Apa Penyebab Anak Suka Memukul?

penyebab anak suka memukul

Penyebab anak suka memukul penting bagi orang tua untuk memahami apa penyebab anak suka memukul, sehingga Anda makin mengenal bagaimana anak berperilaku dan mampu membantu ia menyalurkan emosinya dengan cara yang benar.

 

pijarpsikologi.org – Seorang anak tumbuh dengan segala pengaruh yang muncul di sekitarnya. Jika si anak tumbuh di lingkungan yang buruk, tidak menutup kemungkinan dirinya akan menjadi seorang yang berperangai buruk.

Nah, saat di bangku sekolah menjadi fase paling penting dan berpengaruh kepada pembentukan sifat anak Anda. Mungkin Anda sering kali mendapati seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar sudah memiliki perangai yang kasar dan mudah sekali menggunakan tangannya untuk memukul orang lain. Nah, tidak jarang sebagai orang tua, Anda langsung memukul anak sebagai bentuk hukumannya. Padahal, bentuk hukuman tersebut bukanlah pilihan yang bijak.

Janet Lansbury, seorang ahli pengasuh anak dan penulis buku Elevating Child Care menyatakan, “Di dunia ini tidak ada anak yang nakal. Yang ada hanyalah anak yang bertarung dengan emosi dan dorongan dalam diri mereka kemudian berusaha mengkomunikasikan perasaan dan kebutuhan mereka dengan cara yang mereka tahu.”

Artinya, bentuk kasar tersebut hanyalah bentuk si anak yang ingin berkomunikasi dengan sekitar, hanya saja caranya yang tidak tepat karena keterbatasan informasi yang mereka miliki tentang tata karma yang baik. Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk memahami apa penyebab anak suka memukul, sehingga Anda makin mengenal bagaimana anak berperilaku dan mampu membantu ia menyalurkan emosinya dengan cara yang benar.

Yuk, simak terus artikel penyebab anak suka memukul di bawah ini!

1. Anak biasanya memukul untuk mengekspresikan emosi mereka.

Emosi pada anak beragam, bisa berupa kemarahan, kekesalan, kekecewaan, frustrasi atau kesedihan. Sebenarnya, akan lebih baik jika anak bisa memahami emosi tersebut dan menyalurkannya dengan kata-kata. Sayangnya, keterbatasan kosa kata yang dimiliki anak membuat mereka hanya bisa meluapkan emosinya dengan perbuatan, yang seringkali berujung pada tindakan yang cenderung kasar.

2. Anak bisa memukul jika ia merasa tempat pribadinya terganggu.

Hal ini bisa terjadi jika orang tua membatasi tempat bermain atau pilihan teman si anak, sehingga ruang mobilitasnya berkurang. Mudah bagi orang dewasa untuk berpindah atau “mengusir” orang yang dirasa mengganggunya, namun tentu sulit bagi anak Anda yang masih kecil untuk mengungkapkan rasa mengganggu tersebut.

3. Anak juga akan memukul jika ia merasa iri.

Rasa iri yang terjadi pada anak biasanya dapat tercermin dengan sikapnya yang kadang menggemaskan. Namun, tidak jarang sikap tersebut muncul berupa perilakunya yang kasar. Salah satu contohnya terjadi jika anak memiliki saudara kandung dengan usia yang tidak terpaut jauh. Rasa iri untuk merebut perhatian orang tua biasanya mendorong si anak untuk melampiaskannya dengan cara memukul.

4. Anak juga bisa memukul karena ia ingin punya kedudukan di antara teman bermainnya.

Serupa dengan kasus iri dengan saudara kandung, sang anak terkadang juga merasa ingin menjadi pusat perhatian di antara teman sebayanya.

5. Kekesalan anak juga bisa mendorong ia untuk memukul.

Harus diperhatikan anak juga bisa merasa kesal jika orang tuanya terlalu banyak menggunakan kata-kata sebagai instruksi untuk mengarahkan perilaku anak. Terkadang, perlu untuk memberi contoh berupa tindakan, dibanding hanya berupa instruksi kata-kata.

6. Anak adalah sosok yang paling sensitif untuk merasakan hal-hal yang terjadi di sekitarnya, termasuk di dalam keluarga.

Jika ia merasakan ada yang salah dalam keharmonisan keluarga di dalam rumah, biasanya anak akan mengulah dan mungkin muncul dalam bentuk perilaku memukul.

