Croup ; Penyebab, Gejala dan Penanganan  

Croup

 

 

Croup adalah sebuah penyakit infeksi yang menyerang laring dan trakea dan pada umumnya dialami oleh anak kecil. Tipe 1, 2, dan 3 dari virus parainfluenza merupakan penyebab dari 80% kasus croup. Anak-anak yang paling berisiko menderita penykit ini yang berusia di antara 6 bulan sampai dengan 3 tahun.

 

Mengenal Croup

Croup adalah sebuah penyakit infeksi yang menyerang laring dan trakea dan pada umumnya dialami oleh anak kecil. Gejala yang khas berupa batuk yang menggonggong, tersumbatnya jalan nafas, dan suara serak.

Penyakit ini merupakan salah satu penyakit pada anak yang menyebabkan stridor (bunyi suara tarikan napas yang kasar) akut. Rata-rata kunjungan pasien anak saat dibawa orang tua ke layanan kesehatan, 15% kasus merupakan penyakit croup. Kasus ini sering dijumpai pada bayi dan balita berusia 6 bulan hingga 36 bulan (3 tahun). Rasio laki-laki berbanding perempuan adalah sekitar 1,4: 1. Penyakit ini paling sering terjadi pada akhir musim gugur dan awal musim dingin, tetapi bisa terjadi setiap saat sepanjang tahun.

Penyebab

Tipe 1, 2, dan 3 dari virus parainfluenza merupakan penyebab dari 80% kasus penyakit ini. Human parainfluenza virus 1 (HPIV-1) adalah penyebab paling umum, dengan tipe 1 dan 2 menyebabkan 66% infeksi. Tipe 4 telah dikaitkan dengan penyakit ringan tetapi tidak didalami/tidak diteliti lebih lanjut. Virus lain yang dapat menyebabkan croup termasuk adenovirus (kelompok lain virus flu biasa), virus pernapasan syncytial (RSV), kuman yang paling umum menyerang anak-anak, dan campak.

Penyakit ini juga dapat disebabkan oleh alergi, paparan virus yang terhirup, atau infeksi bakteri namun kasusnya jarang. Infeksi bakteri biasanya lebih parah dan memerlukan perawatan yang berbeda. Sebagian besar kasus croup bakteri, lebih sering disebut trakeitis bakteri, karena infeksi bakteri sekunder dari Staphylococcus aureus (S. aureus). Bakteri lain yang menyebabkan croup termasuk S. pyogenes, S. pneumonia, Haemophilus influenza, dan Moraxella catarrhalis.

Faktor Risiko

Anak-anak yang paling berisiko menderita croup adalah yang berusia di antara 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Puncak kejadian umumnya terjadi pada usia 24 bulan. Hal ini disebabkan karena ukuran saluran pernapasan pada bayi dan balita sangat kecil. Anak- anak yang menyentuh benda yang terpapar virus penyebab croup sangat rentan mengalami infeksi penyakit ini.

Gejala

Croup umumnya diawali sebagai flu biasa. Jika ada peradangan, seorang anak akan mengalami batuk keras. Keluhan batuk bisa berupa batuk menggonggong biasanya memburuk di malam hari dan semakin diperparah ketika menangis. Demam dan suara serak juga sering terjadi. Selain itu, akan muncul juga gejala stridor (suara tarikan napas yang tinggi) pada anak. Gejalanya biasanya berlangsung selama tiga hingga lima hari.

Gejala dari croup yang perlu diwaspadai dan segera diperiksakan ke dokter, yaitu:

  • Suara napas bernada tinggi (stridor) saat menghirup dan membuang napas
  • Mulai meneteskan air liur atau sulit menelan
  • Terlihat cemas, gelisah, dan/atau lelah dan juga lesu
  • Bernafas lebih cepat dari biasanya
  • Terlihat sulit untuk bernapas
  • Kulit membiru atau keabu-abuan di sekitar hidung, mulut atau kuku (sianosis).
Diagnosis

Croup biasanya didiagnosis oleh dokter dengan cara mengamati pernapasan anak, mendengarkan dada anak dengan stetoskop, dan memeriksa tenggorokan. Pemeriksaan rontgen atau tes lain digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lainnya.

Penanganan

1. Kasus Ringan

Sebagian besar kasus penyakit ini dapat dirawat di rumah. Dokter dan perawat dapat memantau perkembangan anak melalui telepon. Pelembab udara/air purifier juga dapat membantu anak bernapas lebih mudah saat mereka tidur. Pereda nyeri yang dijual bebas dapat meredakan rasa tidak nyaman di tenggorokan, dada, atau kepala. Obat batuk hanya diberikan berdasarkan pemeriksaan dan saran dari dokter.

2. Kasus berat

Jika anak mengalami masalah kesulitan dalam bernapas, disarankan langsung membawa anak ke UGD. Dokter umumnya menggunakan obat steroid untuk membuka saluran napas anak sehingga lebih mudah bernapas. Dalam kasus berat, bantuan tabung pernapasan juga dapat digunakan untuk membantu anak mendapatkan cukup oksigen.

Jika telah dipastikan bahwa infeksi bakteri merupakan penyebab dari penyakit ini, maka akan diberikan antibiotik di rumah sakit saat perawatan, atau dibawa pulang. Pasien dehidrasi mungkin memerlukan cairan intravena.

Pencegahan sebaiknya dilakukan sebelum anak terinfeksi. Sebagian besar kasus croup disebabkan oleh virus yang menyebabkan flu. Strategi pencegahannya pun serupa untuk semua virus ini. Langkah pencegahan bisa dilakukan dengan mencuci tangan, menjaga kebersihan benda-benda keluar masuk dari mulut anak, dan menghindari anak untuk kontak dengan orang yang sedang sakit.

Beberapa kasus penyakit ini yang paling serius disebabkan oleh kondisi seperti campak. Untuk menghindari penyakit berbahaya seperti ini, orang tua harus menjaga anak-anaknya dengan cara melakukan vaksinasi sesuai jadwal.

Komplikasi

Infeksi bakteri dapat menyebabkan pneumonia (radang pada jaringan di paru-paru) atau bakteri tracheitis. Trakeitis bakterial adalah infeksi yang mengancam nyawa yang dapat timbul setelah timbulnya infeksi pernafasan virus akut.

Edema pulmonal, pneumotoraks, pneumomediastinum, limfadenitis, dan otitis media juga telah dilaporkan pada pasien yang didiagnosis dengan croup. Ketika mengalami infeksi, anak-anak yang tidak medapat asupan nutrisi dan cairan yang cukup akan mengalami dehidrasi, sehingga memerlukan hidrasi cairan intravena untuk menstabilkan status cairan.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Konsultasi kesehatan kini bisa langsung lewat gadget Anda. Download aplikasi Go Dok di sini.

 

AQ/PJ/MA

Referensi