Tension Headache; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Tension Headache

Tension headache atau Tension Type Headache (TTH), atau dikenal pula sebagai sakit kepala tipe tegang, merupakan sakit kepala pada seseorang yang umumnya terhubung dengan peningkatan stres.

GoDok- Tension Headache – Pernahkah Anda merasakan sakit pada kepala, padahal sebelumnya tidak merasa sakit sama sekali? Coba perhatikan gaya hidup Anda! Jika Anda termasuk salah satu yang kerap merasa stres, depresi, dan terlalu banyak bekerja tanpa istirahat, bisa jadi yang Anda derita adalah tension headache. Penyakit apa itu? Dan bagaimana cara pencegahan serta penanganannya? Agar lebih jelas, mari simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Mengenal tension headache

Tension headache atau Tension Type Headache (TTH), atau dikenal pula sebagai sakit kepala tipe tegang, merupakan sakit kepala pada seseorang yang umumnya terhubung dengan peningkatan stres. Tension headache ditandai dengan nyeri pada kedua sisi kepala yang disertai sensasi menekan, mengikat, dan tidak terasa berdenyut. Selain itu,penyakit ini tidak akan dipengaruhi atau diperburuk oleh aktivitas yang berlangsung selama 30 menit hingga 7 hari ke depan. Intensitasnya berkisar antara ringan hingga sedang, dan dapat pula timbul rasa nyeri pada mata akibat rangsangan cahaya maupun sakit kepala akibat rangsangan suara.

Penyakit ini dapat menjadi lebih berat jika dibiarkan terus-menerus. Sebab, terdapat hubungan yang erat antara sakit kepala tipe tegang dengan kontraksi otot leher dan kulit kepala Anda. Meski begitu, umumnya penyakit ini bukan merupakan ancaman kesehatan yang serius jika dilakukan pengobatan dan pemeliharaan kondisi tubuh yang baik dan benar dengan segera.

Berdasarkan data secara global, sebanyak 93% pria dan 99% wanita dari keseluruhan populasi dunia pernah mengalami sakit kepala. Diprediksi pula bahwa sebanyak 1.4 milyar populasi dunia mengalami sakit kepala tipe tegang (20.8% dari populasi dunia). Secara umum, penyakit ini dapat menyerang individu pada semua usia. Meski begitu, berdasarkan data yaang ada, usia 25-30 tahun paling banyak terkena penyakit ini dan risikonya akan meningkat pada usia 30-40 tahun. Sakit kepala tipe tegang umumnya lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria, dengan perbandingan 5:4. Selain itu, dilaporkan 1 dari 3 kasus sakit kepala tegang yang menetap memiliki gejala depresi.

Penyebab

Tidak ada penyebab yang cukup spesifik mengenai penyakit ini. Dahulu, penyakit ini diduga disebabkan oleh kontraksi otot. Namun, teori ini menghilang seiring dengan tidak adanya penelitian yang lebih lanjut untuk memastikan. Akan tetapi, para ahli memprerdiksi bahwa sebagian kasus kondisi ini dipicu oleh stres yang dialami dari pekerjaan, sekolah, maupun masalah dalam  hubungan sosial lainnya.

Berikut ini adalah beberapa faktor dan hal yang dapat memicu terjadinya sakit kepala tipe tegang :

  1. Kurang istirahat akibat bekerja tidak kenal waktu
  2. Postur tubuh yang tidak baik
  3. Stres, emosional, maupun depresi
  4. Kondisi tubuh yang lelah
  5. Rasa cemas
  6. Kurang berolahraga
  7. Kondisi lapar atau kekurangan cairan
  8. Penggunaan obat analagesik bebas (tanpa resep dokter)
Gejala

Sakit kepala tipe tegang umumnya berlangsung 30 menit hingga 7 hari. Gejala ini dapat hilang timbul serta datang berulang pada kedua sisi kepala Anda. Hal ini dideskripsikan oleh penderitanya sebagai nyeri tumpul yang menetap dan melibatkan otot leher. Secara garis besar, tanda dan gejala dari sakit kepala tipe tegang adalah :

