Albumin ; Efek Samping, Sediaan dan Indikasi

Albumin

 

Albumin merupakan salah satu protein yang terdapat di dalam darah manusia. Albumin berperan sebagai protein transport yang berikatan dengan senyawa eksogen dan endogen darah seperti biliriubin, hormon, enzim, dan obat-obatan.

Nama Generik

Albumin

Merek Dagang

Albuminar 25, Zenalb 20, Human Albumin 20% Behring, Albunorm 20%, Albunorm 25%, Octalbin, Albapure 20, Plasbumin-5, Human Albumin, Grifols 20%, Albuman 200 G/L.

Pengertian

Albumin merupakan salah satu protein yang terdapat di dalam darah manusia. Albumin berperan sebagai protein transport yang berikatan dengan senyawa eksogen dan endogen darah seperti biliriubin, hormon, enzim, dan obat-obatan.

Albumin digunakan untuk menggantikan volume plasma darah pada beberapa kondisi dimana volume darah banyak berkurang (perdarahan atau syok hipovolemik dan kondisi lainnya). Sebagai protein plasma, Albumin juga dapat meningkatkan tekanan onkotik dalam darah sehingga dapat pula digunakan untuk mengatasi masalah-masalah terkait dengan penurunan tekanan onkotik plasma seperti gagal liver dan sindrom hepatorenal.

Golongan

Albumin Manusia/Human Albumin

Sediaan

  • Cairan Infus 5%
  • Cairan Infus 20%
  • Cairan Infus 25%

Indikasi

Untuk dosis intravena:

  • Untuk kondisi Asites
    • Dosis dewasa: diberikan 6-8 gram albumin 25% setiap 1.000 mL cairan Asites yang dikeluarkan dari rongga perut (peritoneum) melalui tindakan parasintesis (aspirasi asites menggunakan jarum).
  • Luka bakar-Hipovolemik 24 jam pertama:
    • Dosis dewasa: albumin 5% atau 25% IV untuk mencapai target kadar Albumin plasma sekitar 2,5gr/100mL atau konsentrasi protein plasma total 5,2g/100mL; Rekomendasi dosis awal 25 gram Albumin (Albumin 5% sebanyak 500 mL)
    • Dosis anak usia 12-16 tahun: dosis harus ditentukan dengan pengukuran tekanan onkotik plasma atau dengan pemeriksaan tanda vital secara langsung. Pasien harus tercukupi kebutuhan cairannya ketika mendapatkan Albumin (status hidrasi baik).
  • Operasi bypass Jantung:
    • Dosis dewasa: penambahan Albumin pada pompa kristaloid primer untuk mencapai kadar hematokrit 20% dan konsentrasi Albumin plasma 2,5g/100mL)
    • Dosis anak usia 12-16 tahun: menghitung dosis dengan memperkirakan perbedaan antara kadar protein serum total yang diinginkan dan kadar protein serum aktual serta mengalikan dengan volume plasma (sekitar 40 mL/kg), kemudian dikalikan dengan 2.
  • Selulitis Ekstensif (luas) untuk pengobatan defisit volume
    • Dosis dewasa: tidak boleh diberikan melebihi kadar konsentrasi Albumin sirkulasi normal (2 g/kgBB); hanya boleh diberikan tanpa adanya tanda perdarahan aktif dan dengan memperkirakana respon hemodinamik pasien.
  • Selulitis Ekstensif (luas) untuk pengobatan defisit onkotik
    • Dosis dewasa: dosis harus dihitung dengan melakukan estimasi kadar protein total serum yang diinginkan dan kadar saat pemeriksaan dan dikalikan dengan volume plasma (sekitar 40 ml/kgBB); kemudian dikalikan 2. Penyesuaian dibutuhkan dengan melakukan pengecekan ulang kadar Albumin pasca pemberian infus.
  • Syok Hipovolemik
    • Dosis dewasa: dosis awal diberikan 12,5 gr hingga 25 gr IV (250 hingga 500 mL sediaan 5%, 50 hingga 100 mL sediaan 25%), dapat diulangi dalam 15 hingga 30 menit kemudian. Dosis pemeliharaan sesuai dengan respon manifestasi klinis, tekanan darah, dan penilaian anemia
    • Dosis neonatus, bayi dan anak < 12 tahun: 0,5 hingga 1 gram/kgBB. Dosis selanjutnya bergantung pada respon klinis, tekanan darah dan penilaian anemia
    • Dosis anak 12-16 tahun: 12,5 hingga 25 gram, dapat diulang dengan interval 30 menit, dosis selanjutnya sangat bergantung pada kondisi individual pasien.
  • Gagal liver (akut)
    • Dosis dewasa: 10 hingga 20 gram IV per hari; FDA merekomendasikan untuk menghitung dosis berdasarkan kebutuhan defisit onkotik yaitu: melakukan estimasi kadar protein total serum yang diinginkan dan kadar saat pemeriksaan dan dikalikan dengan volume plasma (sekitar 40 ml/kgBB), kemudian dikalikan 2.
  • Sindrom Hepatorenal
    • Dosis dewasa: 1 g/kgBB pada hari pertama (maksimal 100 gram), kemudian 20 hingga 40 gram/hari. Pemberian Albumin dihentikan ketikan konsentrasi Albumin serum  lebih besar dari 45 g/L atau jika ditemukan tanda edema paru.
  • Mediastinitis
    • Dosis dewasa untuk defisit volume: mempertimbangkan respons hemodinamik pasien dengan memperhitungkan estimasi kadar protein total serum yang diinginkan dan kadar saat pemeriksaan dan dikalikan dengan volume plasma (sekitar 40 ml/kgBB), kemudian dikalikan 2.
  • Nefropati Akut
    • Dosis dewasa: diberikan pada dosis awal 25 gram ( cairan infus 25% sebanyak 100 mL) IV sehari sekali selama 7 hingga 10 hari dengan diuretik loop.
  • Sindrom hiperstimulasi ovarium
    • Dosis dewasa dan anak: 50 hingga 100 gram IV selama 4 jam, diulangi dalam 4 hingga 12 jam sesuai dengan kebutuhan atau diberikan 10 hingga 15 gram dalam sekali pemberian.
  • Pankreatitis dan Peritonitis
    • Dosis dewasa untuk mengobati defisit volume: estimasi respon hemodinamik pasien. Albumin diberikan secara hati-hati untuk menghindari overload cairan. Jika tidak terdapat perdarahan aktif, total dosis maksimal tidak boleh melebihi massa albumin tubuh (2 g/kgBB)
    • Dosis dewasa untuk mengobati defisit onkotik: menghitung dosis dengan memperkirakan perbedaan antara kadar protein serum total yang diinginkan dan kadar protein serum aktual serta mengalikan dengan volume plasma (sekitar 40 mL/kg), kemudian dikalikan dengan 2. Sesuaikan seperlunya dengan memeriksa kadar protein serum pasca pemberian.
  • Plasmafaresis
    • Dosis dewasa: digunakan untuk menggantikan volume plasma yang telah dikeluarkan dari tubuh melalui mekanisme plasmafaresis. Dosis Albumin yang diberikan sama dengan volume plasma yang dikeluarkan; penggunaan Albumin 5% lebih direkomendasikan.
  • Neonatal hiperbilirubinemia
    • Dosis neonatus: 1 g/kgBB dengan Albumin 25% selama 1 jam atau ketika dilakukan tranfusi tukar.

