7 Mitos dan Fakta Tentang Anak Bilingual

anak-bilingual go dokanak-bilingual go dok

Membesarkan anak dengan berkomunikasi menggunakan dua bahasa atau lebih kadang masih menjadi pro dan kontra. Ada yang bilang lebih baik anak diajarkan bahasa ibu saja, jangan dobel biar nggak bingung. Ada juga yang bilang mengajarkan dua bahasa alias bilingual bisa menyebabkan speech delay. Apa iya benar?

Nah, daripada kita bingung. Yuk, kupas mitos dan fakta seputar anak bilingual yang dipaparkan oleh beberapa ahli. Siapa tahu beberapa mitos ini juga sering Bunda dengar.

1. Kenalkan balita lebih dari satu bahasa sebabkan speech delay

Faktanya, perkembangan pra-bahasa pada anak sama dalam semua bahasa. Seperti anak-anak lain, kebanyakan anak bilingual mengucapkan kata-kata pertama mereka pada usia satu yaitu ‘mama ‘dan ‘dada’.

Pada usia dua tahun, kebanyakan anak bilingual dapat menggunakan frasa dua kata. Jadi perkembangannya sama dengan anak-anak yang hanya belajar satu bahasa.

Seorang balita bilingual mungkin mencampur bagian-bagian kata dari satu bahasa dengan bagian-bagian dari bahasa lain. Walaupun, saat anak bilingual orang lain mungkin lebih sulit memahami maksud anak tersebut. Hal itu bukan merupakan ciri dari speech delay.

Jumlah total kata (jumlah kata dari kedua bahasa yang dipelajari anak) harus sebanding dengan jumlah yang digunakan oleh seorang anak pada usia yang sama dengan satu bahasa.

2. Bicara dua bahasa sebabkan gangguan bicara

Faktanya, jika anak bilingual memiliki masalah bicara atau bahasa, itu akan muncul dalam kedua bahasa. Namun, masalah ini nggak disebabkan karena anak belajar dua bahasa. Bilingualisme hampir nggak pernah disebut sebagai penyebab gangguan bicara atau bahasa.

3. Mempelajari dua bahasa akan membingungkan anak

Faktanya, beberapa anak bilingual dapat mencampur aturan tata bahasa dari waktu ke waktu. Bisa juga, mereka mungkin menggunakan kata-kata dari kedua bahasa dalam kalimat yang sama misalnya ‘Aku mau orange’ alias ‘Aku mau jeruk’. Ini adalah bagian normal dari perkembangan bahasa bilingual dan tidak berarti anak kita bingung.

Biasanya pada usia 4 tahun, anak-anak dapat memisahkan bahasa yang berbeda tetapi mungkin masih bisa memadukan atau mencampur kedua bahasa dalam kalimat yang sama pada kesempatan tertentu. Mereka nantinya akan belajar memisahkan kedua bahasa dengan benar kok, Bun.

4. Anak-anak dengan gangguan bicara lebih sulit belajar bahasa kedua

Faktanya, anak-anak dengan gangguan bicara dan bahasa mungkin lebih sulit belajar bahasa kedua tetapi penelitian menunjukkan banyak yang berhasil juga melakukannya.

5. Anak bilingual akan memiliki masalah akademik

Faktanya, ada beberapa sekolah yang memfasilitasi anak-anak bilingual. Penelitian juga menunjukkan banyak keuntungan akademis bagi anak bilingual, termasuk pemecahan masalah yang superior dan keterampilan multitasking, serta peningkatan fleksibilitas kognitif.

6. Anak takkan lancar bicara bahasa kedua jika tidak belajar sejak dini

Faktanya, belajar bahasa yang ideal memang dimulai dari kecil tepatnya pada periode perkembangan otak yang paling cepat. Namun, anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa masih bisa fasih saat bicara bahasa kedua kok.

7. Anak nggak mahir dalam kedua bahasa, ia bukan anak bilingual

Faktanya, banyak anak bilingual memiliki bahasa yang dominan, yang dapat berubah seiring waktu tergantung pada seberapa sering bahasa digunakan. Anak-anak usia sekolah biasanya lebih suka bicara dengan bahasa mayoritas daripada yang diucapkan orang tuanya.

Hanya karena seseorang nggak mahir dalam kedua bahasa itu nggak berarti dia bukan anak bilingual. Penggunaan dan praktik komunikasi verbal secara teratur bersama dengan menulis dan membaca akan membantu anak-anak mempertahankan bahasa kedua mereka dalam jangka panjang.

Sumber: haibunda.com

Content partnerhaibunda.com