, perempuan berusaha menjadi pribadi yang tangguh, berani, dan mandiri untuk bertahan hidup.

Namun ternyata, seberapa mandirinya seseorang, tetap akan bergantung terhadap orang lain. Bergantung bukan berarti sepenuhnya menjadi bertumpu pada orang lain, tetapi lebih pada membutuhkan kehadiran orang lain dalam kehidupan.

Jauh di dasar hatinya, perempuan yang terkesan kuat maupun mandiri berharap menemukan lelaki yang mampu mengimbangi dan memahami dirinya. Ia juga mencari sosok lelaki yang dapat dijadikan tempat bersandar serta bercerita. Di sisi lain, ia tetap bisa berperan sebagai pribadi mandiri di saat yang dibutuhkan.

Setelah mengetahui artikel di atas, sudah sewajarnya perempuan memiliki hak yang sama mulai dari pekerjaan, hak pendapatan hingga peran dalam keluarga. Lalu, tipe yang manakah Anda?

 

Pijar Psikologi adalah media layanan psikologi yang menyediakan konsultasi gratis dan artikel informatif seputar kehidupan sehari hari dari sudut pandang psikologi. Kunjungi pijarpsikologi.org untuk artikel menarik seputar psikologi lainnya.

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.

Approved by dr. Jolinda Johary

Content partnerpijarpsikologi.com