Kontraindikasi

Albumin tidak dapat diberikan pada pasien dengan hipersensitivitas terhadap albumin. Di kontraindikasikan pula pada pasien dengan:

  • Anemia berat
  • Gagal jantung
  • Pasien dengan risiko overload seperti:
    • Gangguan ginjal
    • Anemia berat
    • Anemia kronis
    • Gagal jantung.

Cara Kerja Obat

Albumin bekerja secara sistemik dengan meningkatkan volume darah. Albumin merupakan regulator penting untuk penyesuaian volume darah. Albumin juga menyumbang 70-80% tekanan koloid onkotik pada plasma. Infus Albumin 5% secara onkotik ekuivalen dengan volume plasma darah manusia dan meningkatkan volume darah dengan perhitungan yang hampir sama dengan jumlah volume Albumin yang diberikan.

Albumin 25% secara onkotik ekuivalen 5 kali lipat dari volume plasma darah manusia dan ketika diberikan dan masuk ke dalam aliran darah maka diperhitungkan sebesar 3,5 kali dari volume Albumin yang diberikan. Albumin memungkinkan peningkatan volume darah temporer (sementara) dan juga menurunkan hemokonsentrasi dan viskositas (kekentalan) darah.

Albumin juga berperan sebagai antihiperbilirubinemia. Albumin merupakan protein transpor yang secara reversibel berikatan baik dengan senyawa endogen atau eksogen termasuk bilirubin, asam lemak, hormon, enzim, dan obat-obatan.

