Skizofrenia; Gangguan Psikologis Pemicu Apatis!

skizofrenia
Skizofrenia dapat dipahami secara awam sebagai kondisi psikologis yang membuat penderitanya sering mengalami halusinasi, delusi, dan gangguan pikiran serta perilaku yang membuat mereka tidak bisa berfungsi sebagai individu sosial yang utuh

GoDok – Skizofrenia – Seperti yang telah Anda ketahui, otak merupakan organ penting dalam tubuh yang mengendalikan pikiran dan perilaku. Lantas, apa jadinya jika otak terganggu fungsi dan kinerjanya? Bisa jadi, individu terkait akan didiagnosa menderita skizofrenia. Apa itu, dan bagaimana cara menanganinya? Cari tahu lewat penjelasan lengkap berikut ini!

Apa itu skizofrenia?

Berasal dari bahasa Yunani -yaitu ‘skizhein’ (membelah) dan ‘phren’ (ingatan)-, skizofrenia dapat dipahami secara awam sebagai kondisi psikologis yang membuat penderitanya sering mengalami halusinasi, delusi, dan gangguan pikiran serta perilaku yang membuat mereka tidak bisa berfungsi sebagai individu sosial yang utuh.

Menurut data yang diambil dari Kemenkes, pada tahun 2014 tercatat 400 orang warga Indonesia menderita gangguan psikologis ini. Lebih lanjut, diketahui pula bahwa mereka yang berumur 15-35 tahun terbukti lebih rentan terkena gangguan psikologis ini. Lantas, apa saja faktor yang membuat seorang individu lebih rentan terkena gangguan psikologis ini dibanding orang kebanyakan? Ini dia poin lengkapnya:

  1. Terbukti bahwa orangtua yang memiliki riwayat skizofrenia berisiko lebih besar menurunkan penyakit ini ke anak atau cucunya.
  2. Kelainan pada struktur dan hormon otak. Ternyata, kebanyakan kasus ini dipicu oleh kelainan pada struktu otak. Selain itu, kondisi ini juga bisa dipicu oleh ketidakseimbangan jumlah hormon dopamin dan serotonin -dua jenis hormon yang bekerja sebagai neurotransmitter (pengantar pesan antar neuron).
  3. Lahir dalam keadaan prematur. Selanjutnya, gangguan psikologis ini juga dapat menimpa mereka yang terlahir dalam keadaan prematur; atau terbukti kekurangan nutrisi dan terpapar racun/virus saat masih di dalam kandungan.
  4. Punya penyakit autoimun. Pada beberapa kasus, gangguan psikologis ini terbukti dapat menimpa mereka yang menderita penyakit autoimun.
  5. Penggunaan obat-obatan terlarang. Terakhir,  dapat menimpa mereka yang menyalahgunakan penggunaan obat-obatan terlarang, seperti kokain, amfetamin, dan ganja.  

Jika faktor-faktor di atas terbukti menimpa seseorang, maka ia berisiko besar akan terkena skizofrenia di masa yang akan datang. Apalagi jika ia mengalami stres berat akibat pekerjaan atau hubungan yang kandas, maka skizofrenia akan muncul lebih cepat dari perkiraan semula.

Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi skizofrenia?

Perlu diketahui bahwa skizofrenia merupakan jenis gangguan psikologis yang tidak dapat disembuhkan secara total. Tenang! Faktanya, beberapa gejalanya dapat ditangani dengan beberapa alternatif pengobatan, seperti:

1. Terapi kognitif

Alternatif pengobatannya yang pertama adalah dengan menjalani terapi kognitif bersama psikiater. Meskipun tidak bisa menyembuhkan gangguan pasikologis ini secara total, namun terapi kognitif terbukti dapat memperbaiki cara dan pola pikir penderitanya agar mereka dapat beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar seperti sedia kala.

2. Terapi obat antineurotik

Selanjutnya, penderita gangguan ini juga dapat ditolong dengan penggunaan obat antineurotik. Biasanya, jenis obat-obatan yang diresepkan ditujukan untuk mengurangi frekuensi munculnya halusinasi, delusi, dan paranoid.

Itu tadi sekelumit penjelasan mengenai skizofrenia. Jika ada kerabat atau sahabat yang terbukti menderita gangguan ini, maka tolong mereka dengan turut memberikan dukungan moral. Semoga bermanfaat!

Atasi permasalahan kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk tanya jawab seputar penanganannya dengan Tim Dokter Go Dok. Download aplikasinya di sini.