Vaginosis Bakterialis; Penyebab, Gejala dan Penanganan

vaginosis bakterialis

 

 

Vaginosis bakterialis merupakan suatu kumpulan gejala-gejala klinis yang terjadi akibat bertambah banyaknya organisme atau bakteri di dalam vagina. Terjadinya penyakit ini terkait erat dengan pasangan seksual yang berganti-ganti, pasangan seksual baru, maupun riwayat penyakit menular seksual lainnya.

Go Dok- Vaginosis bakterialis Beberapa wanita, mungkin Anda salah satunya, seringkali mengabaikan kondisi di mana cairan keputihan keluar lebih banyak dari biasanya. Awas! Bisa saja, hal ini menandakan suatu penyakit, atau berkembangnya suatu bakteri di wilayah kemaluan Anda. Salah satu hal yang mungkin terjadi adalah vaginosis bakterialis. Penyakit apakah itu? Untuk lebih lengkapnya, mari simak penjelasan lengkap berikut ini.

Mengenal vaginosis bakterialis

Vaginosis bakterialis merupakan suatu kumpulan gejala-gejala klinis yang terjadi akibat bertambah banyaknya organisme atau bakteri di dalam vagina. Terjadinya penyakit ini terkait erat dengan pasangan seksual yang berganti-ganti, pasangan seksual baru, maupun riwayat penyakit menular seksual lainnya. Penyebab penyakit ini ialah Gardnerella vaginalis, suatu bakteri berbentuk batang yang dapat bertahan hidup baik dengan maupun tanpa oksigen. Organisme ini telah terbukti menyebabkan berbagai macam infeksi. Meski dapat menyebabkan berbagai infeksi pada manusia namun bakteri ini paling terkenal sebagai penyebab timbulnya penyakit vaginosis bakterialis .

Berdasarkan statistik yang ada, vpenyakit ini paling sering ditemukan pada perempuan dengan usia reproduktif, aktif secara seksual, dan sering ditemukan pada perempuan yang memeriksakan diri ke ahli reproduksi. Sebanyak 10-25% kasus ini telah dilaporkan terjadi pada mereka  yang pernah atau kerap memeriksakan dirinya kebagian ahli reproduksi.

Selain itu, penyakit ini juga diklaim sebagai penyebab keputihan yang paling umum ditemukan pada wanita usia reproduktif dengan statistik sebanyak  40%-50% kasus. Di Amerika Serikat sendiri, dari 3.378 wanita yang diperiksa, data statistik memperkirakan bahwa sebanyak 29% kasus ini terjadi pada mereka yang  berusia 14 sampai 49 tahun.

Penyebab

Penyakit ini terjadi akibat perubahan kelangsungan hidup mikrobiologis dalam vagina, di mana bakteri yang normal dalam vagina menjadi berkurang. Pada pemeriksaan mikroskopis, organisme penyebab penyakit ini seringkali dijumpai dalam wujud bakteri berbentuk batang.  Bakteri yang berbentuk batang pada penyakit ini contohnya adalah Gardnella spp. Jika sudah datang, mikroorganisme tersebut akan berkumpul dan membentuk suatu konfigurasi khas yang disebut sebagai clue cells. Selain pada vagina wanita, Gardnella spp dapat pula dijumpai pada sistem saluran urin pria. Meskipun demikian, mikroorganisme yang terdapat pada sistem saluran urin pria biasanya tidak akan menimbulkan gejala ataupun keluhan.

Faktor risiko

Aktivitas seksual merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit ini. Sebagian besar ahli juga percaya bahwa penyakit ini tidak akan terjadi pada wanita yang tidak aktif secara seksual. Hal ini juga didukung oleh studi epidemiologi mengenai penularan organisme  atau bakteri penyebabnya melalui hubungan seksual.

Selain wanita yang aktif secara seksual, faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini adalah adanya pasangan seksual baru, penggunaan antibiotik, kebiasaan merokok, serta kebiasaan membilas atau mencuci bagian kewanitaan dengan air maupun cairan pembersih.