Efek Samping

Beberapa efek samping berikut dapat terjadi beberapa saat setelah pemberian Albumin melalui infus. Akan tetapi, frekuensi kejadian tidak dapat ditentukan dan terjadi sangat jarang. Efek samping albumin dapat dibagi berdasarkan sistem organ sebagai berikut:

  • Kardiovaskular: gagal jantung (pencetus), edema, hipertensi, takikardia
  • Sistem saraf pusat: menggigil, nyeri kepala
  • Kulit: pruritus, ruam pada kulit, dan urtikaria
  • Endokrin dan Metabolik: hipervolemia
  • Saluran cerna: mual dan muntah
  • Hipersensitivitas: anafilaksis
  • Pernapasan: Bronkospasme, edema paru
  • Demam.

Kondisi-kondisi di atas bukan semua efek samping yang mungkin terjadi setelah pemberian Albumin. Jika Anda memiliki pertanyaan tentang efek samping, hubungi dokter Anda. Hubungi dokter Anda untuk nasihat medis tentang efek samping pemberian albumin.

Kehamilan & Laktasi

  • Obat ini memiliki kategori kehamilan C.Kategori ini menyatakan bahwa penelitian pada hewan coba menunjukkan efek samping penggunaan obat terhadap janin (efek teratogenik dan efek lain) dan tidak terdapat uji klinis terkontrol pada wanita. Obat-obat hanya diberikan jika pertimbangan keuntungan lebih besar dari pada risiko potensi pada janin
  • Risiko pemberian saat menyusui dan pengaruhnya terhadap bayi tidak dapat dikesampingkan.

Peringatan

  • Hipersensitivitas: alergi berat atau reaksi anafilaktik dapat terjadi. Jika ditemukan tanda dan gejala untuk alergi dan anafilaksis segera hentikan pemberian obat dan tatalaksana harus diberikan sesuai dengan gejala
  • Abnormalitas koagulasi: pergantian volume plasma dalam jumlah besar dapat menyebabkan gangguan pembekuan darah. Monitoring dan pemeriksaan faktor pembekuan dapat dilakukan sesuai dengan indikasi
  • Ketidakseimbangan elektrolit: pergantian volume plasma dalam jumlah besar dapat menyebabkan gangguan elektrolit. Pemeriksaan kadar elektrolit dan tatalaksana ketidakseimbangan elektrolit harus dilakukan sesuai dengan masalah yang ditemukan.
  • Efek hemodinamik: pemberian albumin dapat memicu terjadinya kegagalan pernapasan dan jantung, gagal ginjal, dan peningkatan tekanan intrakranial. Pemeriksaan tanda vital harus selalu dilakukan pada pasien yang mendapatkan albumin
  • Hipervolumia/Hemodilusi: Gunakan dengan hati-hati dalam kondisi di mana hypervolemia dan konsekuensinya atau hemodilusi dapat meningkatkan risiko efek samping (misalnya, gagal jantung, edema paru, hipertensi, diatesis hemoragik, varises esofagus). Sesuaikan besar pemberian status hemodinamik dan konsentrasi larutan; pantau secara ketat apabila diberikan dengan infus cepat. Hindari infus yang cepat pada pasien dengan riwayat penyakit kardiovaskular (dapat menyebabkan kelebihan sirkulasi dan edema pulmonal). Hentikan pada tanda-tanda awal dari overload kardiovaskular (misalnya, sakit kepala, dyspnea/sesak napas, distensi vena jugularis, rhonki, peningkatan abnormal pada tekanan darah vena sistemik atau sentral). Semua pasien harus diamati untuk tanda-tanda hipervolemia, seperti edema paru. Pantau selalu tekanan darah
  • Jangan mengencerkan Albumin dengan air steril untuk injeksi karena dapat menyebabkan hemolisis atau gagal ginjal akut.

Interaksi Obat

Beberapa obat-obat tertentu apabila dikonsumsi bersamaan atau berbarengan dengan obat lain akan dapat menimbulkan efek yang berbeda. Efek tersebut dapat berupa penambahan efek salah satu obat, penurunan efek salah satu obat, atau bahkan meningkatkan risiko munculnya efek samping obat. Efek ini disebut sebagai interaksi obat.

Albumin ditemukan tidak memiliki interaksi signifikan terhadap obat, makanan, etanol, tembakau, dan pemeriksaan laboratorium tertentu.

Penyimpanan

Albumin harus disimpan pada suhu ≤30°C. Jangan disimpan dalam freezer dan jangan dibekukan. Jangan menggunakan cairan jika tampak keruh dan mengandung beberapa deposit bekuan-bekuan. Harus digunakan dalam 4 jam setelah penutup vial dibuka.

 

Baca juga:

Gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk tanya dokter online yang siap 7×24 jam. Download aplikasi Go Dok di sini.

RE/PJ/MA

Referensi