Waspadai! Bahaya Patah Hati Bagi Kesehatan

bahaya patah hati bagi kesehatan

GoDokBahaya Patah Hati Bagi Kesehatan – Ketika dilanda musibah, perpisahan, atau kehilangan orang tersayang, kebanyakan dari Anda akan merasakan sensasi patah hati, di mana rasa sedih yang besar datang dan mempengaruhi jiwa Anda. Tahukah Anda bahwa kondisi ini sebetulnya memiliki penjelasan ilmiah?

Kondisi ini ternyata pertama kali diteliti pada tahun 1991, di mana sebuah penelitian di Jepang menemukan Takotsubo Cardiomyopathy, yang juga dikenal dengan nama broken heart syndrome, alias sindrom patah-hati.  Kondisi ini antara lain ditandai dengan rasa nyeri pada dada dan sesak napas yang dipicu oleh pengalaman atau kejadian tragis dalam hidup Anda. Untuk lebih mengenalnya, yuk simak penjelasan berikut ini!

Broken heart syndrome

Sejatinya, broken heart syndrome adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan keluhan yang dirasakan ketika mengalami patah hati. Ketika Anda mengalami kondisi ini, akan terjadi pengembungan pada satu sisi jantung sehingga jantung berukuran tidak normal, karena adanya lonjakan hormon stres yang diakibatkan karena patah hati. Tentunya, hal ini akan membuat fungsi jantung terganggu dan hasilnya, jantung Anda tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya.  Kondisi jantung yang tidak normal inilah yang kemudian menyebabkan Anda merasa nyeri pada dada dan sesak napas. Gejala dari sindrom patah-hati ini sebenarnya cukup mudah diatasi, dan dalam beberapa hari atau minggu, kondisi Anda sudah akan kembali seperti biasanya. Dan pada jangka waktu tersebut, biasanya Anda sudah bisa move-on, kan?

(Baca: Tersenyumlah dan Rasakan Manfaatnya!)

Apa saja sih penyebabnya?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, broken heart syndrome disebabkan karena adanya peristiwa traumatis yang dialami seperti perpisahan atau kehilangan seseorang yang disayangi. Meskipun begitu, hingga saat ini para ahli kesehatan belum berhasil menemukan penyebab pasti maupun hubungan sindrom ini dengan patah hati. Pengaruhnya terhadap perubahan ukuran jantung menjadi abnormal pun belum ditemukan. Meskipun begitu, perlu Anda ketahui bahwa 75% dari keseluruhan kasus broken heart syndrome dialami oleh wanita dan hanya sisanya -sebanyak 25%- yang dialami oleh pria.

(Baca: Masih Jomblo? Ini Dia Cara Sederhana Jemput Jodoh)

Lalu, apa saja gejalanya?

Nah, harus Anda ketahui bahwa sindrom patah-hati ini memiliki gejala yang hampir sama seperti penyakit jantung, seperti :

  1. Dada terasa nyeri dan napas terasa sesak dan hal ini terjadi meskipun Anda tidak memiliki penyakit jantung dalam keluarga
  2. Ritme atau detak jantung menjadi tidak teratur
  3. Untuk beberapa kasus yang jarang sekali terjadi, rasa nyeri dan sesak bisa disertai dengan perasaan mual dan muntah
Lho, apa bedanya broken heart syndrome dengan penyakit jantung?

Nah, karena memiliki gejala-gejala yang hampir sama, banyak orang yang salah menduga dirinya terkena penyakit jantung. Jangan salah! Pemikiran tersebut tidaklah benar, sebab nyatanya broken heart syndrome memiliki gejala yang berbeda dengan penyakit jantung. Mereka yang mengalami broken heart syndrome memiliki arteri koroner normal, tanpa penyumbatan dan pengumpalan dan tidak memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga. Jantung menjadi bermasalah bukan karena sakit, melainkan karena munculnya hormon stres yang mempengaruhi kondisi emosional atau fisik Anda akibat terjadinya suatu peristiwa tragis.

(Baca: Ingin Jantung Sehat? Yuk, Hindari Kebiasaan Buruk Ini!)

Untuk lebih pastinya Anda bisa melakukan pemeriksaaan di rumah sakit. Dokter akan melakukan tes Elektrokardiogram (EKG) dengan mencatat aktivitas listrik jantung. Hasil dari EKG ini akan menentukan apakah Anda terkena penyakit jantung atau tidak. Selain itu, jika Anda maupun dokter Anda masih ragu, mungkin akan diperlukan pula pemeriksaan darah dan angiografi.

Dapatkah kondisi ini terulang kembali ?

Atau lebih tepatnya, bisakah Anda patah hati kembali? Hmmm.. Sejatinya, setiap orang memiliki kemungkinan 10% – 15% untuk kembali mengalami broken heart syndrome. Sindrom ini bisa  terjadi secara berulang, yang disebabkan karena hal-hal yang berbeda seperti patah hati, kehilangan seseorang yang dicintai karena musibah, perasaan tertekan, dan stres yang berlebihan.

Comments are closed.