Gejala

Sebanyak 50% – 75% perempuan yang mengalami penyakit ini umumnya tidak menunjukkan gejala ataupun keluhan apapun. Jikapun terdapat keluhan, umumnya adalah keluhan tentang adanya cairan yang secara tidak normal keluar dari vagina. Cairan yang keluar dari vagina juga disertai bau amis. Keluhan seperti gatal, sakit saat buang air kecil, dan nyeri pada kelamin justru jarang terjadi pada penderita. Umumnya, pasangan seksual atau suami seringkali mengeluhkan bau pada cairan yang keluar pada vagina. Penyakit ini dapat terjadi berulang karena bakteri dapat berkembangbiak dan bermultiplikasi.

Secara garis besar, berikut adalah tanda dan gejala yang dapat Anda temukan pada penderita penyakit ini :

  1. Peningkatan volume cairan keputihan yang keluar dari kewanitaan, biasanya ringan hingga sedang
  2. Bau amis.Kemungkinan hal ini lebih terasa setelah melakukan hubungan seksual dan selama menstruasi.
  3. Rasa gatal, sakit saat buang air kecil, dan nyeripada kelamin umumnya jarang terjadi. Jika timbul gejala seperti ini, maka hal ini menunjukkan keterlibatan infeksi campuran.
Diagnosis

Segera konsultasikan kepada dokter jika Anda mengalami keluhan yang serupa dengan gejala-gejala yang telah disebutkan sebelumnya, sehingga dapat diberikan terapi yang benar, sesuai, dan tepat. Dokter akan mendiagnosis penyakit ini dengan melakukan pendekatan diagnostik secara umum. Pada wanita, hal ini berarti cairan keputihan akan ditinjau secara khusus. Jangan lupa untuk mendiskusikan dengan dokter mengenai keluhan Anda secara mendetail mulai dari riwayat haid, riwayat hubungan seksual, penggunaan pembersih kewanitaan, penggunaan antibiotik, hingga kebiasaan merokok. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan di bagian kewanitaan anda.

Secara medis, terdapat beragam kriteria yang digunakan dokter untuk menegakkan diagnosisnya. Untuk itu, dokter umumnya akan melakukan pemeriksaan yang meliputi:

  1. Pemeriksaan pada temuan cairan vagina yang berwarna putih keabu-abuan.
  2. Pemeriksaan mikroskopis pada cairan vagina teridentifikasi clue cell
  3. Pemeriksaan terhadap bau amis  dengan larutan khusus
  4. Pemeriksaan pada derajat keasaman vagina, biasanya lebih dari 4.5

Setelah melakukan keempat langkah di atas, dokter juga akan melakukan pemeriksaan labratorium lainnya jika diperlukan. Setelah itu, Anda akan diberikan penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda pada waktu pemeriksaan.

Komplikasi

Berikut adalah beberapa penyakit atau kondisi turunan dari vaginosis bakterialis, yang dapat muncul jika  tidak cepat diatasi :

  1. Peningkatan risiko infeksi penyakit kelamin lainnnya
  2. Penyakit radang panggul
  3. Pada ibu hamil, penyakit ini dapatpula meningkatkan risiko persalinan prematur, bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, hingga infeksi cairan ketuban.
Pencegahan dan pengobatan

Untuk pencegahan penyakit ini, terdapat beberapa cara yang bisa Anda lakukan, antara lain :

  1. Tidak melakukan hubungan seksual hingga dinyatakan sembuh.
  2. Setia terhadapsatu
  3. Gunakan kondom. Beberapa studi telah membuktikan bahwa penggunaan kondom merupakan faktor pelindungutama dalam mencegah penularan penyakit ini.

Pengobatan yang diberikan akan disesuaikan dengan gejala yang timbul serta mengurangi gejala-gejala tersebut. Dalam hal ini, dokter akan memberikan terapi antimikroba yang sesuai untuk penyakit Anda. Jenis obat yag diresepkan dapat diberikan secara oral ataupun secara intravagina. Efektifitas dari kedua jenis obat tersebut sama, meskipun obat intravagina memiliki efek samping yang lebih sedikit.

Ingat, jangan pernah mencoba untuk mengobati diri sendiri, karena penggunaan antimikroba yang tidak sesuai hanya memperburuk keadaan Anda.

Itu dia serba-serbi vaginosis bakterialis yang harus Anda ketahu. Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari Smartphone. Download aplikasinya di sini.