Vaginitis; Penyebab, Gejala dan Penanganan

vaginitis
Vaginitis merupakan peradangan yang terjadi pada vagina. Kenali penyakit vaginitas serta penyebab, gejala dan penanganan vaginitis berikut ini

GoDokVaginitis Bagi para wanita, tentu saja kesehatan vagina selalu menjadi prioritas dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Karenanya, jika saja terdapat suatu keanehan atau hal yang tidak biasa pada area tersebut, Anda tentu bisa langsung mengetahuinya. Perhatikanlah, apakah terdapat perubahan warna pada keputihan Anda? Atau apakah area vagina terasa gatal dan nyeri saat buang air kecil? Jika iya, berhati-hatilah dan segera periksakan, sebab mungkin saja hal itu termasuk gejala vaginitis. Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Mengenal vaginitis

Vaginitis merupakan peradangan yang terjadi pada vagina –biasanya peradangan ini disertai juga dengan peradangan vulva -bagian luar vagina- yang disebut vulvovaginitis. Penyebab umum dari penyakit ini adalah adanya ketidakseimbangan antara jumlah mikroorganisme normal dengan mikroorganisme lainnya yang menyebabkan peradangan. Meskipun terdengar menakutkan, namun terkena vaginitis bukan merupakan akhir dari segalanya. Karena jika ditangani dengan tepat, penyakit ini sebenarnya bisa sembuh dalam waktu yang cukup singkat.

Epidemiologi

Umumnya, vaginitis terjadi pada wanita dewasa dan jarang terjadi pada perempuan yang belum mengalami pubertas, alias belum mengalami menstruasi. Presentase kejadian dari setiap tipe adalah sekitar 40-50% vaginosis bakterial, 20-25% kandidiasis vaginalis, dan 15-20% trikomoniasis. Secara usia, wanita yang sering terkena penyakit ini adalah wanita usia paruh baya dan wanita yang telah aktif secara seksual.

(Baca: Hii, Ngerinya Penyakit Menular Seksual!)

Penyebab

Peradangan pada vagina ini umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur atau virus. Harus Anda ingat bahwa tidak semua infeksi yang menyebabkan vaginitis merupakan Penyakit Menular Seksual (PMS), meskipun beberapa PMS memang dapat menyebabkan vaginitis. Selain itu, penyakit ini juga dapat disebabkan oleh menurunnya kadar estrogen setelah menopause. Bahan-bahan kimia yang terkandung dalam sabun maupun pakaian bisa saja menjadi penyebab dari peradangan ini. Penyebab dari terjadinya vaginosis dibedakan berdasarkan jenis vaginosis itu sendiri. Berikut adalah penjelasannya :

  • Vaginosis bakterial.disebabkan oleh ketidakseimbangan jumlah bakteri normal pada vagina. Bakteri yang memungkinkan hal ini terjadi antara lain adalah Gardnerella vaginalis, Mobiluncus sp., Mycoplasma hominis, dan Peptostreptococcus sp.
  • Infeksi jamur (kandidiasis vaginalis). Pada jenis ini, beberapa di antara penyebabnya adalah infeksi jamur Candida albicans, Candida tropicalis, Candida glabrata. Faktor risiko lain yang turut berperan dalam penularan infeksi ini termasuk penggunaan kontrasepsi oral, IUD, seks sejak usia dini, frekuensi berhubungan seks yang terlalu sering, dan penyakit lain yang menyertainya.
  • Trichomoniasis.Tipe ini disebabkan oleh adanya parasit pada vagina Anda dan biasanya menular melalui hubungan seksual.
  • Non-infeksius vaginitis. Tipe ini dapat disebabkan oleh penggunaan sabun khusus area kewanitaan yang beraroma dan mengandung detergen sehingga memicu terjadinya alergi/iritasi jaringan vulva dan vagina. Selain itu, penggunaan benda asing seperti tampon dan juga tisu yang mengandung parfum dapatmenjadi salah satu pemicunya.

