Bartolinitis ; Penyebab, Diagnosis dan Penanganan

Bartolinitis

Bartolinitis merupakan kondisi peradangan pada kelenjar bartolin yang disebabkan oleh infeksi. Kondisi ini ditandai dengan adanya benjolan pada area kelenjar bartolin yang normalnya tidak teraba. Mari mengenal gejala, penyebab dan penanganan penyakit ini!

Mengenal Bartolinitis

Kelenjar bartolin merupakan sepasang kelenjar kecil ukuran 0,5 cm yang terdapat di labia minor (vulva) arah jam 4 dan 8. Secara normal, kelenjar bartolin ini tidak teraba. Fungsi dari kelenjar ini adalah mempertahankan kelembapan mukosa vagina.

Bartolinitis merupakan kondisi peradangan pada kelenjar bartolin yang disebabkan oleh infeksi. Kondisi ini ditandai dengan adanya benjolan pada area kelenjar bartolin yang normalnya tidak teraba. Tetapi, kondisi ini harus dibedakan dengan kista bartolin, yang umumnya terjadi akibat penyumbatan pada kelenjar tersebut. Namun, bila kista bartolin terinfeksi, dapat menyebabkan terjadinya abses bartolin (bartolinitis).

Penyebab

Seperti yang sudah disinggung, penyebab dari bartolinitis adalah infeksi. Beberapa studi menunjukkan mayoritas bakteri penyebabnya ialah Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis. Hal ini yang menyebabkan penyakit ini sering dikaitkan dengan infeksi menular seksual. Namun, belakangan ini bakteri lain yang bukan berasal dari penularan seksual, misalnya Staphylococcus species, Streptococcus species, serta yang paling sering saat ini ialah Escherichia coli diduga dapat juga menyebabkan penyakit ini. Terdapat juga etiologi lain seperti virus (HPV) dan jamur (Candida albican). Selain itu, saat ini perlu juga dipertimbangkan faktor higienitas dari area kemaluan dan anus sebagai faktor risiko terjadinya infeksi di kelenjar bartolin. 

Diagnosis

Penegakan diagnosis bartolinitis dapat berdasarkan anamanesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan darah umumnya tidak diperlukan; terlebih pada dewasa yang tidak mengalami demam.

Pasien dengan penyakit ini dapat mengalami gejala sebagai berikut :

  1. Nyeri dan bengkak pada salah satu kelenjar.
  2. Nyeri berhubungan seksual (dispareunia).
  3. Nyeri ketika duduk dan berjalan.
  4. Rasa nyeri yang tiba-tiba hilang tetapi diikuti keluarnya cairan (nanah atau darah dari abses).

Berdasarkan pemeriksaan fisik umumnya juga ditemukan beberapa hal berikut seperti : benjolan yang merah, bengkak, dan fluktuatif. Pada beberapa kasus, terdapat selulitis di sekitar abses, demam, serta keluarnya cairan purulen.

Mungkin dokter akan merekomendasikan pemeriksaan penunjang (biopsi) kepada beberapa pasien, yang ditemukan dengan kondisi :

  1. Usia lebih dari 40 tahun.
  2. Adanya massa/benjolan yang bersifat kronik dan progresif serta tidak nyeri.
  3. Adanya massa/benjolan yang solid, tidak fluktuatif, dan tidak nyeri.
  4. Adanya riwayat keganasan pada labia.
Penanganan

Pada pasien dengan gejala ringan -misalnya tidak ada demam atau tidak terdapat abses, dapat dilakukan rawat jalan dengan konsumsi antibiotik serta edukasi melakukan sitz bath.

Sitz bath  ialah kegiatan berendam dengan cara duduk menggunakan air hangat. Hal ini bisa dilakukan 3-4x sehari selama 15 menit. Hal ini dapat menurunkan rasa nyeri dan membantu meringankan bengkak akibat bartolinitis.

Penanganan farmakologi yang digunakan untuk bartolinitis ialah menggunakan antibiotik. Jenis antibiotik yang digunakan dapat disesuaikan dengan bakteri penyebab yang sering ditemukan, misalnya golongan sefalosporin, floroquinolon, atau beta laktam dengan anti beta laktamase. Selain obat antibiotik, untuk meredakan gejala nyeri dan peradangan dapat menggunakan analgesik seperti asam mefenamat 3×500 mg.

Pada pasien yang mengalami abses bartolin, penanganan utamnya ialah drainase. Drainase dimulai dengan  insisi kecil pada kelenjar yang bersangkutan kemudian cairan pus/nanah dikeluarkan. Tujuan dari drainase ini ialah mencegah penumpukan cairan didalam kelenjar yang tersumbat. Namun, tindakan ini merupakan tindakan prosedural yang hanya boleh dilakukan oleh dokter. Pada prosedur awal, pasien diberikan anestesi lokal, kemudian dilakukan insisi serta dilakukan pemasangan kateter ke dalam insisi abses tersebut bersamaan dengan memasukkan 2-4 mL NaCl 0,9% hingga terdapat aliran cairan dari dalam abses.

Pada pasien dengan abses bartolin berulang, tindakan ini perlu dilakukan di ruang operasi sehingga memerlukan anestesi umum. Oleh karena itu, biasanya dokter akan menilai pasien tersebut -apakah terdapat kontraindikasi prosedur anestesi umum atau tidak.

Komplikasi

Komplikasi yang dapat dialami oleh pasien dengan bartolinitis yang tidak tertangani dapat bersifat lokal atau sistemik.

Komplikasi lokal misalnya terjadi skar (bekas luka) yang tidak dapat hilang. Meskipun terbilang jarang, pada beberapa kasus dapat terjadi necrotizing fasciitis pasca drainase abses. Sedangkan, komplikasi sistemik yang dapat terjadi ialah terjadinya rekurensi atau infeksi yang berulang serta dapat terjadi infeksi berat seperti peradangan pada vagina, panggul, dan sampai menyebabkan toxic shock syndrome.

Pencegahan

Untuk mencegah terjadinya infeksi dan peradangan pada kelenjar bartolin atau area vagina, dapat dilakukan hal sebagai berikut :

  • Membersihkan alat kelamin setelah berhubungan seksual.
  • Membersihkan diri, khususnya setelah buang air besar dengan gerakan membasuh dari depan ke belakang.
  • Menggunakan toilet umum dengan hati-hati.
  • Memeriksakan diri ke dokter bila terdapat keputihan yang lama dan mengganggu.
  • Hindari memakai celana ketat karena akan meningkatkan kelembapan.
  • Konsumsi makanan yang sehat dan bergizi.
  • Bijak dalam penggunaan pantyliner, bila tidak ada indikasi misalnya adanya keputihan atau flek tidak perlu digunakan. Hal ini karena pantyliner dapat meningkatkan kelembapan area sekitar vagina.
  • Bijak dalam penggunaan pembersih area kewanitaan. Apabila tidak terdapat indikasi dari dokter maka tidak perlu digunakan.
  • Hindari melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari SmartphoneDownload aplikasinya di sini.

AM/PJ/MA

Referensi