Asma Bronkial ; Gejala, Penyebab dan Penanganan

Asma bronkial

 

 

Asma bronkial merupakan gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan elemennya. Asma disebabkan faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik yang berpengaruh adalah riwayat keluarga dan atopi/alergi. Kenali lebih mengenai gejala, penyebab dan penanganannya!

 

Mengenal Asma Bronkial

Asmabronkial merupakan gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik ini akan menyebabkan hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk terutama malam hari atau dini hari. Gejala episodik berhubungan dengan obstruksi jalan napas yang luas, bervariasi, dan seringkali sifatnya reversible dengan atau tanpa pengobatan.

Penyebab

Asma bronkial disebabkan faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik yang berpengaruh adalah riwayat keluarga dan atopi/alergi. Beberapa  pencetus serangan asma diantaranya yaitu alergen, infeksi pernapasan, asap rokok/polusi udara, diet, olahraga, udara dingin, obat-obatan penyekat beta dan aspirin serta stres.

Gejala

Tanda dan gejala yang muncul pada asma bronkial bersifat paroksismal, yaitu membaik pada siang hari dan memburuk pada malam hari. Selain itu, hal ini juga bergantung pada beratnya derajat asma. Beberapa gejala dan tanda yang umum terjadi pada penderita asma adalah :

  • Batuk terutama malam hari.
  • Mengi yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop.
  • Sesak atau berat di dada.
  • Sianosis
  • Gangguan kesadaran (gelisah hingga cenderung mengantuk).
  • Sukar bicara.
  • Takikardia
Klasifikasi

Mengetahui klasifikasi asma bronkial akan menjadi acuan dalam penanganan asma selanjutnya. Oleh karena itu, sangat disarankan pasien harus terlebih dahulu mengonsultasikan keluhannya dengan dokter sehingga bisa ditentukan terapi yang tepat, sesuai kondisi yang dialami setiap individu.

Klasifikasi ditentukan berdasarkan riwayat serangan serta hasil tes fungsi paru -spirometri. Pada spirometri akan dinilai VEP1 (Volume Ekspirasi Paksa Detik Pertama). Hal ini diukur berdasarkan jumlah udara dalam liter yang dapat diekspirasi maksimal secara paksa pada detik pertama setelah inspirasi maksimal. Sedangkan nilai APE(Arus Puncak Ekspirasi) diukur berdasarkan kecepatan arus ekspirasi maksimal yang dapat dicapai saat ekspirasi paksa.

Klasifikasi derajat asma bronkial  berdasarkan tingkat kontrol

1. Intermiten

  • Gejala  < 1 kali minggu
  • Tanpa gejala di luar serangan
  • Serangan singkat
  • Fungsi paru asimptomatik dan normal diluar serangan
  • Gejala Malam ≤ 2 kali sebulan
  • Fungsi paru VEP1 atau APE ≥ 80%

2. Persisten ringan

  • Gejala > 1 kali/minggu tapi < 1 kali/hari
  • Serangan dapat menganggu aktivitas dan tidur]
  • Gejala malam >2 kali seminggu
  • Fungsi paru VEP1 atau APE ≥ 80%

3. Persisten sedang

  • Gejala harian
  • Menggunakan obat setiap hari
  • Serangan mengganggu aktivitas dan tidur
  • Serangan 2 kali/minggu , bisa berhari-hari
  • Gejala malam >1 kali seminggu
  • Fungsi paru VEPI atau APE > 60%  tetapi ≤ 80% normal

4. Persisten berat

  • Gejala terus menerus
  • Aktivitas fisik terbatas
  • Sering serangan
  • Gejala malam sering
  • Fungsi paru VEP1 atau APE < 80%
Diagnosis 
  1. Dokter akan menanyakan riwayat perjalanan penyakit, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap asma, riwayat keluarga, dan riwayat alergi, serta gejala klinis.
  2. Pemeriksaan fisik.
  3. Pemeriksaan laboratorium ; darah (eosinophil, IgE total, dan spesifik), sputum.
  4. Tes fungsi paru dengan spirometri atau peak flow meter untuk menentukan obstruksi jalan napas.
Penanganan

Tujuan penanganan asma bronkial adalah untuk mengontrol gejalanya sehingga menjadi asma yang terkontrol .

1. Non farmakologis

Menghindari paparan terhadap alergen dan penggunaan obat yang menjadi pemicu asma bronkial dan menerapkan program penurunan berat badan  pada pasien yang obese.

2. Farmakologis

Terapi medikamentosa pada tatalaksana asma bronkial ada dua macam yaitu, obat controller dan obat reliever (penghilang sesak). Obat controller digunakan pada pasien asma persisten sedangkan obat reliever berfungsi untuk melebarkan jalan napas melalui relaksasi otot polos namun tidak memperbaiki inflamasi atau menurunkan hiperesponsif jalan napas. Pilihan terapi ini disesuaikan dengan klasifikasi asma, yaitu asma intermiten, persisten ringan, sedang, dan berat.

Setelah tercapai asma yang terkontrol, terapi akan dipertahankan paling tidak selama 3 bulan kemudian dokter akan menurunkan dosis obat secara bertahap sampai terapi seminimal mungkin dengan kondisi asma tetap terkontrol.

Pada kondisi saat terjadinya serangan (eksarsebasi) akut, derajat keparahan serangan asma akan menentukan apakah penderitanya akan menjalani rawat jalan atau diharuskan rawat inap , baik diruang perawatan biasa maupun ruang perawatan intensif. Dokter akan mengambil keputusan klinis berdasarkan gejala serta pemeriksaan penunjang seperti spirometri dan analisa gas darah.

Komplikasi

Bila tidak ditangani dengan tepat, maka asma bronkial akan menyebabkan komplikasi yang cukup serius dan berdampak pada organ lain. Dibawah ini merupakan beberapa komplikasi dari asma ;

  • Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK)
  • Gagal jantung
  • Gagal napas
  • Pneumotoraks.

Nah, itu tadi informasi lengkap seputar asma bronkial. Jadi, mulai sekarang perhatikan lagi kesehatan tubuh Anda, ya. Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.

AS/PJ/MA

Referensi