Tubuh mempunyai mekanisme untuk tetap mempertahankan keseimbangan mikroorganisme (flora) yang terdapat di vagina; yang meliputi lactobacilli, corynebacteria, dan jamur. Namun, jumlah normal dari mikroorganisme  ini dapat berubah, karena beberapa faktor, seperti :

  • Umur
  • Aktivitas seksual
  • Perubahan hormon
  • Faktor kebersihan diri
  • Adanya penyakit kulit yang menyertai

 (Baca: 5 Cara Alami Untuk Atasi Keputihan)

Gejala

Beberapa tanda dan gejala yang dapat ditemukan  adalah :

  • Keputihan yang berubah warna (keputihan yang normal berwarna putih susu) dan berbau;

Umumnya, terdapat bau dan warna keputihan yang khas dari setiap tipe ini, seperti :

  • Vaginosis bakterial. Pada tipe ini dapat ditemukan keputihan berwarna abu-abu dan berbau busuk -sering digambarkan sebagai bau amis, dan umumnya ini timbul setelah melakukan hubungan seksual.
  • Infeksi jamur (kandidiasis vaginalis). Pada tipe ini, umumnya akan muncul rasa gatal pada daerah sekitar vagina dan bisa saja ditemukan keputihan yang menyerupai warna keju
  • Trichomoniasis. Pada tipe ini dapat ditemukan keputihan berwarna kuning kehijauan dan kadang disertai busa.
  • Vagina terasa gatal;
  • Nyeri saat berhubungan seksual
  • Nyeri saat berkemih;
  • Pendarahan pada vagina.
Diagnosis

Untuk memastikan vaginitis, dokter perlu melakukan beberapa pemeriksaan, seperti :

  • Bertanya mengenai riwayat penyakit sebelumnya –termasuk riwayat aktivitas seksual yang pernah Anda lakukan.
  • Pemeriksaan duh tubuh, di mana dokter akan mengambil sampel dari duh/keputihan pada vagina sehingga dapat diteliti lebih lanjut penyebab dari vaginitis yang Anda alami.
  • Pemeriksaan pelvic. Dalam pemeriksaan ini, dokter akan menggunakan spekulum untuk melihat apakah vagina Anda mengalami inflamasi dan terdapat keputihan yang abnormal.
Penanganan

Penanganan umumnya beerbeda dan dilakukan berdasarkan tipe vaginitis yang Anda derita agar penyembuhannya dapat bekerja lebih spesifik.

  • Vaginosis bakterial dan trikomoniasis. Untuk tipe ini, dokter akan memberikan obat antibiotik –dapat berupa obat oral (minum) maupun gel/cream yang nantinya dioleskan pada vagina Anda. Biasanya, dokter akan melakukan tes khusus terlebih dahulu sebelum memberikan antibiotik ini, karena tidak jarang dalam beberapa kasus, antibiotik dapat menyebabkan alergi.
  • Infeksi jamur (kandidiasis vaginalis). Untuk tipe ini, dokter akanmemberikan antifungal –baik berupa obat oral (minum), krim, maupun supposutoria (obat yang dimasukkan langsung ke dalam vagina).
  • Non-infeksius vaginitis.Untuk pengobatan tipe ini, Anda perlu menghindari hal-hal yang menjadi penyebab terjadinya vaginitis.

(Baca: Pap Smear; Prosedur Medis untuk Tes Kanker Serviks)

Prognosis dan komplikasi

Secara umum, prognosis -kemungkinan untuk sembuh- dari penyakit ini tergolong dubia ad bonam (baik). Namun, infeksi vagina dapat  terjadi berulang kali apabila tidak diatasi dengan tepat dan cepat. Vaginitis yang tidak diatasi dengan cepat dan tepat dapat menjadi “perantara” bagi terjadinya penyakit menular seksual –termasuk HIV. Selain itu, apabila tidak ditangani secara tepat dan cepat, penyakit ini dapat menyebabkan terjadinya endometritis dan pelvis inflammatory disease (PID), kelahiran prematur, dan berat bayi lahir rendah (BBLR).

Nah, itu tadi gejala dan pengobatan dar vaginosis yang harus Anda ketahui. Semoga bermanfaat!