Buta Warna: Penyebab, Gejala dan Penanganan yang Tepat

Buta warna

Buta warna memang tidak seumum miopia dan presbiopia. Penyakit mata ini tergolong sebagai penyakit langka, karena hanya sedikit orang yang mengidapnya. Biasanya penderita hanya dapat melihat dunia dalam spektrum warna tertentu, tidak seperti orang pada umumnya yang dapat melihat berbagai warna.

Go DokApakah Anda pernah mendengar buta warna? Penyakit mata ini memang tidak seumum miopia atau presbiopia. Penyakit mata ini sebenarnya tergolong sebagai penyakit langka, karena hanya sedikit orang yang mengidapnya. Biasanya penderita hanya dapat melihat dunia dalam spektrum warna tertentu, tidak seperti orang pada umumnya yang dapat melihat berbagai warna.

Tentu saja kondisi ini sangat mengganggu kehidupan sehari-hari penderita. Selain itu penderita juga tidak dapat menempuh pendidikan atau melamar pekerjaan tertentu seperti arsitek, dokter, atau pembalap disebabkan penyakit ini. Yuk ketahui lebih lanjut tentang fakta dari buta warna!

Pria lebih rentan mengidap buta warna daripada wanita

Tahukah Anda jika pria lebih cenderung menderita buta warna daripada wanita? Menurut penelitian yang dilakukan oleh American Optometric Association, hanya 0.5 persen wanita dari penduduk Amerika yang mengidap penyakit ini.

Angka ini terpaut jauh dengan persentase penderita pria yang mencapai 8 persen dari populasi. Diketahui bahwa tubuh wanita cenderung membawa kromosom yang dapat menangkal buta warna, namun tubuh pria cenderung mendukung kondisinya.

Penyebab

Ada dua cara seseorang dapat mengidap penyakit mata ini, karena faktor keturunan dan faktor eksternal lainnya yang dapat terjadi di kemudian hari. Buta warna karena faktor keturunan lebih sering dijumpai. Penyakit ini dapat diturunkan kepada seseorang lewat gen keluarganya. Pada kasus demikian, tanda-tandanya dapat dilihat sejak lahir.

Sementara itu buta warna yang disebabkan oleh faktor eksternal muncul karena adanya gangguan pada saraf optik atau retina mata. Hal ini dapat terjadi pada penderita glaukoma. Tekanan intraokular pada penderita glaukoma berada di atas normal. Pada level tertentu, kondisi ini dapat mencederai saraf optik sehingga penglihatan warna menjadi terganggu.

Kasus lain dapat ditemukan pada pasien Macular Degeneretaion, Diabetic Retinopathy, Parkinson, Alzheimer, Multiple Sclerosis, dan Katarak. Apabila Anda merasakan adanya gangguan penglihatan warna, segeralah berkonsultasi pada dokter untuk mencegah kondisi yang lebih serius.

Tipe-tipe

Sebenarnya buta warna ini terbagi atas 3 tipe, lho. Tipe-tipe tersebut dibedakan berdasarkan kesulitan penderita membedakan warna.

  • Tipe 1 Penderita akan kesulitan membedakan warna merah dan
  • Tipe 2 Penderita akan kesulitan membedakan warna kuning dan biru.
  • Tipe 3 (achromatopsia) Penderita tidak dapat mendeteksi warna apapun kecuali dalam spektrum grayscale.

Gejala

Buta warna biasanya mulai terlihat pada usia balita, dimana mereka mulai belajar mengenal warna. Namun pada beberapa kasus, penyakit ini sulit untuk terdeteksi karena anak mulai mengasosiasikan sebuah objek dengan nama warna tertentu. Contohnya, si anak diajarkan bahwa strawberi berwarna merah. Maka ia akan terus menyebutkan kalau strawberi itu merah, meskipun yang ia lihat sebenarnya adalah abu-abu.

Gejalanya lebih mudah dideteksi pada orang dewasa. Biasanya, penderita akan kesulitan membedakan warna-warna dasar, seperti warna merah dan hijau pada lampu lalu lintas, karena perbedaan antar warna perlahan akan menjadi kabur.

Penanganan

Penyakit ini dapat terjadi karena saraf optik terganggu oleh adanya penyakit tertentu, seperti glaukoma. Mengobati penyakit tersebut cukup untuk menyembuhkan kondisi buta warna tersebut. Namun beda halnya dengan buta warna keturunan.

Sayangnya belum ditemukan pengobatan yang terbukti efektif untuk mengatasi kondisi ini. Namun jangan khawatir. Para penderita buta biasanya memiliki trik untuk hidup dengan gangguan penglihatan tersebut, seperti menghafalkan urutan lampu lalu lintas, atau menata pakaian berdasarkan kecerahannya.

 

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.