Tuberkulosis; Gejala, Penyebab, Pencegahan dan Penanganan

tuberkulosis
Tuberkulosis (TB) merupakan suatu penyakit menular yang menyerang paru-paru dan tak menutup kemungkinan organ tubuh lainnya, seperti otak, tulang dapat terinfeksi.

GoDok – Tuberkulosis – Hari ini, 24 Maret, diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia, lho. Tahukah Anda bahwa pada tahun 2015, 10.4 juta penduduk dunia terinfeksi penyakit ini, dan 1,8 juta di antaranya meninggal dunia? Ya, tuberkulosis memaang masih menjadi salah satu penyakit yang ditakuti masyarakat dunia. Bahkan menurut WHO, penyakit ini merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian di seluruh dunia. Salah satu penyebab tingginya angka infeksi dan kematian ini adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala dan pengobatan tuberkulosis.

Nah, agar Anda tidak menjadi salah satu yang buta tentang penyakit ini, yuk kenali Tuberkulosis melalui artikel berikut ini!

Mengenal tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) merupakan suatu penyakit menular yang menyerang paru-paru dan tak menutup kemungkinan organ tubuh lainnya, seperti otak, tulang dapat terinfeksi. Sekitar 95% kematian akibat TB terjadi pada negara berkembang dan 60% di antaranya terjadi di 6 negara; salah satunya adalah Indonesia.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada tahun 2015, proposi pasien TB diketahui mengalami peningkatan dari tahun 2013 (13%) hingga tahun 2015 (14%). Padahal, pada tahun-tahun setelah 2013, persentase ini cenderung menurun dan hanya melonjak naik di tahun 2015.

Gejala

Umumnya bakteri TB berkembangbiak di paru-paru. Gejala yang dapat ditimbulkan antara lain :

  • Batuk ≥ 3 minggu
  • Nyeri dada
  • Batuk disertai dahak dan/atau darah
  • Demam
  • Berat badan turun tiba-tiba
  • Nafsu makan menurun
  • Keringat malam (bukan karena udara yang panas)
Penyebab

Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri yang bernama Mycobacterium tuberculosis. Sama seperti penyakit flu, bakteri ini dapat menular melalui udara (droplet). Ketika penderita TB batuk, tertawa, bernyanyi, bahkan berbicara, bisa saja bakteri yang menyebabkan TB menyebar melalui udara. Namun, tidak semudah itu terkena penyakit TB ini. Biasanya, yang berisiko tertular adalah mereka yang sangat dekat dan terus menerus kontak langsung dengan penderita TB. Jadi, bisa disimpulkan bahwa Anda tidak akan langsung tertular dengan penyakit TB melalui berjabat tangan maupun dengan berbagi makanan atau minuman.

Faktor Resiko

Benteng utama tubuh agar terhindar dari infeksi bakteri TB adalah sistem imun yang sehat. Karenanya, mereka yang memiliki sistem imun tubuh lemah –seperti penderita HIV/AIDS, diabetes, malnutrisi, serta pasien terapi kanker- sangat rentan terkena penyakit ini. Bahkan, pada mereka penyakit ini dapat berkembang hanya dalam hitungan hari ataupun minggu setelah terinfeksi. Sebaliknya, pada orang dengan sistem imun yang sehat, penyakit ini membutuhkan waktu bulanan bahkan tahunan untuk berkembang setelah terinfeksi. Infeksi bakteri ini akan menunggu hingga suatu saat sistem imun tubuh melemah dan tidak mampu lagi melawan bakteri ini.

(Baca: Anda Menderita Diabetes? Berikut Makanan yang Dapat Anda Konsumsi)

Selain itu, bayi dan anak-anak (terutama usia di bawah 5 tahun) juga rentan terhadap penyakit ini karena sistem imun yang belum sempurna. Petugas kesehatan yang terus-menerus kontak dengan penderita TB juga mempunyai risiko yang tinggi.

Oleh sebab itu, terdapat istilah TB aktif dan TB laten. Berikut penjelasannya :

1. TB Aktif

Tipe penyakit TB ini terjadi ketika bakteri penyebab TB berkembangbiak dalam paru-paru Anda dan menimbulkan gejala-gejala umum TB sehingga infeksi bakterinya dapat tertular ke orang lain. Selain di paru-paru, bakteri ini dapat menyerang dan berkembang biak pada organ tubuh lain seperti otak, tulang, kelenjar getah bening, dan bahkan kulit. Hal ini terjadi karena bakteri TB berpindah melalui sistem pembuluh darah maupun sistem limfatik.

