Tinea Kruris; Gejala, Penyebab, dan Penanganan

tinea cruris

Tinea cruris merupakan salah satu jenis dari dermatofitosis, atau infeksi jamur dermatofita, yang memiliki sifat mencerna keratin yang terdapat pada permukan kulit, rambut, maupun kuku.

Go Dok- Pernahkah Anda mendengar penyakit tinea cruris? Kondisi kulit dengan bercak kemerahan ini adalah penyakit yang sering terjadi, namun di Indonesia masih banyak yang tidak mengetahuinya. Lantas, bagaimana cara menanganinya? Simak pemaparan melalui artikel khas Go Dok berikut ini!

Mengenal Tinea cruris

Tinea cruris merupakan salah satu jenis dari dermatofitosis, atau infeksi jamur dermatofita, yang memiliki sifat mencerna keratin yang terdapat pada permukan kulit, rambut, maupun kuku. Berdasarkan lokasinya, dermatofitosis dibagi menjadi:

  1. Tinea kapitis, dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala.
  2. Tinea barbae, dermatofitosis pada dagu dan jenggot.
  3. Tinea kruris, pada daerah genitokrural(kelamin dan lipat paha), sekitar anus, bokong, dan perut bagian bawah.
  4. Tinea pedis et manum, pada kaki dan tangan.
  5. Tinea unguium, pada kuku jari tangan dan kaki.
  6. Tinea korporis, pada bagian lain yang tidak disebutkan di atas. Bila terjadi di seluruh tubuh disebut dengan tinea imbrikata.

Penyakit ini merupakan jenis dermatofitosis kedua yang paling sering terjadi, terutama di negara berkembang yang memiliki iklim tropis. Tinea cruris 3 kali lebih banyak ditemukan pada pria dibanding wanita, dan jarang menginfeksi anak- anak. Namun, jika terbukti menderita obesitas, anak remaja dan dewasa muda tetap tidak terhindar dari penyakit kulit yang satu ini.

Gejala

Pada penderita Tinea cruris terdapat beberapa gejala yang tampak, seperti bercak merah bersisik yang gatal pada lipatan paha, daerah sekitar kelamin, bokong, maupun anus. Umumnya, penderita mengatakan bahwa bercak yang terbentuk awalnya kecil dan berwarna kemerahan. Kemudian, bercak perlahan semakin membesar dan membentuk lingkaran dengan warna kemerahan hanya pada bagian tepi. Ketika pasien berkeringat dan saat malam menjelang tidur, bercak terasa semakin gatal.

Penyebab

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi jamur Trichophyton rubrum dan Epidermophyton floccosum. Namun, pada beberapa kasus, tinea cruris juga disebabkan oleh jamur lain, seperti Trichophyton mentagrophytes dan Trichophyton verrucous.

Cara penularannya juga beragam, seperti infeksi menular yang dibawa oleh fomites (benda pembawa infeksi, seperti handuk dan seprai kamar tidur hotel), atau oleh autoinoculation; penularan sendiri dari jamur yang sebelumnya sudah menginfeksi tangan atau kaki.

Ketika menginfeksi kulit, jamur ini menghasilkan keratinase yang bertahan hidup dengan cara mencerna keratin pada kulit. Umumnya, sistem kekebalan tubuh individu dapat mencegah infeksi lebih dalam dan luas. Namun, pada pasien dengan HIV, infeksi dapat meluas karena sistem kekebalan tubuh tidak dapat bekerja secara optimal.

Faktor Risiko

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang berisiko besar terjangkit penyakit ini, yaitu:

  • Lingkungan yang lembap dan panas
  • Penyakit menurunnya sistem kekebalan tubuh (HIV)
  • Obesitas
  • Diabetes Melitus
  • Penggunaan pakaian yang lembap dan/atau ketat
  • Higientias pribadi yang buruk.
Diagnosis & Pemeriksaan

Untuk mendiagnosa penyakit ini, dokter akan melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Bila diperlukan, dokter juga akan melakukan pemeriksaan mikroskopis dengan preparat KOH untuk menemukan hifa panjang dan artrospora. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil sedikit lapisan kulit yang berpenyakit menggunakan kaca preparat. Kemudian, sampel akan ditetesi larutan KOH sehingga dapat diobservasi di bawah mikroskop.

Penanganan

Berikut pengobatan tinea cruris yang umum dilakukan:

1. Menghilangkan faktor risiko

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan faktor risiko terlebih dahulu agar pengobatan efektif dan efisien. Contohnya adalah dengan menjaga kebersihan diri, menghentikan kebiasaan memakai handuk/pakaian secara bersamaan, dan biasakan mengganti pakaian yang sudah basah atau berkeringat.

2. Pemberian salep

Untuk meredakan bercak kemerahan tinea cruris, dokter biasanya akan meresepkan beragam jenis obat jamur oles, seperti krim Klotrimazol, Mikonazol, atau Terbinafin yang diberikan hingga lesi hilang. Pengobatan dilanjutkan 1-2 minggu kemudian pada daerah yang sama untuk mencegah kambuh.

3. Obat minum

Khusus untuk kasus tinea cruris yang tersebar luas dan resisten terhadap terapi topikal, dilakukan pengobatan sistemik dengan obat jamur minum, seperti Griseofulvin; atau golongan azol, seperti Ketokonazol, Itrakonazol, atau Terbinafin. Biasanya, obat ini diminum selama 10-14 hari pada pagi hari setelah makan.

Komplikasi

Penyakit ini jarang menimbulkan komplikasi. Namun,  akan susah disembuhkan apabila daerah lipatan paha tidak dijaga untuk tetap kering. Apabila penyakit tidak sembuh dalam waktu 10-14 hari, maka segera konsultasikan diri Anda ke dokter spesialis untuk dicari lebih jauh penyebabnya.

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari Smartphone. Download aplikasinya di sini.

NY/PJ/MA

Referensi