Autisme ; Gejala, Penyebab dan Penanganan

Autisme

Autism spectrum disorder (ASD) atau gangguan spektrum autisme (-autisme) adalah kondisi yang berkaitan dengan perkembangan otak dan berdampak pada bagaimana seseorang merasakan dan bersosialisasi dengan orang lain.

 

Go Dok Tahukah Anda, Berdasarkan data dari Badan Penelitian Statistik (BPS)  2010 – 2016, di Indonesia terdapat sekira 140 ribu anak di bawah usia 17 tahun menyandang autisme. Bukan angka yang kecil bukan? Mari kenali gejala, penyebab dan penanganan autisme!

Mengenal Autisme

Autism spectrum disorder (ASD) atau gangguan spektrum autisme (-autisme) adalah kondisi yang berkaitan dengan perkembangan otak dan berdampak pada bagaimana seseorang merasakan dan bersosialisasi dengan orang lain. Gangguan ini menyebabkan masalah dalam interaksi sosial dan komunikasi. Gangguan ini juga mencakup pola perilaku yang terbatas dan berulang. Istilah “spektrum” mengacu pada berbagai macam gejala dan keparahan.

Gangguan spektrum autisme termasuk kondisi yang sebelumnya dianggap terpisah, yaitu Asperger’s syndrome, gangguan disintegratif masa kanak-kanak, dan bentuk gangguan perkembangan pervasif yang tidak spesifik. Gangguan ini dimulai pada anak usia dini dan akhirnya mempengaruhi interaksi di masyarakat -secara sosial, di sekolah, dan di tempat kerja. Seringkali anak-anak menunjukkan gejala autisme dalam tahun pertama perkembangannya.

Meskipun tidak ada obat untuk gangguan spektrum autisme, perawatan dini yang intensif terbukti dapat membuat perbedaan besar dalam kehidupan banyak anak.

Gejala

Beberapa anak mungkin menunjukkan tanda-tanda gangguan spektrum autisme pada masa bayi, seperti kontak mata yang berkurang, kurangnya respons terhadap panggilan nama atau ketidakpedulian mereka terhadap pengasuh. Beberapa bayi dapat berkembang secara normal untuk beberapa bulan atau tahun pertama kehidupan, tetapi tiba-tiba menjadi agresif atau kehilangan kemampuan berbahasa –hal ini biasanya dapat dilihat saat usia 2 tahun.

Beberapa tanda umum yang ditunjukkan oleh individu yang memiliki gangguan ini antara lain :

  • Gagal untuk menanggapi panggilan namanya.
  • Menolak memeluk dan memegang; tampaknya lebih suka bermain dengan dunianya sendiri.
  • Memiliki kontak mata yang buruk dan tidak memiliki ekspresi wajah.
  • Berbicara dengan nada atau irama yang tidak normal serta dapat menggunakan suara menyanyi atau pidato -seperti robot.
  • Mengulang kata demi kata, tetapi tidak mengerti cara menggunakannya.
  • Tampaknya tidak memahami pertanyaan atau arahan sederhana.
  • Tidak mengekspresikan emosi atau perasaan dan tampaknya tidak menyadari perasaan orang lain.
  • Tidak menunjuk atau membawa benda untuk berbagi minat.
  • Memiliki kesulitan mengenali isyarat nonverbal, seperti menafsirkan ekspresi wajah orang lain, postur tubuh, atau nada suara.
  • Melakukan gerakan berulang, seperti goyang, berputar.
  • Melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan kerusakan diri, seperti menggigit atau membenturkan kepala.
  • Sangat sensitif terhadap cahaya, suara, atau sentuhan, namun mungkin tidak peduli dengan rasa sakit atau suhu.
Penyebab

Sejauh ini, tidak ada penyebab pasti yang diketahui dari gangguan spektrum autisme namun genetika dan faktor lingkungan mungkin saja berperan dalam hal ini.

Genetika. Untuk beberapa anak, gangguan ini dapat dikaitkan dengan kelainan genetik, seperti sindrom Rett. Untuk anak-anak lain, perubahan genetik (mutasi) dapat meningkatkan risiko gangguan spektrum autisme. Gen-gen lain dapat mempengaruhi perkembangan otak atau cara sel-sel otak berkomunikasi, atau bahkan mereka dapat menentukan tingkat keparahan gejala. Beberapa mutasi genetik tampaknya diwariskan, sementara yang lain terjadi secara spontan.

Faktor lingkungan. Para peneliti sedang mengeksplorasi apakah faktor-faktor seperti infeksi virus, obat-obatan, atau komplikasi selama kehamilan berperan dalam pemicunya.

Faktor risiko

Menurut penelitian, jumlah anak yang didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme semakin meningkat. Tidak jelas apakah ini karena deteksi dan pelaporan yang lebih baik atau peningkatan nyata dalam jumlah kasus, atau keduanya.