Nah, setelah mengetahui apa penyebab anak suka memukul, Anda sebagai orang tua harus bisa menentukan harus bersikap seperti apa untuk membimbing si anak dalam meluapkan emosinya dengan benar. Sayangnya, tidak semua orang tua bisa tenang dalam menyikap sifat kasar anak. Ketika anak sudah memukul orang lain, orang tua bisa saja sama agresifnya dengan anak.

Di sini orang tua harus berperan menjadi “otak” anak untuk membantunya memproses emosi itu. Caranya, menjadi sosok orang tua yang tenang secara emosional daripada anak kuncinya. Selain membantu diri sendiri, orang tua yang lebih tenang dan lebih mampu mengatur emosi akan berdampak lebih positif pada kemampuan anak untuk mengatur emosinya.

Nah, Anda sebagai orang tua, bisa coba beberapa cara berikut untuk membantu memulihkan emosi anak dan membantu memahami emosi mereka sendiri.

1. Anda bisa memberi pemahaman pada anak bahwa ia tidak bisa memiliki semua hal yang ingin ia miliki.

Namun demikian, tetap tunjukkan empati pada anak. Berikan pemahaman bahwa Anda mengerti bagaimana rasanya tidak bisa memiliki apa yang ingin dimiliki. Berikan pula pemahaman mengapa anak tidak bisa memiliki apa yang diinginkannya.

Misalnya berikan penjelasan mengapa Anda tidak membelikannya mainan baru. Dengan demikian anak akan lebih memahami apa yang bisa dan tidak bisa ia miliki di masa depan. Apabila anak sudah memahami konsep ini, maka ia tidak punya alasan lagi untuk memukul jika tidak mendapatkan hal yang ia inginkan.

2. Berikan pemahaman pada anak bahwa memukul bukanlah jalan keluar yang baik.

Berikan alternatif lain jika ada keinginan dari anak untuk memukul, misalnya dengan menyilangkan tangannya di depan dada atau memasukkan tangannya ke dalam kantong celana. Dengan begini, anak jadi memiliki sarana pelampiasan emosi lainnya selain memukul.

3. Jadilah penolong yang baik untuk anak.

Katakan pada anak, jika ia merasa cukup marah sehingga ingin memukul, agar segera mencari Anda sebagai orang tua. Ketika anak datang pada Anda dalam keadaan demikian, minta anak untuk perlahan menceritakan apa yang membuatnya marah. Berikan pengertian pada anak bahwa Anda memahami mengapa hal yang terjadi pada anak bisa membuatnya menjadi marah. Setelah itu berikan alternatif pada anak untuk menghadapi perasaan marahnya.

4. Menjaga anak untuk terus berpikiran bahwa orang tuanya memahami dirinya dan semua emosi yang ia rasakan bisa membantu anak untuk mengekspresikan emosinya dengan cara yang baik.

Nah, penting nih untuk menjadi perhatian Anda. Perilaku agresif remaja yang sering terjadi saat ini memiliki kecenderungan terjadi karena orang tua yang menolak menyelami emosi anak-anaknya di saat anak kehilangan arah dan butuh panduan. Jika orang tua gagal menanamkan hal ini, wajar jika kemudian seorang anak mencari sosok “pengganti” orang tuanya dalam upaya mempelajari emosi mereka.

Memang, menjadi orang tua bukanlah perihal mudah, terutama ketika mendapati anak yang berperilaku kasar. Sebagai orang tua, jangan terlalu cepat memberi label anak Anda sebagai anak yang emosional, ya!

Anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar memang masih dalam tahap belajar berinteraksi sosial. Perilaku anak yang suka memukul hanyalah tanda bahwa orang tua harus lebih terlibat dalam interaksi sosial mereka dengan memberikan perhatian penuh, contohnya dengan memahami apa penyebab anak suka memukul.

Memahami emosi anak juga bisa menjadi titik awal yang baik. Anak yang nyaman secara emosional akan lebih mudah untuk mengontrol emosinya, tidak hanya saat ini, tapi hingga nanti ia menginjak usia dewasa.

 

Pijar Psikologi adalah media layanan psikologi yang menyediakan konsultasi gratis dan artikel informatif seputar kehidupan sehari hari dari sudut pandang psikologi. Kunjungi pijarpsikologi.org untuk artikel menarik seputar psikologi lainnya.

Content partnerpijarpsikologi.com

Approved by dr. Jolinda Johary

Referensi

Baca juga:

Kini Anda bisa tanya dokter gratis lewat fitur ‘Tanya Dokter’. Download aplikasi Go Dok di sini.