Cedera Kepala ; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Cedera kepala

Cedera kepala merupakan salah satu kasus penyebab kecacatan dan kematian yang cukup tinggi serta menjadi masalah kesehatan dikarenakan kebanyakan penderitanya adalah orang muda, sehat, dan produktif.  

 

Mengenal Cedera Kepala

Cedera kepala adalah terjadinya benturan atau trauma mekanik terhadap kepala dan otak secara langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan gangguan fungsi saraf sementara ataupun berkelanjutan; berupa gangguan pergerakan di tubuh, proses berpikir, dan interaksi sosial.  Kasus umum tersering adalah cedera kepala tertutup yang umumnya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, terjatuh dari ketinggian, dan olahraga (tinju).

Kondisi ini merupakan salah satu kasus penyebab kecacatan dan kematian yang cukup tinggi serta menjadi masalah kesehatan dikarenakan kebanyakan penderitanya adalah orang muda, sehat, dan produktif. Di Amerika angka kejadiannya menempati urutan tertinggi, yaitu sekitar 80% dari keseluruhan kasus dan kira-kira 5% dari kasusnya tersebut meninggal di tempat kejadian.

Kondisi ini menjadi suatu masalah kompleks karena juga menyebabkan masalah emosional dari pasien dan keluarga yang merawat serta menimbulkan beban ekonomi yang besar. Hal ini dapat terjadi dikarenakan penderitanya sering menjalani masa perawatan jangka lama di rumah sakit maupun setelah selesai dirawat (perawatan di rumah).

Kasus ini merupakan keadaan yang serius, berbahaya, dan mematikan karena itu setiap orang yang mengalaminya sebaiknya jangan di anggap sepele; karena umumnya kondisi ini berkaitan langsung dengan kecelakaan maka diharapkan dapat ditolong dari tempat kejadian ke rumah sakit dengan bantuan yang semaksimal mungkin.

Penyebab

Prinsip menentukan penyebab dalam cedera kepala adalah segala sesuatu yang membentur kepala dan menyebabkan penurunan fungsi dari otak serta menyebabkan kerusakan dari bentuk kepala yang normal.

Faktor Risiko

Faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya suatu cedera kepala adalah usia muda, minum-minuman keras atau beralkohol dalam jumlah banyak (berlebihan), penggunaan obat-obatan narkotika, sistem lalu lintas yang kurang baik, sistem perlindungan berkendara yang tidak dilakukan secara bijak seperti tidak menggunakan helm atau sabuk pengaman dan berbagai tindakan ceroboh serta tindakan yang tidak bertanggung jawab seperti kebut-kebutan.

Gejala

Pada kasus cedera kepala umumnya terdapat beberapa kerusakan utama, yaitu :

  1. Kulit kepala yang lecet, robek,dan bengkak.
  2. Tulang tengkorak retak atau patah
  3. Kerusakan wajah di tulang hidung, rahang,dan lainnya
  4. Selaput pembungkus otak
  5. Perdarahan otak
  6. Pembengkakan otak
  7. Kerusakan permanent jaringan otak.
Diagnosis

Diagnosis ditegakan oleh dokter dengan wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada wawancara medis pasien dengan cedera kepala umumnya ditanyakan seputar kejadian kecelakaan berupa penggunaan sabuk pengaman, helm, jenis kendaraan (mobil/motor), riwayat pengunaan obat-obatan terlarang atau alkohol, kejang atau kehilangan kesadaran.

Dari pemeriksaan fisik ditemukan adanya lecet, robekan, benjolan, perdarahan, tulang kepala/tengkorak dapat dilihat, perubahan bentuk normal dari wajah dan kepala, keluarnya cairan atau darah dari hidung maupun telinga, pingsan atau koma, kelumpuhan ataupun kejang.

Pemeriksaan lanjutan dapat menggunakan CT-Scan maupun MRI kepala untuk mengetahui lebih spesifik ada atau tidaknya patahan tulang, perdarahan ataupun kerusakan otak lainnya seperti pembengkakan ataupun penekanan otak akibat parahnya kondisi tersebut. Pemeriksaan lainnya adalah dengan memfokuskan pemeriksaan di bagian leher apakah ada keretakan, patah, atau tergesernya kedudukan tulang leher yang juga dapat berakibat fatal jika tidak diatasi.

Penanganan

Terapi dapat dilakukan dengan tindakan pengamanan jalan nafas agar pasien tetap bisa bernafas, keluarkan muntahan atau benda yang terdapat di dalam mulut, balut tekan pada bagian yang luka ataupun robek dengan kain bersih karena umumnya dijumpai perdarahan yang sangat banyak. Segera bawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan menggunakan CT-Scan atau MRI.

Karena kepala dan otak sangat vital maka apabila terdapat perdarahan di otak yang menyebabkan otak bergeser, penurunan kesadaran progrsif, patah tulang tengkorak dalam, patah tulang tengkorak terbuka maka tidak ada cara lain selain operasi. Bila hanya kasus cedera kepala yang ringan dan tidak menunjukan tanda kegawatdaruratan, kasus ini juga tetap harus di waspadai karena mungkin proses perburukan dapat menyertainya.

Pasien yang ringan sekalipun perlu di rawat di rumah sakit apabila terdapat gangguan seperti sulit mengenali waktu atau tempat, sakit kepala berkelanjutan, dan muntah serta tidak ada yang mengawasi di rumah. Hal ini dikarenakan proses perburukan cedera kepala masih dapat berlanjut sampai dengan 48 jam kemudian.

Pencegahan

Setelah diketahui bahwa umumnya cedera kepala ini disebabkan oleh faktor kelalaian dan tindakan yang umumnya dapat dihindari, maka diharapkan untuk selalu menjaga keamanan dan keselamatan serta tidak bertindak secara ceroboh atau sembrono.

Untuk pasien yang diperbolehkan pulang harus tetap dilakukan pengawasan secara ketat oleh keluarga maupun orang serumah dalam waktu 48 jam. Bila di rumah terdapat kecenderungan untuk mengantuk terus menerus, sakit kepala sangat berat, muntah menyemprot maka harus segera kembali ke rumah sakit untuk evaluasi lanjutan.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Konsultasi kesehatan kini bisa langsung lewat gadget Anda. Download aplikasi Go Dok di sini.

 

HW/PJ/MA

Referensi