  1. Nyeri kepala dirasakan terus-menerus maupun hilang timbul
  2. Nyeri kepala digambarkan seperti kepala berat, pegal, rasa kencang mupun tegang pada bagian leher
  3. Nyeri ini berulang hingga 10 kali
  4. Timbul rasa tertekan, tidak enak, atau berat pada kedua sisi kepala, biasanya tidak disertai dengan  rasa berdenyut.
  5. Intensitasnya ringan atau sedang
  6. Tidak diperberat oleh aktivitas seperti berjalan atau naik tangga
  7. Tidak terdapat mual atau muntah.
  8. Dapat disertai dengan rasa malas makan, sensasi nyeri pada mata saat terpapar cahaya, maupun rasa tidak nyaman karena rangsangan suara.

Sakit kepala yang dialami penderita dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih buruk. Jika sudah berlangsung selama 15 hari dalam satu bulan atau minimal 6 bulan, sakit kepala yang dialami sudah termasuk sakit kepala tipe tegang kronis.

Diagnosis

Sakit kepala tipe tegang dapat dengan mudah dikenali. Dalam proses diaagnosis, dokter umumnya akan menanyakan beberapa hal terkait sakit kepala yang Anda alami. Selama proses tersebut, diskusikanlah dengan dokter Anda mengenai sensasi, frekuensi, intensitas, bagian kepala yang terasa sakit, pola makan sehari-hari, hingga pengobatan yang sudah Anda dapat. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik yang meliputi pemeriksaan tekanan darah hingga neurologis. Jika dibutuhkan, dokter juga akan memeriksa tekanan bola mata Anda untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang serius.

Untuk pencegahan ke arah yang lebih parah atau serius, segera konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami sakit kepala tipe tegang lebih dari 7 hari, sehingga dapat dilakukan terapi yang baik dan sesuai.

Pencegahan dan Pengobatan

Beberapa langkah atau tindakan dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya sakit kepala tegang. Langkah-langkah tersebut antara lain adalah :

1. Terapkan gaya hidup sehat setiap hari.

Gaya hidup sehat yang dimaksud adalah berolahraga, menjaga pola makan, menjaga berat badan ideal, memperbaiki postur tubuh, istirahat yang cukup, minum sesuai dengan kebutuhan tubuh, serta berhenti merokok dan mengonsumsi minuman berakohol.

2. Hindari faktor pemicu yang menstimulasi sakit kepala tipe tegang.

Faktor pemicu sakit kepala tegang yang paling utama adalah rasa stres. Hindari stres dan rasa cemas, serta kontrol emosi Anda. Jika dapat melakukannya, maka akan semakin kecil kemungkinan Anda terserang penyakit ini. Selain itu, Anda dapat pula melakukan relaksasi untuk diri guna mengurangi rasa stres yang Anda hadapi seperti pijat maupun meditasi.

3. Hindari penggunaan obat analgesik berlebihan.

Penggunaan obat analgesik secara berlebihan terbukti dapat meningkatkan risiko seseorang terkena tension headcahe. Penderita yang mengonsumsi obat analgesik bebas (tanpa resep dokter) memiliki risiko lebih besar untuk berkembangnya sakit kepala tegang menjadi kronis. Karenanya, Anda perlu membatasi konsumsi obat, dengan hanya mengonsumsinya sebanyak 2 kali seminggu untuk mencegah berkembangnya sakit kepala yang Anda alami agar tidak menjadi lebih berat.

4. Penggunaan obat analgesik yang benar dan teratur.

Setelah melakukan diagnosis, dokter akan meresepkan obat analgesik kepada Anda.  Aturan penggunaan obat biasanya sudah terdapat pada resep yang dokter tulis. Tercacat sebanyak 44% kasus Tension Type Headache kronis mengalami perbaikan yang signifikan dengan mengikuti pengobatan rutin yang baik dan benar.

Nah, itu dia serba-serbi penyakit tension headache yaang harus Anda ketahui. Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari Smartphone. Download aplikasinya di sini.