2. TB Laten

Sementara itu, yang dimaksud TB Laten adalah ketika bakteri TB ada di dalam tubuh Anda, namun tidak aktif karena Anda memiliki sistem imun yang sehat. Dalam tahap ini, umumnya gejala tidak timbul dan Anda tidak berisiko menularkan penyakit ini ke orang lain. Meskipun begitu, bakteri tetap ada di dalam tubuh Anda untuk menunggu kesempatan untuk menjadi aktif ketika sistem tubuh Anda melemah.

(Baca: 6 Cara Sederhana Mengatasi Sakit Tenggorokan)

Diagnosis

Sebelum dokter menentukan apakah Anda terinfeksi tuberkulosis atau tidak, umumnya akan dilakukan pemeriksaan, yaitu :

– Pemeriksaan dahak

Tenaga medis akan memeriksa dahak Anda dengan cara mengambil sampelnya sebanyak 3x (SPS), yaitu :

1. Pemeriksaan dahak sewaktu kunjungan (Sewaktu),

2. Pemeriksaan dahak esok paginya (Pagi), serta

3. Pemeriksaan saat mengantarkan dahak pagi (Sewaktu)

– Pemeriksaan radiologi

Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah rontgen dada. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah ada gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi TB, baik lesi TB aktif maupun lesi TB inaktif.

– Uji tuberkulin (Tes Mantoux)

Umumnya, uji tuberkulin (yang lebih dikenal dengan istilah tes mantoux) dilakukan pada anak-anak. Tes ini dikatakan positif apabila dalam 48-72 jam muncul bula (benjolan kecil) dengan diameter lebih dari 5 mm.

(Baca: Gejala dan Pencegahan Sariawan di Tenggorokan)

Komplikasi

Pada pasien TB, dapat terjadi beberapa komplikasi. Hal ini dapat terjadi sebelum penanganan, dalam masa penanganan maupun setelah selesai penanganan. Beberapa komplikasi yang dapat timbul antara lain efusi pleura, gagal napas, pneumotoraks, dan lain-lain.

Penanganan

Harus Anda pahami bahwa penyakit ini dapat ditangani dan juga disembuhkan. Namun, kesembuhan ini juga memerlukan kepatuhan penderita TB dalam mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter. Apabila tidak patuh, bakteri yang ada di dalam tubuh akan segera menjadi kebal terhadap obat TB (Multidrug resistant tuberculosis-MDR TB). Hasilnya, tenaga medis kemudian akan mempertimbangkan untuk menambah/mengganti jenis obat sehingga masa pengobatan pun menjadi lebih lama.

Sejatinya, terdapat beberapa obat yang digunakan untuk penanganan tuberkulosis. Obat-obatan tersebut dikenal dengan nama OAT (Obat Anti Tuberkulosis), yang terdiri atas Isoniazid, Rifampisin, Piranizamid, Etambutol. Tentu saja untuk mendapatkan obat-obat ini perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan petugas kesehatan agar dosis dan aturan minum dari obat ini sesuai dengan yang dianjurkan. Obat-obatan ini tersedia dalam kemasan tunggal (dijual terpisah) dan juga kemasan kombinasi (Fixed Dose Combination-FDC).

Pengobatan dengan cara ini terbagi menjadi 2 fase, yaitu fase intensif (berlangsung 2-3 bulan) dan fase lanjutan (berlangsung 4 atau 7 bulan). Saat menggunakan obat-obatan tersebut, Anda tidak akan terlepas dari efek samping, berupa mual, nyeri sendi, kesemutan, warna kemerahan pada air seni.

Sesuai dengan strategi yang direkomendasikan oleh WHO, saat ini fasilitas kesehatan sudah menerapkan sistem DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) dalam penanganan TB. Dengan adanya strategi ini, diharapkan TB dapat diatasi dengan tepat. Berdasarkan data WHO, sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2015, sekitar 49 juta jiwa dapat di “selamatkan” karena diagnosis dan pengobatan TB.

(Baca: 6 Warna Urin Pengungkap Kesehatan Anda)

Pencegahan

Tidak hanya pengobatan, penderita TB pun perlu memperhatikan beberapa hal  agar tidak dengan mudah menularkan penyakitnya. Sebagai tidak pencegahan,  penderita TB dianjurkan menggunakan masker/menutup mulut dengan tisu saat batuk/bersin. Selain itu, sebisa mungkin hindari pula kontak dekat dan terus-menerus dengan orang lain. Hal lain yang harus diperhatikan oleh penderita TB adalah sirkulasi udara di ruangan tempat tinggalnya agar tidak lembap.

(Baca: Jangan Tertipu! Ini Cara Pemakaian Masker Hidung yang Tepat)

Sejatinya, penyakit tuberkulosis dapat diobati dan disembuhkan. Untuk mencapai kesembuhan, kenali gejala TB sedini mungkin, ikuti prosedur pemeriksaan yang berlaku, dan patuh minum obat.

Semoga bermanfaat.

Comments are closed.