Bakteri Kebal Terhadap Antibiotik, Bisakah?

bakteri kebal terhadap antibiotik

Bisakah bakteri kebal terhadap antibiotik? Ternyata, memang ada bakteri yang tidak mempan dibunuh atau dikendalikan oleh antibiotik. Bakteri ini mampu bertahan, atau bahkan justru bertambah jumlahnya sebagai reaksi terhadap antibiotik.

Go DokAntibiotik sering kali digunakan untuk memulihkan atau menguatkan ketahanan tubuh kita, salah satunya adalah dengan membunuh bakteri yang merugikan bagi tubuh.

Akan tetapi, bagaimanakah jika bakteri di dalam tubuh kita justru tidak mampu dihilangkan dengan antibiotik? Apakah itu artinya bakteri kebal terhadap antibiotik? Berikut penjelasannya!

Bakteri dan antibiotik

Ternyata, memang ada bakteri yang tidak mempan dibunuh atau dikendalikan oleh antibiotik. Bakteri ini mampu bertahan, atau bahkan justru bertambah jumlahnya sebagai reaksi terhadap antibiotik.

Bakteri dapat bertambah jumlah jika gennya berubah atau jika bakteri mendapatkan gen yang kebal terhadap antibiotik itu sendiri. Semakin sering dan semakin lama antibiotik dikonsumsi, semakin berkurang efektivitasnya dalam mengatasi bakteri.

Sering kali, bakteri yang menyebabkan infeksi dalam tubuhlah yang kebal terhadap beberapa antibiotik, atau dikenal juga sebagai organisme multi-resisten. Jika dalam tubuh terdapat bakteri kebal antibiotik ini, biasanya kesehatan akan sulit untuk dipulihkan.

Menurut penelitian WHO (2018), jumlah kasus kekebalan bakteri terhadap antibiotik sangat bertambah di seluruh belahan dunia. Berbagai infeksi yang semakin banyak, seperti pneumonia, tuberkulosis, keracunan darah, dan beberapa penyakit lainnya menjadi lebih sulit dan bahkan tidak mungkin untuk disembuhkan. Sebab, kini antibiotik menjadi kurang efektif.

Sebuah penelitian oleh Ventola (2015) menyebutkan bahwa The Center for Disease Control and Prevention (CDC) telah mengklasifikasikan beberapa jumlah bakteri yang cenderung dapat menyerang dan berbahaya. Bakteri-bakteri ini menjadi beban bagi sistem kesehatan di Amerika, sebab dalam mengatasinya diperlukan biaya tambahan yang cukup banyak.

Para pasien yang menderita penyakit kronis lebih disulitkan oleh adanya bakteri ini. Beberapa orang yang membutuhkan kemoterapi, operasi, atau dialisis terkadang mengonsumsi antibiotik untuk mengurangi risiko infeksi.

Bakteri dapat ditularkan dari orang ke orang dengan berbagai cara, yaitu melalui kontak tangan yang terkontaminasi, kontak benda-benda terkontaminasi (misalnya, pegangan pintu), dan kontak dengan peralatan terkontaminasi (misalnya, stetoskop). Rumah sakit memerlukan standar pencegahan untuk mengurangi penularan bakteri ini.

Cara mengatasi bakteri kebal terhadap antibiotik

Karena meningkatnya jumlah bakteri kebal terhadap antibiotik, para ilmuwan perlu menambahkan pengembangan antibiotik dan vaksin baru. Akan tetapi, kita sendiri pun dapat melindungi diri dari infeksi, yaitu dengan beberapa cara.

Pertama, hindari mengonsumsi antibiotik jika tidak benar-benar dibutuhkan. Konsumsi antibiotik berlebih juga dapat membuat fungsi antibiotik tersebut justru berkurang efektivitasnya.

Selalu tanyakan kepada dokter mengenai kebutuhan tubuh Anda. Hindari mengonsumsi antibiotik jika hanya terserang penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti flu ringan, bronkitis, dan infeksi telinga serta sinus.

Kedua, jika Anda memang tengah mengonsumsi antibiotik, selesaikan konsumsi sesuai dengan resep yang diberikan. Hal ini perlu dilakukan guna mempertahankan efektivitas antibiotik sehingga tidak membuat bakteri justru lebih kebal. Hindari membagi antibiotik kepada siapa pun, dan mengonsumsi antibiotik yang sudah dipakai.

Ketiga, selalu jaga kebersihan. Kontak dengan barang-barang tertentu dapat membawa bakteri ke dalam tubuh. Usahakan untuk segera mencuci tangan dan menjaga sekitar Anda agar tetap bersih dan nyaman.

Selalu pastikan makanan bersih, dan jauhi orang-orang yang tengah terjangkit penyakit. Selain itu, jika terkena infeksi, selalu lakukan prosedur yang disarankan dokter untuk mengatasinya.

Nah, itu tadi penjelasan seputar bakteri kebal terhadap antibiotik dan cara mengatasinya. Semoga bermanfaat!

 

Baca juga:

Selalu gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk berkonsultasi dengan dokter online yang siap siaga 7×24 jam. Segera download aplikasi kesehatan Go Dok di sini.

VD/JJ/MA

Referensi