Sunat Saat Bayi, Kenapa Tidak?

GoDok – Bagi orang Indonesia, istilah sunat pastinya sudah tidak asing lagi di telinga. Prosedur medis yang dilakukan dengan membersihkan serta menghilangkan kulup di ujung penis ini bertujuan untuk mengurangi risiko timbulnya infeksi kuman serta bakteri pada penis.

Lengkapnya, sunat dilakukan untuk….

Sebelum menginjak pada pembahasan mengenai sunat secara lebih mendalam, Anda perlu mengetahui terlebih dahulu apa itu smegma. Smegma merupakan istilah yang merujuk pada zat berwarna putih dan kental yang mengandung sisa sel-sel kulut mati. Nah, biasanya, smegma dapat ditemukan di kulup penis, terutama bagian bawahnya. Jika tidak dibersihkan, zat ini akan menumpuk dan memicu beberapa komplikasi, seperti timbulnya bau tidak sedap serta infeksi kuman dan bakteri.

Demi menghindari kemungkinan terburuk dari penumpukan smegma, maka prosedur sunat perlu dilakukan. Bagi para pria, ini dia beragam manfaat sunat bagi kesehatan yang harus Anda ketahui:

  1. Menurunkan risiko infeksi saluran kemih.
  2. Menurunkan risiko terpapar PenyakitMenular Seksual (PMS), seperti gonore dan HIV. Namun bukan berarti Anda dapat berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan, ya!
  3. Menurunkan risiko terkena kanker penis
  4. Mencegah timbulnya penyakitbalanitis (peradangan glans penis) dan balanoposthitis (peradangan kepala penis dan kulup).

Jika para pria ditanya, apakah disunat itu sakit atau tidak; maka, jawabannya pasti ‘iya’. Memang, pasca disunat, bagian penis akan terasa tidak nyaman sebab ujung penis yang terasa sakit, kemerahan, bengkak, hingga mengeluarkan kerak bewarna kuning. Namun, kondisi ini hanya akan berlangsung selama 10 hari, kok! Dan setelahnya, penis akan kembali normal seperti sedia kala.

(Baca: Sudahkah Anda Dikhitan? Ini Dia 4 Manfaat Utamanya)

Jadi, kapan sebaiknya sunat dilakukan?

Di Indonesia, praktik sunat biasanya dilakukan ketika anak laki-laki mencapai umur 5-7 tahun. Alasannya tidak lain karena di rentang usia tersebut, anak dianggap lebih mampu menahan nyeri. Namun, tahukah Anda, bahwa para ahli justru menyarankan sunat dilakukan sejak anak masih berusia bayi?

Ya, para ahli medis menyarankan waktu terbaik untuk melakukan sunat adalah tujuh hari sampai dengan tiga bulan setelah bayi lahir. Alasannya adalah teknik yang diberikan ketika melakukan sunat pada bayi menggunakan teknik yang lebih sederhana dibandingkan dengan sunat yang dilakukan ketika usia dewasa. Selain itu, luka pasca sunat pada bayi juga akan sembuh dengan lebih cepat sebab gerakan tubuh bayi masihlah sangat terbatas.

Justru, sunat yang dilakukan ketika anak memasuki usia sekolah dikhawatirkan akan membuatnya trauma. Penyebabnya tidak lain karena di usia tersebut, anak sudah bisa merasakan rasa sakit, nyeri, dan ngeri ketika disunat. Nah, perasaan inilah yang ditakutkan banyak pihak dapat menyebabkan trauma tersendiri bagi anak hingga ia dewasa kelak.

Selain itu, anak di usia sekolah dianggap sedang berada dalam fase di mana tubuh bergerak dengan lincah dan aktif. Akibatnya, sunat di umur ini akan membuat proses penyembuhan luka berjalan dengan lambat. Bahkan, anak akan lebih rentan mengalami pendarahan sebab luka sunat yang tidak kunjung kering.