Gangguan ini mempengaruhi anak-anak dari semua ras dan kebangsaan, tetapi faktor-faktor tertentu meningkatkan risiko anak. Ini mungkin termasuk:

  • Jenis kelamin. Anak laki-laki sekitar empat kali lebih mungkin untuk mengalami gangguan ini daripada anak perempuan.
  • Riwayat keluarga. Keluarga yang memiliki satu anak dengan gangguan ini memiliki peningkatan risiko memiliki anak lain dengan gangguan tersebut.
  • Gangguan lainnya. Anak-anak dengan kondisi medis tertentu memiliki risiko gangguan spektrum autisme yang lebih tinggi. Contohnya : Sindrom Rett, kondisi genetik yang terjadi secara eksklusif pada anak perempuan; menyebabkan melambatnya pertumbuhan kepala, cacat intelektual, dll.
  • Bayi yang sangat prematur. Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 26 minggu mungkin memiliki risiko gangguan spektrum autisme yang lebih besar.
Penanganan

Diagnosis dan pengobatan dini membantu anak-anak dengan autisme berkembang menuju potensi penuh mereka. Tujuan utama pengobatan adalah untuk meningkatkan kemampuan penderita.

Gejala dan perilaknya dapat bervariasi dalam tingkat keparahan; pun gejala dan perilaku individu sering berubah seiring waktu. Untuk alasan ini, strategi perawatan disesuaikan dengan kebutuhan individu dan sumber daya keluarga yang tersedia. Tetapi, pada umumnya anak-anak dengan gangguan ini merespon paling baik terhadap perawatan yang sangat terstruktur dan terspesialisasi. Program yang membahas meningkatkan aspek komunikasi, sosial, perilaku, adaptif, dan belajar dari kehidupan seorang anak akan sangat berhasil.

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan strategi berikut untuk membantu seorang anak meningkatkan fungsi keseluruhan dan mencapai potensinya :

  • Pelatihan dan manajemen perilaku. Pelatihan dan manajemen perilaku menggunakan pelatihan penguatan, pertolongan diri, dan keterampilan sosial yang positif untuk meningkatkan perilaku dan komunikasi. Banyak jenis perawatan telah dikembangkan, termasuk Analisis Perilaku Terapan (ABA), Perawatan dan Pendidikan Autistik dan Anak-Anak Cacat Komunikasi Terkait (TEACCH), dan integrasi sensorik.
  • Terapi khusus. Ini termasuk terapi bicara, pekerjaan, dan fisik. Terapi-terapi ini merupakan komponen penting dalam mengelolagangguan ini dan semua harus dimasukkan dalam berbagai aspek program perawatan anak.

Terapi wicara dapat membantu seorang anak dengan gangguan ini meningkatkan kemampuan bahasa dan sosial untuk berkomunikasi secara lebih efektif.

Terapi okupasi dan fisik dapat membantu memperbaiki kekurangan dalam koordinasi dan keterampilan motorik. Terapi okupasi juga dapat membantu seorang anak dengan autisme untuk belajar memproses informasi dari indera (penglihatan, suara, pendengaran, sentuhan, dan penciuman) dengan cara yang lebih mudah dikelola.

  • Obat-obatan. Obat-obatan biasanya digunakan untuk mengobati kondisi terkait dan perilaku bermasalah, termasuk depresi, kecemasan, hiperaktif, dan perilaku obsesif-kompulsif.
  • Dukungan masyarakat dan pelatihan orang tua. Bicarakan dengan dokter atau hubungi kelompok perkumpulan untuk dukungan dan pelatihan.
  • Banyak orang dengan autisme memiliki masalah tidur. Ini biasanya ditangani dengan tetap pada rutinitas, termasuk waktu tidur yang ditetapkan dan waktu untuk bangun. Dokter mungkin mencoba obat-obatan sebagai pilihan terakhir.
Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada gangguan ini dapat mengarah pada :

  • Masalah di sekolah
  • Masalah pekerjaan
  • Ketidakmampuan untuk hidup mandiri
  • Isolasi sosial
  • Stres dalam keluarga. 
Pencegahan

Tidak ada cara untuk mencegah gangguan spektrum autisme, tetapi ada pilihan perawatan. Diagnosis dan intervensi dini sangat membantu dan dapat meningkatkan perilaku, keterampilan, dan perkembangan bahasa.

Para ahli belum mengidentifikasi cara untuk mencegah gangguan ini. Perhatian publik umumnya tertuju kepada hubungan antara autisme dan vaksin. Tetapi, banyak penelitian telah gagal menunjukkan bukti hubungan antara autisme dan vaksin campak-gondok-rubella (MMR). Namun, jika orangtua menghindari anak diimunisasi, hal ini hanya menempatkan mereka berisiko terkena penyakit serius bahkan kematian.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari SmartphoneDownload aplikasinya di sini.

PJ/MA

Referensi