Blighted Ovum ; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Blighted ovum

 

 

Blighted ovum atau anembryonic pregnancy merupakan kondisi dimana telur yang sudah mengalami fertilisasi dan implantasi tetapi tidak berkembang. Pada tahap awal, seorang wanita umumnya akan merasa bahwa dirinya sedang hamil dan mengalami tanda-tanda kehamilan normal.

Menganal blighted ovum

Blighted ovum atau anembryonic pregnancy merupakan kondisi dimana telur yang sudah mengalami fertilisasi dan implantasi tetapi tidak berkembang. Pada kasus anembryonic pregnancy (blighted ovum), kantung embrio berkembang dan tumbuh tetapi embrionya tidak berkembang. Hal ini merupakan penyebab dari 50% total kasus keguguran.

Menurut World Health Organization (WHO) dan the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mendefinisikan keguguran sebagai kematian janin intrauteri yang terjadi sebelum 20 minggu gestasi atau kematian disertai pengeluaran janin yang beratnya kurang dari 500 gram.

Gejala

Pada tahap awal, seorang wanita umumnya akan merasa bahwa dirinya sedang hamil dan mengalami tanda-tanda kehamilan normal.

Kemudian akan muncul gejala seperti perdarahan pervaginam atau spotting, darah menstruasi yang lebih banyak dari normal, dan pada beberapa kasus pasien dapat mengalami kram atau nyeri perut.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab utama dari anembryonic pregnancy (blighted ovum) adalah genetik. Hal ini biasanya disebabkan oleh kerusakan pada kromosom yang berasal dari sperma atau ovum berkualitas rendah.

Kelainan yang biasa terjadi adalah trisomi, monosomi, dan triploidi. Selain genetik, nutrisi dan status body mass index (BMI) juga berkontribusi dalam terjadinya blighted ovum ini. Hal ini disebabkan kondisi kekurangan mineral tembaga, prostaglandin E2, dan enzim antioksidatif yang memicu terjadinya kelainan ini.

Menurut sebuah studi oleh Larsen et al, banyak sekali komplikasi kehamilan yang berhubungan dengan obesitas, salah satunya keguguran; dimana risiko meningkat pada wanita dengan BMI di atas 25 kg/m2.

Selanjutnya, penyakit ini dapat dipicu oleh infeksi, terutama infeksi tuberculosis (TB), dan anomali yang ditemukan di uterus, yaitu arcuate, didelphic, bicornuate, dan septate uteri.  Penyebab lainnya termasuk: 1) abnormalitas sistem imun seperti disfungsi NK Cell, thrombophilia, dan autoantibodi yang dapat menyebabkan rejeksi terhadap embrio pada proses implantasi, 2) kelainan hormon seperti level progesterone yang rendah, 3) kelaian tiroid seperti tiroid autoimun, 4) kelainan ovarium seperti polycystic ovarian syndrome (PCOS), 5) konsumsi alkohol.

Diagnosis

Diagnosis dapat ditegakkan dengan mengevaluasi gejala, pemeriksaan kehamilan (dengan deteksi beta-hCG), dan konfirmasi definitif menggunakan ultrasonografi (USG). Pemeriksaan kehamilan dapat dilakukan menggunakan urin atau serum darah, dimana dapat ditemukan positif lemah pada pemeriksaan (warna merah muda pada test pack).

Pemeriksaan USG dapat dilakukan secara transvaginal atau transabdominal, dimana ditemukan kantung yang kosong tanpa embrio yang mengonfirmasi adanya anembryonic pregnancy atau blighted ovum.

Kriteria diagnosis dengan USG untuk menegakkan blighted ovum: ketika ditemukan kantung dengan diameter >25mm tanpa yolk sac atau embrio. Selanjutnya, apabila tidak ditemukan dengan USG, dapat pula dilakukan pemeriksaan genetic testing dengan penemuan trisomi, monosomi, atau triploidi.

Penanganan

Penanganan penyakit ini dapat dengan menunggu keluarnya jaringan embrio secara perlahan dengan sendirinya, dan lakukan pemeriksaan ulang setelah 9 minggu, untuk memastikan apakah ada tanda-tanda perkembangan janin di kantung kehamilan.

Penanganan dengan farmakologi, dengan pemberian misoprostol biasanya diresepkan oleh dokter. Setelah pemberian misoprostol, jaringan akan dikeluarkan sendirinya oleh tubuh walaupun akan terjadi perdarahan yang sedikit lebih banyak, tetapi hanya berlanjut selama beberapa hari. Tatalaksana dengan misoprostol direkomendasikan oleh International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO).

Selanjutnya penanganan pembedahan dapat dilakukan dengan dilatasi dan kuret. Prosedur ini melibatkan teknik membuka serviks dan pengangkatan jaringan di dalam uterus. Jaringan yang dikuret kemudian diperiksa histopatologisnya untuk memastikan penyebab keguguran. Penanganan ini lebih direkomendasikan karena penyelesaian terapi lebih cepat dibandingkan pilihan terapi yang lain.

Prognosis

Prognosis dikatakan baik jika diagnosis dan terapinya sesuai.

Komplikasi

Komplikasi dari perdarahan pervaginam adalah anemia. Selain itu pada keadaan kritis dapat terjadi syok hipovolemik.

Semoga bermanfaat!

 

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.

FS/JJ/MA

Referensi