Dermatofitosis ; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Dermatofitosis

Dermatofitosis dikenal juga dengan nama tinea yaitu sebuah infeksi pada kulit yang disebabkan oleh jamur. Ada tiga jenis jamur berbeda yang menjadi penyebabnya yang tumbuh subur di tempat yang hangat dan lembap. Gejala yang terjadi bervariasi; tergantung pada bagian tubuh mana yang terinfeksi.

 

Mengenal Dermatofitosis

Dermatofitosis –dikenal juga dengan nama tinea adalah sebuah infeksi pada kulit yang disebabkan oleh jamur. Biasanya, infeksi muncul dengan bercak merah di daerah kulit yang terkena dan kemudian menyebar ke bagian tubuh yang lain. Hal ini dapat terjadi pada kulit kepala, kaki, pangkal paha, jenggot, atau daerah lain. Ada beberapa jenis dermatofitosis; namun yang paling sering timbul biasanya pada daerah kulit di badan (tinea corporis), kulit kepala (tinea capitis), kaki (tinea pedis, atau “athlete’s foot”), atau daerah pangkal paha (tinea cruris).

Penyebab

Ada tiga jenis jamur berbeda yang dapat menyebabkan infeksi ini. Namun, ketiga jamur ini memiliki persamaan, yaitu tumbuh subur di tempat yang hangat dan lembap. Trichophyton, Microsporum, dan Epidermophyton adalah ketiga jamur itu.

Ada kemungkinan bahwa jamur ini hidup untuk waktu yang lama dalam bentuk spora di tanah sehingga memungkinkan manusia dan hewan kontak dengan tanah yang mengandung spora. Akibatnya, baik manusia maupun hewan tersebut akan terinfeksi oleh jamur ini.

Selain itu, infeksi juga bisa menyebar melalui kontak langsung dengan manusia, hewan maupun benda yang dipakai/digunakan bergantian dengan penderita. Infeksi ini umumnya menyebar di kalangan anak-anak yang memiliki kecenderungan menggunakan barang yang tidak bersih secara bergantian. Hal ini dikarenakan jamur yang menyebabkan penyakit ini, bisa hidup dalam jangka waktu yang lama pada benda yang terinfeksi, termasuk pakaian,barang dan peralatan olahraga

Faktor Risiko

Seseorang akan lebih berisiko terkena dermatofitosis bila:

  • Hidup dalam iklim yang hangat
  • Usia anak-anak
  • Sering tidak menggunakan alas kaki
  • Memiliki hewan peliharaan
  • Sering pergi ke pemandian umum atau kolam renang
  • Melakukan kontak dekat dengan orang atau hewan yang terinfeksi
  • Berbagi pakaian, tempat tidur atau handuk dengan seseorang yang sudah terinfeksi jamur
  • Mengikuti olahraga yang memiliki kontak kulit-ke-kulit, seperti gulat
  • Menggunakan pakaian terlalu ketat dan tidak menyerap keringat
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah
  • Obesitas
  • Memiliki riwayat penyakit diabetes.
Gejala

Gejala dermatofitosis yang terjadi bervariasi; tergantung pada bagian tubuh mana yang terinfeksi. Beberapa gejala yang umumnya terjadi adalah:

  • Merah, gatal, bersisik, atau muncul ruam yang meninggi dibandingkan kulit sekitarnya. Pada kulit berwarna terang, ruam cenderung berwarna merah atau merah muda. Sedangkan pada kulit berwarna gelap, bercak biasanya berwarna coklat atau abu-abu.
  • Ruam akan tampak lebih merah di bagian tepi luar dibanding di dalam (menyerupai bentuk cincin).
  • Jika dermatofitosis menyerang kuku, kuku akan menjadi lebih tebal atau berubah warna bisa juga mulai retak.
  • Jika dermatofitosis menyerang kulit kepala, rambut di sekitar daerah yang terinfeksi bisa bercabang atau rontok bahkan bisa menimbulkan kebotakan.
Diagnosis

Dokter akan mendiagnosisnya dengan melihat area yang terinfeksi dan area lain di tubuh. Apabila dokter mencurigai dermatofitosis, dokter akan melakukan konfirmasi diagnosis dengan melakukan beberapa tes, yaitu:

  • Biopsi kulit atau kultur jamur. Dokter akan mengambil sampel kulit dari daerah yang terinfeksi lalu mengirimkannya ke laboratorium untuk dites.
  • Pemeriksaan KOH. Dokter akan mengikis sedikit kulit yang terinfeksi dan memasukkannya ke dalam larutan potasium hidroksida (KOH). KOH menghancurkan sel normal dan membuat sel jamur tetap utuh, sehingga mudah dilihat di bawah mikroskop.
Penanganan

Dokter akan merekomendasikan dua jenis penanganan dermatofitosis yaitu perawatan di rumah dan obat-obatan.

1. Obat- obatan

Dokter akan meresepkan obat dengan mempertimbangkan tingkat keparahan infeksi. Infeksi jamur pada badan, kaki, dan pangkal paha dapat diobati dengan krim anti jamur, salep, gel, atau semprotan. Infeksi pada kulit kepala atau kuku mungkin memerlukan resep obat jamur oral seperti ketoconazole, griseofulvin, atau terbinafine.

Infeksi pada kulit kepala juga membutuhkan pengobatan sampo anti jamur. Apabila penderita tinggal dengan orang lain di rumah, setiap orang di rumah yang sama juga harus menggunakan sampo anti jamur.  Bila semua orang menggunakan sampo antijamur, ini membantu mencegah anggota keluarga saling menularkan infeksi.

Obat bebas yang dijual di pasaran dan krim kulit anti jamur juga dapat dipergunakan.

2. Perawatan di rumah

Selain resep dokter dan obat-obatan bebas di pasaran, dokter juga akan menyarankan perawatan infeksi di rumah dengan melakukan beberapa hal berikut ini:

  • Hindari pakaian yang dapat menggesek area yang terinfeksi. Tutupi area terinfeksi dengan perban jika tidak dapat menghindari geskean karena pakaian tersebut.
  • Cuci seprai dan pakaian setiap hari untuk membantu disinfeksi lingkungan sekitar.
  • Bersihkan dan keringkan kulit Anda secara teratur.

Jika timbul luka garukan pada kulit yang terinfeksi, ada kemungkinan juga mengalami infeksi bakteri pada kulit. Dokter mungkin akan meresepkan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri ini.

Komplikasi

Infeksi jamur jarang menyebar di bawah permukaan kulit sehingga tidak menyebabkan penyakit serius. Tetapi individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah, seperti orang dengan HIV / AIDS, akan cukup sulit untuk melawan infeksi ini.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari SmartphoneDownload aplikasinya di sini.

PJ/MA

Referensi